Kesan Warga Bekasi Mudik ke Sukabumi: Dari Saya Kecil hingga Menikah Jalan Tetap Rusak

- Redaksi

Jumat, 26 Mei 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jalan rusak di Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi. l Deti Rohaeni

Jalan rusak di Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi. l Deti Rohaeni

sukabumiheadline.com l TEGALBULEUD – Deti Rohaeni, seorang wanita asal Kampung Ciirateun Kiaralawang, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat mengeluhkan kondisi jalan rusak di kampung asalnya tersebut.

Wanita yang kini telah menikah dan tinggal bersama suaminya di Bekasi, Jawa Barat itu menyebut jika jalan di kampungnya sudah rusak sejak ia masih kecil dan kini kerusakan menjadi kian parah.

“Dari saya kecil dan sekarang sudah lima tahun menikah, bukannya jalan jadi bagus, tapi malah makin rusak,” kesal Deti kepada sukabumiheadline.com, Kamis (25/5/2023).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, kondisi rusak jalan yang menghubungkan Desa Sumberjaya dengan Nangela itu sudah sering dikeluhkan warga, tapi hingga kini tidak ada perubahan sama sekali.

“Lama saya gak mudik, tapi kemarin waktu mudik Lebaran malah makin parah rusaknya. Kasihan warga, udah kayak daerah terisolir aja,” keluh Deti lagi.

Bagaimana tidak, tambah dia, akibat jalan rusak tersebut, aktivitas warga menjadi terhambat.

“Aktivitas perekonomian terhambat karena jalan udah kayak kolam lele. Lebih parah lagi kalau truk lewat dan lagi musim hujan, makin hancur,” kesalnya.

“Kalau diperhatikan udah kayak kampung yang terisolir. Apalagi kalau ada warga yang sakit dan harus segera mendapatkan perawatan medis. Ribet karen keluarga yang sakit harus capek dua kali,” jelas Deti.

Namun demikian, ia mengaku tidak terlalu memahami status jalan tersebut. Dirinya hanya berharap pemerintah peduli dan segera melakukan tindakan nyata.

“Saya gak tahu status jalannya apa, tapi apapun statusnya, harusnya diperjuangkan oleh bapak bapak yang duduk di pemerintahan,” pungkas Deti.

Berita Terkait

Dua anak di bawah umur asal Sukabumi kerja prostitusi online, 5 buku tamu disita polisi
Selundupkan 32 ribu benih lobster ilegal, warga Sukabumi ditangkap di Banten
Pria Sukabumi paksa gadis 19 tahun layani 300 lelaki hidung belang, Rp50 ribu per transaksi
Awal mula terungkapnya tanah aset Desa Sukamulya Sukabumi dikuasai swasta
Perhutani KPH Sukabumi gandeng Damkar patroli bersama
Warga Sukamulya Sukabumi protes tanah aset desa dipindahtangankan ke swasta
Ahad, 18 Oktober: Event hari ini di Sukabumi, JNS Fest hingga Festival Kuliner Bangkok
Germo asal Sukabumi paksa wanita Sumsel layani 10 pria sehari, fee Rp50 ribu

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:11 WIB

Dua anak di bawah umur asal Sukabumi kerja prostitusi online, 5 buku tamu disita polisi

Senin, 26 Oktober 2026 - 16:23 WIB

Selundupkan 32 ribu benih lobster ilegal, warga Sukabumi ditangkap di Banten

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 04:18 WIB

Pria Sukabumi paksa gadis 19 tahun layani 300 lelaki hidung belang, Rp50 ribu per transaksi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:01 WIB

Awal mula terungkapnya tanah aset Desa Sukamulya Sukabumi dikuasai swasta

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:05 WIB

Perhutani KPH Sukabumi gandeng Damkar patroli bersama

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB