sukabumiheadline.com – Secara demografis, angka kelahiran ideal atau Total Fertility Rate (TFR) suatu negara adalah 2,1 anak per perempuan. Angka ini memastikan populasi stabil, di mana anak yang lahir akan menggantikan kedua orang tuanya tanpa menyebabkan ledakan penduduk atau penurunan populasi.
Di Indonesia sendiri, rata-rata angka kelahiran telah mencapai angka ideal di kisaran 2,18 anak per perempuan. Sedangkan usia ideal melahirkan direkomendasikan pada rentang 20 – 35 tahun, karena kondisi fisik dan organ reproduksi dianggap paling matang serta meminimalkan risiko medis.
Adapun jarak kelahiran ideal menurut badan kesehatan PBB, World Health Organization (WHO), minimal 33 bulan atau sekira 2 tahun 9 bulan hingga 3 tahun. Hal itu bertujuan untuk pemulihan fisik dan mental ibu, serta memberi ASI eksklusif secara optimal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jumlah penduduk lahir dan mati di Kota Sukabumi menurut kecamatan, 2025

Populasi penduduk Kota Sukabumi, Jawa Barat, menunjukkan peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023, jumlah penduduk kota ini sekira 360,64 ribu jiwa, lalu bertambah menjadi 365,74 ribu jiwa (2024). Setahun kemudian, jumlahnya kembali bertambah menjadi 370,68 ribu jiwa (2025).
Di sisi lain, meskipun jumlah penduduk Kota Sukabumi terus bertambah, namun angka kelahiran atau natalitas di kota ini lebih rendah dibandingkan jumlah penduduk yang mati (mortalitas). Mortalitas adalah ukuran frekuensi terjadinya kematian dalam suatu populasi selama kurun waktu tertentu. Ini merupakan indikator demografi dan kesehatan utama.
Dikutip sukabumiheadline.com dari data Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil, 2025, Jumat (5/6/2026), berikut adalah jumlah penduduk lahir dan mati di Kota Sukabumi menurut kecamatan:
- Baros:
Lahir 174 jiwa, Mati 252 jiwa - Lembursitu:
Lahir 173 jiwa, Mati 284 jiwa - Cibeureum:
Lahir 215 jiwa, Mati 278 jiwa - Citamiang:
Lahir 259 jiwa, Mati 464 jiwa - Warudoyong:
Lahir 301 jiwa, Mati 458 jiwa - Gunung Puyuh:
Lahir 230 jiwa, Mati 383 jiwa - Cikole:
Lahir 279 jiwa, Mati 521 jiwa
Dengan demikian, selama 2025 di Kota Sukabumi ada 1.631 bayi lahir. Sementara jumlah penduduk yang mati sebanyak 2.640 jiwa.
Meskipun jumlah penduduk Kota Sukabumi terus bertambah, namun hal itu dipicu perpindahan penduduk dari luar daerah. Di sisi lain, tren gaya hidup tanpa anak kian berkembang di kalangan Generasi Z. Baca selengkapnya: Membanding jumlah penduduk Kota Sukabumi: Lahir + pendatang – mati + pindah
Berita Terkait:
- Penduduk Kota Sukabumi 12,5% Gen Z
- Perbandingan jumlah Gen XYZ Kota Sukabumi, didominasi Generasi Milenial
Angka kelahiran

Untuk diketahui, angka kelahiran adalah statistik yang menunjukkan jumlah bayi yang lahir hidup dalam suatu populasi per 1.000 penduduk dalam periode satu tahun. Ini adalah indikator utama untuk mengukur pertumbuhan penduduk dan perubahan demografis suatu wilayah.
Adapun jenis-jenis angka kelahiran yang paling umum digunakan dalam demografi, adalah sebagai berikut:
- Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate/CBR): Jumlah kelahiran dalam satu tahun per 1.000 orang penduduk.
- Angka Kelahiran Umum (General Fertility Rate/GFR): Jumlah bayi yang lahir dari setiap 1.000 wanita usia reproduksi (15-49 tahun).
- Angka Kelahiran Total (Total Fertility Rate/TFR): Rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang wanita selama masa usia suburnya.
Di Indonesia, angka kelahiran terus mengalami tren penurunan, dengan angka TFR nasional tercatat di kisaran 2,18 anak per wanita. Angka ini mendekati batas ideal penggantian generasi sebesar 2,1. Penurunan ini dipengaruhi oleh peningkatan pendidikan, partisipasi perempuan di dunia kerja, dan keberhasilan program Keluarga Berencana (KB).
Baca Juga: Angka pengangguran Sukabumi tinggi, ini dampak ekonomi, sosial, politik dan psikologis
Dampak buruk angka kelahiran rendah

Kondisi di mana angka kelahiran lebih rendah dari angka kematian disebut sebagai penurunan populasi alami. Hal ini secara langsung memicu penurunan jumlah penduduk, menyusutnya angkatan kerja, membengkaknya populasi lanjut usia, serta peningkatan beban ekonomi dan sistem perawatan kesehatan.
Dampak spesifik dari ketidakseimbangan ini, adalah terjadinya penyusutan jumlah penduduk. Akibatnya, populasi secara keseluruhan akan berkurang dari tahun ke tahun jika tidak diimbangi oleh angka migrasi masuk yang tinggi.
Pada gilirannya, terjadi krisis tenaga kerja produktif, yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, menurunkan produktivitas, dan memicu penutupan berbagai usaha. Namun di sisi lain, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diperbaharui November 2025, persentase pengangguran di Kota Sukabumi sebesar 8,19 persen. Angka tersebut menempatkan Kota Sukabumi di posisi ketiga terbesar. Baca selengkapnya: Kota Sukabumi juara 3 jumlah pengangguran terbesar

Dampak lainnya, rendahnya natalitas juga akan membuat jumlah wajib pajak menjadi lebih sedikit, sementara negara harus menanggung biaya pensiun dan layanan kesehatan bagi populasi lansia yang terus bertambah.
Dampak lainnya, memicu terjadi perubahan struktur sosial. Semakin banyak institusi seperti sekolah dan fasilitas anak-anak yang ditutup atau beralih fungsi, sementara permintaan akan panti jompo dan perawatan lansia meningkat tajam.
Berkurangnya jumlah manusia juga dapat mengurangi tekanan terhadap lingkungan, penurunan emisi karbon, serta menurunkan pemanfaatan ruang kota secara berlebih.









