Nuansa Etnis dalam Jakarta Muslim Fashion Week 2022

- Redaksi

Selasa, 25 Oktober 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta Muslim Fashion Week 2023 telah diselenggarakan pada 20-22 Oktober 2022 di ICE BSD, Tanggerang, Banten. l MGI

Jakarta Muslim Fashion Week 2023 telah diselenggarakan pada 20-22 Oktober 2022 di ICE BSD, Tanggerang, Banten. l MGI

SUKABUMIHEADLINE.com l Acara Jakarta Muslim Fashion Week 2023 telah diselenggarakan pada 20-22 Oktober 2022 di ICE BSD, Tanggerang, Banten. Berbagai brand dan desainer menunjukkan koleksinya. Seperti diketahui, Indonesia memiliki berbagai keindahan yang bisa diangkat sebagai inspirasi dalam berbagai karya termasuk busana.

Salah satunya Nbrs Corporation. Tujuan keikutsertaan mereka dalam acara Jakarta Muslim Fashion Week 2023 ingin meramaikan kembali pasar retail yang sempat redup akibat selama dua tahun terakhir akibat wabah pandemi COVID-19.

“Keikutsertaan Nbrs Corporation dalam acara Jakarta Muslim Fashion Week tahun ini selaras dengan bentuk komitmen yang ditanamkan oleh Kementrian Perdagangan yaitu untuk mengembangkan dan mempromosikan busana muslim tidak hanya di dalam negeri, namun juga di luar negeri,” kata Ikhsan selaku marketing director Nbrs Corp seperti diberitakan republika.co.id.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka mengangkat tema Raya dalam keikutsertaannya pada tahun ini. Tema ini diangkat berdasarkan filosofi yang merupakan bentuk rasa syukur, semangat dan selebrasi setelah berangsur-angsur bisa terlepas dari situasi pandemi yang membatasi kita dalam beraktivitas.

Tema tersebut diangkat sebagai bentuk syukur dan semangat untuk menyambut kembali hari Raya. Koleksi yang hadir di acara JMFW 2023 ini mengangkat wastra Nusantara yakni tenun dari Nusa Tenggara (Lombok dan Sumba) dengan nuansa warna earth tone serta desainnya yang ready to wear.

“Ini merupakan bentuk cinta dan support nbrs corp terhadap bahan kain-kain lokal, untuk di ekspose ke publik bahwa Indonesia ini sangat kaya dan beragam kain-kain yang sangat indah dan tentunya unik. Selain itu ini merupakan bagian kecil support nbrs corp untuk agenda besar Indonesia menjadi kiblat busana muslim dunia,” ujarnya.

Selain itu, Oki Setiana Dewi juga turut hadir dalam acara tersebut. Ia menyambut baik bahkan memuji karya-karya tersebut.

“Senang dan bahagia melihat baju yang terbuat dari kain-kain daerah, dan tentunya terekspos baik secara nasional dan internasional,” ucap Oki Setiana Dewi.

“Indonesia sangat kaya dengan kain-kain cantiknya, dan tentunya makin cinta dengan budaya Indonesia,” sambungnya lagi.

Berita Terkait

Pernah dibuang ke Sukabumi, kini film Hamka Awal Mula dibintangi artis asal Kota Mochi
Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya
Owner Batik Lokatmala Sukabumi dukung kurikulum batik untuk SD hingga SMA
42 universitas di Indonesia masuk Times Higher Education World University Rankings 2027
6 tren kuliner 2027, cita rasa lokal dan Asia Timur: Ramen Birria, Burger Taco hingga Cinnamon Roll Focaccia
Tidak demam tapi tubuh terasa panas, ini penyebab dan cara mengatasinya
Kebijakan tidak naik kelas, Guru di Sukabumi ingatkan Kemendikdasmen harus hati-hati
5 tantangan laki-laki Gen Z 2027: Krisis biaya hidup hingga resesi seks

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 04:29 WIB

Pernah dibuang ke Sukabumi, kini film Hamka Awal Mula dibintangi artis asal Kota Mochi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:26 WIB

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:30 WIB

Owner Batik Lokatmala Sukabumi dukung kurikulum batik untuk SD hingga SMA

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:00 WIB

42 universitas di Indonesia masuk Times Higher Education World University Rankings 2027

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:00 WIB

6 tren kuliner 2027, cita rasa lokal dan Asia Timur: Ramen Birria, Burger Taco hingga Cinnamon Roll Focaccia

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB