Kisah Raja Tamperan, Penguasa Tatar Sunda yang Hobi Selingkuh

- Redaksi

Selasa, 15 Agustus 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Candi peninggalan Kerajaan Galuh. l Istimewa

Candi peninggalan Kerajaan Galuh. l Istimewa

sukabumiheadline.com l Sebagian besar warga Sukabumi, Jawa Barat tentunya sangat familiar dengan nama Prabu Siliwangi, Raja Sunda yang dikenal bijaksana dan mengayomi.

Padahal, pada zaman dahulu banyak kerajaan di Tatar Pasundan, nama nama rajanya pun cukup dikenal di kalangan pemerintah sejarah Sunda saat ini.

Salah seorang raja yang terkenal, adalah Raja Tamperan yang populer karena perilakunya yang dinilai kontroversial karena penuh intrik suka berselingkuh hingga punya anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Raja Tamperan naik tahta setelah Raja Premana Dikusuma memilih turun tahta karena ingin menjadi pertapa.

Raja Tamperan dikenal memiliki watak mandiminyak yakni sering membuat skandal negatif. Setelah naik tahta, Raja Tamperah suka berselingkuh dengan Pangrenyep.

Bahkan, perselingkuhan ini hingga melahirkan Kamarasa atau yang dikenal Banga.

Hal itu diungkap Sri Wintala Achmad dalam Hitam Putih Mahapatih Gajah Mada di mana dia menjelaskan bagaimana perselingkuhan itu menyebabkan Tamperan dan Pangrenyep sama-sama menderita batin.

Oleh karena skandal perselingkuhan ini, penerus tahta Sunda ini kurang disukai oleh rakyatnya. Tamperan menjadi Raja Sunda dari tahun 732 hingga 739.

Di lain pihak, Manarah (Ciung Wanara) yang mendapat dukungan Ki Balangantrang dari Geger Sunten secara diam-diam mempersiapkan rencana untuk merebut tahta Galuh.

Hingga akhirnya pada hari bertepatan pesta sabung jago, pasukan Manarah menyerbu Galuh. Kudeta Manarah menuai hasil.

Raden Wijaya Pewaris Hak Tahta Kerajaan Sunda Galuh, Pendiri Kerajaan Majapahit Dalam waktu singkat, Galuh dapat dikuasai Manarah.

Tamperan, Pangrenyep, dan Banga ditawan di gelanggang sabung ayam. Banga yang dibiarkan bebas oleh Manarah mengeluarkan Tamperan dan Pangrenyep dari tahanan.

Nahas, Tamperan dan Pangrenyep yang melarikan diri pada malam hari itu tewas dihujani ribuan panah oleh pasukan Geger Sunten.

Berita kematian Tamperan didengar Sanjaya yang telah memerintah di Kerajaan Medang atau Mataram Kuno periode Jawa Tengah.

Oleh karenanya, Sanjaya segera mengerahkan pasukannya untuk menyerang Galuh. Manarah yang mendapatkan laporan dari telik sandi bersiaga untuk menghadapi pasukan Medang.

Dengan mendapat dukungan sisa-sisa pasukan Indraprahasta (Wanagiri) dan raja-raja Kuningan, pasukan Galuh bertempur melawan pasukan Medang.

Wretikandayun itu berakhir usai dilerai Raja Resi Demunawan dari Saunggalah melalui Perjanjian Galuh (739). Perjanjian ini memutuskan Galuh diserahkan pada Manarah dan Sunda pada Banga.

Perjanjian tersebut pula menetapkan bahwa Banga menjadi raja bawahan. Sekalipun kurang berkenan, namun Banga tetap menerima kedudukan itu.

Untuk memperteguh Perjanjian Galuh, Manarah dan Banga dijodohkan dengan kedua cicit Demunawan. Manarah yang menjadi Raja Galuh bergelar Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana itu dinikahkan dengan Kancanawangi.

Sementara Banga yang menjabat sebagai raja Sunda bergelar Prabu Kretabuana Yasawiguna Aji Mulya dinikahkan dengan Kancanasari.

Dari perkawinannya dengan Kancanasari, Banga memiliki putra bernama Rakryan Medang yang kelak menjabat sebagai Raja Sunda bergelar Prabu Hulukujang (766-783).

Karenanya, anak perempuannya yang bernama Rakryan Medang mewariskan kekuasaannya pada Rakryan Hujungkulon (Prabu Gilingwesi) menantunya yang berkuasa di Sunda pada 783-795.

Namun, karena Rakryan Hujungkulon hanya memiliki anak perempuan, maka kekuasaan Sunda jatuh ke Rakryan Diwus (Prabu Pucukbhumi Dharmeswara) menantunya yang berkuasa pada 795-819.

Dari Rakryan Diwus, kekuasaan Sunda jatuh ke Rakryan Wuwus putranya yang menikah dengan putri Welengan (Raja Galuh 806-813).

Kekuasaan Galuh kemudian jatuh pada Rakryan Wuwus saat Prabu Linggabhumi saudara iparnya mangkat.

Selama menjabat sebagai raja Sunda, Rakryan Wuwus bergelar Prabu Gajahkulon.

Berita Terkait

Mengenal 5 karakter alpha woman, bukan berarti tidak memiliki sisi feminin
Mitos dan cerita menyedihkan di balik keindahan Situ Batu Karut Sukabumi
Lupakan KA Jaka Lalana Jakarta-Sukabumi, Nusantara Explorer Sleeper Train meluncur
Prabowo bentuk lembaga baru lagi, Universitas Republik Indonesia, ini tugasnya
Kenapa Lamine Yamal dan Keyne secara fisik berbeda?
Memahami harmonisasi budaya di Chinatown Sukabumi
Nomor 5 wanita Sukabumi, daftar artis punya gelar bangsawan Solo
Meskipun enak, kandungan gizi telur asin rendah

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 03:34 WIB

Mengenal 5 karakter alpha woman, bukan berarti tidak memiliki sisi feminin

Minggu, 26 Juli 2026 - 23:20 WIB

Mitos dan cerita menyedihkan di balik keindahan Situ Batu Karut Sukabumi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 05:13 WIB

Lupakan KA Jaka Lalana Jakarta-Sukabumi, Nusantara Explorer Sleeper Train meluncur

Sabtu, 25 Juli 2026 - 01:08 WIB

Prabowo bentuk lembaga baru lagi, Universitas Republik Indonesia, ini tugasnya

Jumat, 24 Juli 2026 - 01:19 WIB

Kenapa Lamine Yamal dan Keyne secara fisik berbeda?

Berita Terbaru

Selfi Nafilah tampil berhijab - Instagram

Hikmah

Artis asal Sukabumi diselimuti duka

Selasa, 28 Jul 2026 - 02:23 WIB

Puncak Habibie terbakar - Ist

Sukabumi

Puncak Habibie Sukabumi terbakar, kobaran api kian meluas

Senin, 27 Jul 2026 - 22:36 WIB