25.1 C
Sukabumi
Sabtu, Mei 25, 2024

Ternyata Ini Penyebab Ledakan Tabung CNG di Cibadak Sukabumi, Kepsek SD Korban Tewas

sukabumiheadline.com l Peristiwa pilu meledaknya tabung gas...

Yamaha Zuma 125 meluncur, intip harga dan penampakan detail motor matic trail

sukabumiheadline.com - Yamaha resmi memperkenalkan Zuma 125...

Antara Kerukunan Umat Beragama di Sukabumi dan Menyikapi Ahmadiyah

WawancaraAntara Kerukunan Umat Beragama di Sukabumi dan Menyikapi Ahmadiyah

sukabumiheadline.com I CICURUG – Toleransi beragama menunjukkan pada arti saling memahami, saling mengerti, dan saling membuka diri dalam bingkai persaudaraan. Kerukunan umat beragama adalah kondisi di mana antar umat beragama dapat saling menerima, saling menghormati keyakinan masing-masing, saling tolong menolong, dan bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama.

Islam menjunjung tinggi toleransi karena toleransi mengarah kepada sikap terbuka dan mau mengakui adanya berbagai macam perbedaan dalam segala hal.

Jumat (10/12/2021), Ade Yosca Baharetha dari sukabumiheadline.com berkesempatan mewawancarai salah seorang ulama Nahdlatul Ulama KH. Ahmad Gondar Hibatullah.

Di NU, ia menjabat A’Wan atau bagian dari syuriah yang bertugas membantu tugas Rais, yang terdiri atas sejumlah ulama terpandang. A’wan adalah bentuk jamak dari ‘awn yang secara bahasa berarti bantuan. Selain itu, pria yang hakrab disapa Ustadz Gondar ini juga merupakan Pimpinan Yayasan Al Amin Cicurug, dan Pembina Forum ZIS (zakat, infak, sedekah) Sukabumi.

Pria berusia 46 tahun suami dari Hj. Alawiyah dan ayah dari empat anak itu menyempatkan diri untuk menemui tim sukabumiheadlines.com di Pondok Pesantren Global Insani Mandiri (GIM), di Kampung Karangsirna RT 01/01, Kelurahan Nanggerang, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

Bagaimana sebenarnya makna kata toleransi dalam Islam?

Kata toleransi berasal dari Bahasa Latin, tolerare yang artinya sabar dan menahan diri, sehingga apa yang diartikan tolerare itu adalah sama-sama sepenanggungan walaupun dalam pekerjaan atau apapun ada yang tidak setuju.

Toleransi lebih dekat kepada demokrasi. Jadi untuk di Sukabumi ini atau lebih luasnya, di Indonesia, saya mengharapkan toleransi ini disesuaikan saja dengan kata asalnya. Landasannya dalam AlQuran pun sudah jelas bahwa perbedaan itu ketetapan Allah. Dalam AlQuran juga dengan gamblang dijelaskan adanya perbedaan dan keragaman dalam masyarakat.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat Al-Hujarat ayat 13 yang bunyinya:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja’alnākum syu’ụbaw wa qabā`ila lita’ārafụ, inna akramakum ‘indallāhi atqākum, innallāha ‘alīmun khabīr.

Dalam surat tersebut menjelaskan, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Nah, maksud dari surat di atas sebagai ketetapan Allah, pernyataan ini tentu harus diterima, mereka yang tidak bisa menerima adanya keragaman berarti mengingkari ketetapan Allah.

Menurut kyai, apa sebenar yang penting dipupuk di masyarakat agar kerukunan beragama di Sukabumi terpelihara?

Kita mengetahui bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia dengan segala perbedaannya, tetapi kita sebagai manusia harus saling menghargai satu sama lain. Namun, pastinya terdapat beberapa faktor pendukung agar terwujud kerukunan antar umat beragama.

Faktor pendukung di sini, menurut saya, kita harus dewasa dalam beragama. Kalau saya ambil contoh, ada beberapa warga dekat rumah saya yang memang di luar agama saya (Islam), tetapi mereka turut serta dalam tatanan kemasyarakatan. Namun, penghambatnya adalah oknum-oknum yang merasa pintar padahal sudah jelas itu keluar dari jalur hukum seperti adanya pemaksaan kehendak, itu faktor penghambat menurut saya.

Nah, ini akhirnya saya menekankan pentingnya kebersamaan antara ulama dan umara, termasuk tokoh agama seperti bhikku, pendeta, dan lainnya untuk merukunkan umatnya kembali dan tidak memaksakan kehendak hanya sekadar untuk bisa eksis di kalangan mayoritas. Jadi saya rasa semua kembali kepada kedewasaan masing-masing umat beragama.

Bagaimana seharusnya menghindari terjdinya perpecahan umat?

Perpecahan bisa disebabkan oleh berbagai hal salah satunya, karena perbedaan keyakinan. Sebagai  pemuka agama pastinya mempunyai upaya atau cara menghindari perpecahan antar umat beragama. Sebagai Muslim, kita kembalikan kepada dasar-dasar bagaimana umat Islam menghormati terhadap agama lain, menghormati dalam segala hal, karena bagi kami kebebasan beragama, kerukunan beragama, itu sudah ditanamkan oleh Baginda Rassul SAW, di mana kita tahu bahwa di Madinah tidak semuanya Muslim, majemuk. Bahkan, Rasul SAW sering berniaga bersama dengan orang Yahudi.

Kita tanamkan sejak awal bahwa selama tidak ada pemaksaan kehendak, terutama dalam hal akidah, ya kita hormati karena mereka pun sama seperti kita, sebagai manusia, tapi belum diberikan hidayah oleh Allah SWT. Jadi supaya tidak ada kekerasan karena Islam sendiri bukan agama kekerasan saya rasa hanya oknum-oknum tertentu yang diakibatkan pemaksaan kehendak tadi.

Kita menganut kesepakatan yang dulu dibangun oleh para ulama dengan bersatunya dalam naungan negara kesatuan Republik Indonesia, itu dibangun kesepakatan sehingga lahir Pancasila, dan itu semua dibangun oleh para ulama, kami sebagai generasi penerus tentunya ingin jerih payah para ulama ini tetap kita laksanakan karena bagian dari kebaikan yang sudah dijalankan oleh para ulama terdahulu, jadi kita lihat sekarang terjadinya suatu kerukunan antar umat beragama karena hasil kesepakatan para ulama dengan tokoh agama lain.

Bagaimana menyikapi orang yang berpindah agama? 

Ya kalau kita melihat sudut pandang agama, orang yang keluar dari Islam itu berhak kita perangi bahkan boleh untuk membunuhnya, halal itu darahnya. Itu pandangan Islam seutuhnya, tetapi kembali bahwa kita berada di negara Pancasila, kebebasan beragama, mungkin ada faktor lain yang mengakibatkan mereka keluar dari agamanya masing-masing, karena keberagaman itu adanya hidayah dari Allah SWT.

Bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi Syiah dan Ahmadiyah?

Jika bicara kenegaraan maka sikap kita harus menerima selama negara memberikan ruang untuk Syiah dan Ahmadiyah. Secara aqidah, selama aqidahnya sama, sesama umat Islam ya harus menerima pula. Jika terjadi perbedaan dari sisi aqidah, contoh, Ahmadiyah (katanya), Mirza Gulam Ahmad itu diposisikan sebagai Nabi, ini kan persoalan aqidah, karena Islam jelas meyakini tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad. Ini berbeda dengan meyakini seseorang sebagai waliyullah, seperti kebiasaan orang-orang NU yang mengakui Wali Songo, misalnya.

Jadi jika berbeda aqidah ya jelas kita tolak, tapi bukan berati hubungan kemanusiaan ditolak pula, kalau dasar kemanusiaan mereka harus kita terima, selama mereka tidak menimbulkan keresahan di tengah-tengah umat dan diakui oleh negara.

Ketika negara menolak, ya negara lah yang bertindak, bukan rakyat yang bertindak.

Konten Lainnya

Content TAGS

Konten Populer