sukabumiheadline.com – Sejumlah wilayah di Indonesia disebut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mulai memasuki musim kemarau 2026. BMKG juga memprediksi musim hujan 2026 akan berakhir secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia.
Untuk kawasan selatan seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, puncak musim hujan diperkirakan mulai usai pada Februari hingga Maret.
Adanya perbedaan waktu berakhirnya musim hujan tidak bisa disamaratakan karena luasnya wilayah Indonesia. Karakteristik iklim yang sangat beragam membuat tiap daerah memiliki jadwal peralihan musim yang berbeda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Indonesia kan daerahnya sangat luas. Kalau di daerah yang dimaksud Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, itu berakhir kira-kira nanti di sekitar Februari sampai Maret ya. Nanti bulan April, Mei, Juni, hingga nanti September itu masuk ke musim kemarau,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.
Adapun untuk wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diperkirakan mulai memasuki peralihan menuju musim kemarau sejak April, setelah intensitas hujan berangsur menurun sejak akhir Februari hingga Maret. Adapun musim kemarau di kawasan ini diproyeksikan berlangsung hingga sekitar September.
BMKG juga memperkirakan musim hujan di wilayah selatan Indonesia akan kembali terjadi menjelang akhir tahun. “Baru musim hujan kembali dimulai di Oktober,” lanjut Teuku.
Sementara itu, pola musim yang berbeda terjadi di wilayah Indonesia yang berada dekat garis Ekuator, khususnya di Sumatra bagian utara. Wilayah ini memiliki karakteristik dua kali musim hujan dan dua kali musim kemarau dalam satu tahun.
“Tapi perlu diingat bahwa di daerah ekuator, bagian utaranya ini agak berbeda. Misalnya saya berikan contoh untuk daerah Sumatra ya, untuk Aceh, kemudian Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dia memiliki kondisi di mana terjadi dua kali musim hujan dan dua kali musim kemarau,” jelasnya.
Saat ini, sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatra Utara, Riau, hingga Sumatra Barat bahkan sudah mulai memasuki awal musim kemarau, meskipun dengan kondisi yang tidak terlalu kering.
BMKG memprakirakan hujan masih berpotensi kembali turun di wilayah tersebut pada periode April hingga Juni sebelum kembali memasuki musim kering berikutnya.
Teuku menegaskan perbedaan karakteristik iklim ini membuat waktu berakhirnya musim hujan di Indonesia tidak bisa disamakan antara wilayah selatan dan wilayah dekat ekuator.
“Jadi berbeda antara karakteristik iklim yang ada di daerah dekat ekuator dengan daerah Selatan, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara,” tegas dia.









