Mengenal Sesar Bayah-Salak, pemicu gempa bumi beruntun di Sukabumi

- Redaksi

Senin, 21 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sesar Bayah - Ist

Sesar Bayah - Ist

sukabumiheadline.com – Kejadian gempa beruntun atau Swarm Earthquake diwilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, atau lebih tepatnya di Kecamatan Kabandungan dan Cisolok, membuat heboh masyarakat yang merasakannya. Bagaimana tidak, getaran gempa dirasakan kuat oleh masyarakat di wilayah sekitar epicenter bahkan bisa dirasakan hingga Tangerang Selatan dan Jakarta.

Banyaknya Gempa yang terjadi hingga pukul 20.00 WIB telah tercatat sebanyak 41 Kali gempa dengan gempa utama M4.0 yang terjadi pada tanggal 20 September 2025 pukul 23.47 WIB.

Melansir @infogempadunia, penyebab utama rangkaian gempa ini tak lain dan
tak bukan adalah Sesar Bayah – Salak yang memanjang dari Kecamatan Bayah, Provinsi Banten hingga Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sesar ini terbagi menjadi 2 segmen yaitu Segmen Cianten yang melintasi Kecamatan Cisolok, kecamatan Kabandungan dan berakhir di Kecamatan Nanggung dengan Panjang segmen sekitar 17,6 km,” katanya, dikutip sukabumiheadline.com, Senin (21/9/2026).

“Sedangkan untuk segmen keduaya itu segmen Cibuluh melintasi Kecamatan Bayah hingga Kecamatan Cisolok dengan panjang segmen sekitar 17,8 km. Kedua segmen ini memiliki potensi Gempa maksimum hingga M6.6,” imbuhnya.

Catatan gempa bumi yang dihasilkan dari sesar ini bisa dikatakan cukup aktif berdasarkan catatan kejadian gempa bumi segmen Cianten lebih sering menghasilkan gempa dibandingkan segmen Cibuluh.

“Ketika terjadi gempa di segmen Cianten pasti akan terjadi gerombolan gempa atau biasa kita sebut sebagai Swarm Earthquake. Kejadian Swarm Earthauake ini pernah teriadi pada September,” jelasnya.

“Cianten yang melıntası Kecamatan Cisolok dan Kabandungan (Sukabumi), hingga Kecamatan Nanggung (Bogor) dengan panjang segmen sekira 17,6 km. Sedangkan untuk segmen keduaya itu segmen Cibuluh melintasi Kecamatan
Bayah (Banten) hingga Kecamatan Cisolok (Sukabumi) dengan panjang
segmen sekira 17,8 km,” paparnya.

Kedua segmen tersebut memiliki potensi Gempa maksimum hingga M6.6. Catatan gempa bumi yang dihasilkan dari sesar ini bisa dikatakan cukup aktif berdasarkan catatan kejadian gempa bumi segmen Cianten lebih sering
menghasilkan gempa dibandingkan segmen Cibuluh.

Ketika terjadi gempa disegmen Cianten
pasti akan terjadi gerombolan gempa atau biasa kita sebut sebagai Swarm Earthquake.

“Kejadian Swarm Earthquake ini pernah terjadi pada September 2025 dan Desember 2023 dengan catatan gempa terbesar yang dihasilkan oleh segmen ini yaitu Gempa M5.0 (2020), M4.6 (2023), M4.0 (2025), M4.0 (2019),” ungkapnya.

Keempat gempa tersebut menimbulkan
kerusakan beberapa rumah warga dan fasilitas umum di Kabupaten Sukabumi.

Walaupun Segmen Cibuluh lebih sedikit
menghasilkan gempa bumi, tetapi bukan berarti dia diam selalu. Pada Oktober 2020 disegmen ini terjadi Swarm Earthquake selama 5 hari dengan Magnitude terbesarnya yaitu M4.5. Gempa ini menimbulkan kerusakan beberapa rumah warga di Bayah.

Gempa jenis swarm ini adalah gempa yang kejadiannya hanya fokus pada satu wilayah dengan intensitas kejadian yang tinggi di mana frekuensi kejadian gempanya bisa terjadi beberapa kali dalam beberapa jam dan berlangsung
selama berminggu-minggu hingga
berbulan-bulan.

“Sejak dulu di wilayah yang dilintasi
Sesar Bayah – Salak ini memang sering terjadi gempa swarm,” katanya.

Gempa swarm tak selalu menjdi tanda akan munculnya gempa lebih besar, gempa swarm bisa saja hanya gempa-gempa kecil yang sekadar lewat saja dan bisa juga memicu gempa besar. Tetapi untuk melihat potensi ini sangatlah sulit jika dikatakan gempa swarm akan memicu gempa lebih besar dikarenakan sifat gempa bumi yang tak bisa diprediksi.

“Namun, sangat jarang sekali gempa swarm memicu gempa lebih besar, terutama di wilyah ini,” lanjut dia.

Gempa jenis swarm dalam ilmu
seismologi bukanlah sesuatu yang
aneh atau luar biasa, hal ini adalah
hal wajar dan biasa.

“Gempa swarm dikategorikan dalam dua jenis, yaitu berbahaya dan tidak. Berbahaya jika gempa swarm ini rata-rata berskala M5.0+ (seperti yang pernah terjadi di Mamasa, Sulawesi Barat tahun 2021), dan tidak berbahaya jika skalanya masih di bawah M4.0,” ungkapnya.

Pemicu gempa jenis swarm ada 2,
yaitu karena bergeraknya patahan
aktif dan bergeraknya magma
ke permukaan.

“Namun untuk kasus di perbatasan Kabupaten Sukabumi dan Bogor ini adalah murni aktivitas tektonik yaitu akibat aktifitas Sesar Bayah-Salak segmen Cianten,” pungkasnya.

Berita Terkait

Prakiraan cuaca Sukabumi 20-31 Agustus, hujan ringan 5 hari
Kapan mulai musim hujan di Sukabumi?
Setelah Godzilla, kini Super El Nino terkuat dalam 100 tahun ancam petani
Prakiraan suhu dan cuaca Sukabumi 24 Juli – 31 Juli 2026, potensi hujan akhir bulan
Prakiraan suhu udara dan cuaca Sukabumi 18 – 23 Juli 2026
Prakiraan suhu udara Sukabumi 11-18 Juli: Besok terendah, 15-16 hujan ringan
Prakiraan suhu Sukabumi satu pekan ke depan, 3 hari terakhir terdingin
Waspada gempa bumi, 5 sesar aktif ini berdampak langsung ke wilayah Sukabumi

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 04:09 WIB

Mengenal Sesar Bayah-Salak, pemicu gempa bumi beruntun di Sukabumi

Kamis, 20 Agustus 2026 - 04:03 WIB

Prakiraan cuaca Sukabumi 20-31 Agustus, hujan ringan 5 hari

Rabu, 12 Agustus 2026 - 16:13 WIB

Kapan mulai musim hujan di Sukabumi?

Minggu, 9 Agustus 2026 - 12:50 WIB

Setelah Godzilla, kini Super El Nino terkuat dalam 100 tahun ancam petani

Kamis, 23 Juli 2026 - 21:03 WIB

Prakiraan suhu dan cuaca Sukabumi 24 Juli – 31 Juli 2026, potensi hujan akhir bulan

Berita Terbaru

Presiden RI, Prabowo Subianto - Ilustrasi sukabumiheadline.com

Nasional

Prabowo sebut pengamat goblok, PVRI: Antisains

Minggu, 20 Sep 2026 - 23:42 WIB

Marc Klok, pemain Persib Bandung - Ilustrasi sukabumiheadline.com

Olahraga

Marc Klok: Hari ini Persib ke Jepara untuk menang

Minggu, 20 Sep 2026 - 17:40 WIB