sukabumiheadline.com I PARUNGKUDA – Kisah pilu dialami dua orang bocah kakak beradik berusia 11 dan 12 tahun bernama Jonathan Oktavian Siregar dan Nasaki Fano Siregar asal Kota Medan yang sekarang tinggal di Sukabumi. Mereka adalah bocah-bocah yang masih duduk di bangku kelas 4 dan 5 sekolah dasar di Parungkuda.
Sejatinya keduanya adalah anak-anak penerus bangsa yang seharusnya asyik dengan dunianya dan teman sebaya, tidak seharusnya turut banting tulang mencari nafkah untuk dirinya sendiri dan keluarga.
Jonathan dan Fano, serta orangtuanya tinggal di Kampung Pasir Leutik, Desa/Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Kedua bocah itu mengaku terpaksa menjadi pemulung barang bekas karena ingin membantu orang tuanya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Setiap hari, mulai dari pukul 07.30 WIB, Jonathan dan Fano berkeliling mencari dan mengumpulkan dus tidak terpakai dan barang bekas lainnya yang nantinya akan dijual kembali. Mereka biasa menyusuri perkampungan di sekitaran Parungkuda, dan baru pulang sekira pukul 16.00 WIB. Semua brang bekas yang diperoleh, kemudian mereka jual kepada pengepul.

Dalam percakapannya dengan sukabumiheadline.com. Kamis (6/1/2022), keduanya mengaku menjalani profesi sebagai pemulung karena ingin membantu perekonomian keluarganya yang kurang mampu.
“Kita kayak gini karena ingin bantu ibu dan bapak, mereka juga sama kayak kita, tukang rongsok, tapi kalau mereka nyari dus sama barang-barang rongsoknya di pasar,” ujar Jonathan.
Dari hasil berkeliling seharian, Jonathan dan Fano biasanya mampu mengumpulkan dus-dus bekas dan barang rongsok lainnya sekira 7-10 kg per hari. Barang bekas tersebut kemudian mereka jual kembali seharga Rp2.500 per kg.
“Sekarang sih lagi turun harganya, biasanya sih kalau sekilo itu dihargain Rp3.500, tapi sekarang Rp2.500 per kilogram. Kita seharian berkeliling, paling kalau udah nyampe 6-7 kilogram kita pulang karena bapak nyuruhnya seperti itu. Kalau bapak sih 10 kilogram aja belum seberapa,” tutur Jonathan lagi.
Barang-barang tersebut, kata Fano, di jual ke pengepul di daerah Cidahu, diantar langsung sama bapaknya. “Jadi jualnya nunggu bapak pulang dulu,” kata Fano.
Pendapatan keduanya dari hasil mencari rongsok terbilang sangat kecil karena dari hasil penjualan barang rongsok yang mereka cari seharian, keduanya hanya mendapatkan imbalan Rp7.500 per hari. Dari hasil jerih payahnya, selain untuk membantu perekonomian keluarga, juga mereka tabung sebagian untuk ongkos pulang kampung ke Medan.
“Gak nentu om, gimana kita dapet barang yang kita carinya, kadang kalau lagi banyak dapet 10 kilogram, kita dapet uangnya Rp15 ribu karena harusnya dapet Rp25 ribu itu dipotong lagi, paling ke kitanya Rp15 ribu untuk saya sama Fano,” timpal Jonathan.
“Tapi kita sekarang paling dapatnya 7 kilograman lah, ya jadi Rp17.500 ribu, kita dapet Rp7.500 ratus untuk berdua” ungkap Jonathan.
Kedua bocah ini memiliki cita-cita menjadi polisi dan tentara. Mereka berjuang sejak dini demi mencapai impiannya tersebut.
“Aku cita-citanya ingin jadi polisi om, biar bisa nangkap orang-orang jahat, kalao Fano ingin jadi tentara biar bisa jagain ibu, bapak sama negara ini,” pungkas kedua bocah itu.