sukabumiheadline.com l SURADE – Sudah sejak 2020 lalu Siti Asiah, warga Kampung Cilalay RT 002/004, Desa Citanglar, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat merintis usaha menjual madu hutan.
“Saya memulai usaha madu sekitar tahun 2020, namun tidak begitu fokus karena kondisi saya saat itu tengah mengandung anak pertama,” kata mantan penyiar radio yang populer dipanggil Sherliey Marcelina itu kepada sukabumiheadline.com, Rabu (12/7/2023).
Siti kemudian seolah terlecut semangatnya ketika datang orderan pertama dari pembeli.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tiba tiba gairah jualan saya jadi membara. Masih ingat, saat itu masuklah orderan pertama dari rekan kerja dulu sewaktu saya masih bekerja sebagai penyiar di salah satu radio swasta di Surade. Bahagianya luar biasa mendapat orderan pertama. Dari situlah mental jualan saya dibentuk dan makin semangat posting di group,” paparnya.
Sejak itulah orderan datang silih berganti. Dari mulai tokoh masyarakat, dokter hingga TNI dan Polri hingga akhirnya ia mulai dikenal oleh masyarakat sekitar sebagi penjual madu hutan.
Sherliey yang sejak awal hanya sebagai konsumen yang berniat mengganti asupan gula dengan madu, kemudian berubah menjadi pebisnis madu hutan asli Pajampangan.
Sebagai pedagang, Sherliey menjamin keaslian madu hutannya. Hal itu karena keluarga suaminya sejak lama dikenal sebagai pebolang madu hutan di wilayah Pajampangan.
Kelebihan Madu Hutan
Siti kemudian mengemas madu hutannya dan dilabeli Alhanif-bee. Salah satu kelebihan madu hutan, jelas Siti, karena jenis madu ini tidak ada masa kadaluarsa, sehingga secara bisnis relatif aman untuk jangka panjang.

“Madu hutan murni itu nyaris tidak ada masa kadaluarsanya, bisa di simpan berbulan bulan atau bertahun tahun, selama cara penyimpanan nya baik dan benar,” terang Sherliey.
“Nah madu hutan Alhanif-bee ini kenapa murni, karena madu ini benar benar madu dari hutan belantara yang hanya diambil sarang madunya, kemudian di peras atau ditiris sarangnya. Lalu disaring dan dimasukan ke dalam botol kemasan. Tidak ada campuran bahan apapun,” yakin wanita berusia 25 tahun itu.
Omzet per Bulan
Untuk pendapatan kotor dari berjualan madunya, Siti mengaku bisa mendapatkan hingga jutaan Rupiah per bulan.
“Berbeda beda setiap bulannya, kadang 5 juta sampai 6 juta Rupiah. Kadang juga suka lebih,” ungkapnya.
Namun, Siti yakin prospek usaha madunya akan semakin berkembang karena saat ini belum banyak orang menjadikan madu sebagai kebutuhan. “Bisa dikatakan pencinta madu di daerah kita masih bisa di hitung jari,” kata ibu satu anak itu.
Kendala dan Target Usaha Madu
Terkait kendala dalam usaha madunya, selain sebagai ibu rumah tangga, ia juga harus terus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya mengonsumsi madu.
Seiring trend era digital, maka untuk menggenjot penjualan madunya, Siti mulai merambah digital marketing melalui salah satu marketplace ternama di Indonesia.
Adapun, targetnya ke depan usaha madunya, Situ mengaku akan terus berjuang memasarkan produknya hingga bisa diterima pasar nasional.
“Semoga Alhanif-bee, makin bisa dikenal di pasar permaduan Indonesia sehingga turut bisa memajukan perekonomian warga Pajampangan,” yakin wanita yang pernah menjadi peternak bebek petelur dan jual baju rajut itu.