sukabumiheadline.com – Ada banyak tokoh sejarah asal Sukabumi dari berbagai kalangan. Banyak yang diketahui umum dan tercatat dalam buku sejarah, ada juga yang seolah “dilupakan”, salah satunya adalah seorang lelaki etnis Tionghoa kelahiran Sukabumi bernama Szetu Mei Sen.
Mei Sen adalah salah seorang penerjemah Presiden Sukarno khusus untuk tamu yang berasal dari Tiongkok dan atau berbahasa Mandarin. Jika Bung Karno (BK) kedatangan tamu dari Republik Rakyat Cina (RRC), maka Mei Sen lah penerjemahnya.
Dengan kemampuan bahasa Mandarin dan basic-nya sebagai wartawan, Mei Sen pun menjadi sosok kesayangan BK yang selalu dibawa kemanapun sang presiden pergi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rekomendasi Redaksi: KH Ahmad Djunaidi Rodlibillah, ulama asal Sukabumi imam shalat Bung Karno yang terlupakan
Lahir di Sukabumi dari keluarga guru yang revolusioner
Szetu Mei Sen lahir di Sukabumi tahun 1928 dari keluarga Tionghoa revolusioner yang sangat mencintai Indonesia. Ayahnya bernama Szetu Tjan juga seorang aktivis yang bergerak di bidang pendidikan.
Szetu Tjan tercatat Kepala Sekolah Menengah Tionghoa Guang Ren dan Pa Zhong. Sementara itu, ibunya Szetu Mei Sen juga ibunya seorang guru.
Di saat Jepang masuk menyerbu Indonesia, ayah-ibu Mei Sen terlibat dalam gerakan melawan Jepang bersama kaum nasionalis Indonesia. Sementara itu, Mei Sen saat itu baru berusia 14 tahun, bersama abangnya, Pa Sen sudah ikut membantu gerakan kemerdekaan. Mei Sen bersama ibunya tertangkap Jepang dan dijebloskan ke penjara selama 8-9 bulan.
Mei Sen dan kakaknya lebih dahulu dilepas, dan mereka berdua walau masih sangat muda sudah harus memikul tanggung jawab melanjutkan kehidupan keluarga yang ditinggal ayah-ibunya.
Mei Sen dan kakaknya harus menghidupi 3 adiknya yang lebih kecil. Mereka baru bisa bernafas lega setelah ayah-ibunya keluar penjara, pasca Jepang menyerah tanggal 15 Agustus 1945.
Sayangnya, hingga kini tak banyak informasi perihal keluarga Mei Sen di Sukabumi.

Rekomendasi Redaksi: Megawati Ingin Ada Patung Bung Karno di Setiap Daerah, Disentil Fadli Zon
Awal perkenalan Szetu Mei Sen dengan Bung Karno
Pada 1946, saat Mei Sen berusia 19 tahun, ia sudah bekerja sebagai wartawan di koran “Tian Sheng Ri-bao.” Suatu ketika masih di tahun yang sama, Mei Sen mendapatkan tugas ke Jogja untuk mengikuti sidang KNIP yang ternyata dilangsungkan di Kota Malang. Walhasil, Mei Sen harus melakukan perjalanan lagi dari Jogja ke Malang (Jawa Timur) menggunakan kereta api.
Dalam perjalanan kereta api dari Jogya ke Malang terjadi pertemuan Mei Sen dengan Presiden RI Soekarno, yang kebetulan satu gerbong. Pertemuan pertama dengan Presiden Soekarno itulah, menentukan jalan hidup diri Mei Sen kemudian, menjadi seorang yang luar biasa.
Rekomendasi Redaksi: Rayuan Maut Bung Karno kepada 5 Wanita yang Berhasil Dinikahinya
Turut mensukseskan KAA 1955 di Bandung
Sebagaimana diketahui, Konferensi Asia-Afrika (KAA) adalah gagasan BK untuk menyatukan negara-negara sedang berkembang melawan kolonialis/imperialis.
Pada saat menjajaki 4 negara yang akan dijadikan negara sponsor, India, Pakistan, Srilanka dan Burma, ternyata Pakistan dan Srilanka yang ketika itu sangat antikomunis, tidak ingin RRC ikut serta. Tentu saja hal tersebut menjadi ganjalan bagi BK yang justru menghendaki RRC berpartisipasi. Apa arti Konfrensi AA kalau RRC, negara besar di Asia itu tidak hadir? Demikian benak BK.
Lalu, BK memanggil Mei Sen muda ke istana. BK minta Mei Sen menyampaikan informasi pada pemerintah Cina, bahwa Indonesia sedang merencanakan KAA dan hendak mengikutsertakan Cina. Mei Sen sebagai wartawan diminta membocorkan “rahasia” bahwa ada beberapa negara yang tidak setuju dengan keikutsertaan RRC.
Tujuannya adalah agar pihak Pemerintah RRC dengan tepat mengetahui situasi negara-negara yang akan dihadapi dalam KAA dan dengan demikian RRC tidak terpancing emosi dan menjamin KAA mencapai sukses.
Singkat cerita, PM RRC Chou En Lai mendapat serangan dari wakil Srilanka dan Pakistan dalam pidato mereka. Namun PM En Lai tak terpancing dan KAA tidak menjadi kacau dan bisa mencapai sukses mempersatukan negara-negara di Asia dan Afrika kala itu.

Rekomendasi Redaksi: Misteri tongkat komando Bung Karno dan ini sosok wanita yang mewarisinya
Meninggal dunia Macau dan kesaksian Mei Sen
Pada 1965 terjadi pemberontakan G30S/PKI yang diikuti oleh Gestok (Gerakan Satu Oktober), yaitu gerakan pembersihan elemen-elemen pemberontakan pada tanggal 30 September.
Mei Sen yang dinilai dekat dengan RRC karena menjadi penerjemah bahasa mandarin dikhawatirkan BK menjadi target penangkapan.
BK menyuruh Mei Sen untuk pergi ke luar negeri, dan Mei Sen memilih pergi ke Macau. Di Macau, Mei Sen pernah dmintai untuk bersaksi tentang keterlibatan RRC dalam pemberontakan G30S/PKI.
Kesaksian Mei Sen disampaikan lewat faks kepada Kolonel (Pur) Maulwi Saelan, Wakil Komandan Tjakrabirawa pada 7 Desember 2005. Oleh Saelan, faks tersebut disampaikan dalam forum diskusi buku “Kudeta 1 Oktober 1965—Sebuah Studi Tentang Konspirasi.”
Dengan berbagai pertimbangan, sampai akhir hayatnya Mei Sen tak pernah kembali ke Indonesia dan ke Sukabumi. Bahkan ketika Presiden Megawati memintanya pulang, ia menolaknya. Walau tinggal di Macau, Mei Sen kerap “diminta” menjaga hubungan baik Indonesia dengan RRC sebagai dua negara berdaulat. Dan Mei Sen dianggap berjasa dalam menjaga hubungan Indonesia-RRC.
Mei Sen meninggal dan dimakamkan di Macau pada Oktober 2010 di usia 82 tahun. Pada saat dilangsungkan upacara belasungkawa perpisahan terakhir pada tanggal 19 Oktober 2010 di rumah duka Jing Hu, Macau, nampaklah kebesaran Szetu Mei Sen yang dihargai dan dihormati rakyat kedua Negara, Indonesia-RRC.
Dubes RRC di Jakarta Zhang Qiyue mengenang Mei Sen, “Sekalipun beliau (Mei Sen) telah meninggal dunia, apa yang beliau sumbangkan tetap berada di hati rakyat kedua bangsa.”
Mantan Presiden RI Megawati termasuk pengirim bunga dari Indonesia. Mantan Gubernur Macau, He Hou Hua berperan sebagai ketua panitia belasungkawa. Gubernur Macau, Cui Shi An pun memerlukan hadir menyatakan belasungkawa pada keluarga Mei Sen yang ditinggalkan.
Di Jakarta pernah dilangsungkan kegiatan “Mengenang Bapak Almarhum Szetu Mei Sen” yang diselenggarakan Lembaga Kerja Sama Ekonomi, Sosial dan Budaya Indonesia-Cina bersama keluarga mendiang Mei Sen pada tanggal 7 Maret 2011 di Grand Sahid Jaya. Beberapa tokoh yang hadir di antaranya Megawati Soekarnoputri, Sudradjat (mantan dubes RI di Beijing ) dan mantan Komandan Tjakrabirawa, Maulwi Saelan.
Tulisan ini disarikan dari: Tionghoa Sukabumi penerjemah Bung Karno, 5 hal mengenal Szetu Mei Sen