Joe Biden: Jakarta akan Tenggelam dalam 10 Tahun

- Redaksi

Minggu, 1 Agustus 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Amerika Serikat Joe Biden. I Istimewa

Presiden Amerika Serikat Joe Biden. I Istimewa

SUKABUMIHEADLINES.com – Joe Biden, Presiden Amerika Serikat (AS), menyinggung Indonesia dalam sebuah pidatonya di depan para pejabat Intelijen AS pada Selasa, 27 Juli 2021. Dalam pidatonya, Biden menyebut prediksi Kota Jakarta bakal tenggelam dalam 10 tahun ke depan.

Biden menyebut hal itu disebabkan fenomena perubahan iklim yang membuat ketidakstabilan suatu negara. Itu sebabnya, pemerintah Indonesia ingin memindahkan ibu kotanya ke Kalimantan.

“Tapi apa yang terjadi, apa yang terjadi di Indonesia jika proyeksinya benar bahwa, dalam 10 tahun ke depan, mereka mungkin harus memindahkan ibu kotanya karena mereka akan berada di bawah air?” kata Biden dalam pidatonya di Kantor Pusat Kontra Terorisme AS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Itu penting. Ini adalah pertanyaan strategis yakni pertanyaan seputar lingkungan,” sambung dia.

Selain itu, Biden juga mengingatkan kepada komunitas intelijen AS bahwa ancaman penting dan berdampak pada semua negara adalah tantangan terhadap perubahan iklim. Menurut Biden, perubahan iklim telah mempercepat ketidakstabilan di AS dan di seluruh dunia.

Akibat cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, kerawanan pangan dan air, mengakibatkan perubahan iklim dan mendorong migrasi besar dan menimbulkan risiko mendasar bagi komunitas yang paling rentan.

“Saya tidak akan pernah melupakan pertama kali saya dilantik sebagai Wakil Presiden, setelah saya terpilih. Departemen Pertahanan mengatakan apa ancaman terbesar yang dihadapi Amerika: Perubahan iklim. Jika, pada kenyataannya, permukaan laut naik dua setengah kaki lagi, Anda akan memiliki jutaan orang yang bermigrasi, memperebutkan tanah yang subur,” paparnya di depan komunitas intelijen AS.

Biden juga menyinggung apa yang terjadi di Afrika Utara. “Apa yang membuat kita berpikir ini tidak penting? Itu bukan tanggung jawab Anda, tetapi itu adalah sesuatu yang Anda tonton karena Anda tahu apa yang akan terjadi,” imbuh dia.

Berita Terkait

Partai Arab kian disukai warga Israel, Netanyahu khawatir bisa kalahkan partainya
Sejarah bendera Arab Saudi dan Afghanistan cantumkan lafadz Syahadat
Penduduk Jerman menyusut, kekurangan tenaga kerja dan banyak dihuni lansia
Pilot Indonesia ditolak Israel, putar balik dilarang mendarat di Bandara Tel Aviv
Bandara Riyadh diserang, Kemenlu minta WNI di Arab Saudi waspada
Mengenang serangan menara WTC 9/11, dan trend mualaf yang meningkat
Ajakan boikot Adidas meluas, eks tentara Israel jadi bintang iklan kaki palsu
Ini Blueberry, sniper cantik Rusia pemburu tentara Ukraina

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:00 WIB

Partai Arab kian disukai warga Israel, Netanyahu khawatir bisa kalahkan partainya

Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Sejarah bendera Arab Saudi dan Afghanistan cantumkan lafadz Syahadat

Rabu, 14 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Penduduk Jerman menyusut, kekurangan tenaga kerja dan banyak dihuni lansia

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Pilot Indonesia ditolak Israel, putar balik dilarang mendarat di Bandara Tel Aviv

Minggu, 11 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Bandara Riyadh diserang, Kemenlu minta WNI di Arab Saudi waspada

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB