sukabumiheadline.com – Perubahan suhu, curah hujan, hilangnya habitat alami, serta pergeseran sumber pakan mendorong ular berpindah ke area yang lebih dekat dengan aktivitas manusia.
Kondisi tersebut, menurut dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University, Prof Mirza Dikari Kusrini, dipicu perubahan iklim dan alih fungsi lahan, sehingga berpotensi meningkatkan frekuensi pertemuan antara ular dan manusia.
Dikutip sukabumiheadline.com dari laman resmi IPB University, Dikari Kusrini menjelaskan bahwa perubahan iklim memengaruhi perilaku, distribusi, dan pola pergerakan ular.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sebagai hewan ektotermik, ular sangat bergantung pada kondisi lingkungan untuk mengatur suhu tubuhnya. Peningkatan suhu rata-rata dapat mengubah pola aktivitas harian dan musiman ular, termasuk waktu berburu, reproduksi, dan penggunaan habitat,” ujarnya dikutip Selasa (9/6/2026).
Menurut Prof Mirza, yang juga pakar ekologi satwa liar, perubahan pola curah hujan, banjir, kekeringan berkepanjangan, hingga kejadian cuaca ekstrem juga dapat menurunkan kualitas habitat alami. Akibatnya, ular mencari lokasi alternatif yang masih menyediakan perlindungan dan sumber makanan.
Salah satu alasan ular masuk ke dalam permukiman manusia atau rumah, karena umumnya tersedia tikus, ayam, kolam, saluran drainase, serta berbagai tempat berlindung. Selain itu, ketika populasi mangsa seperti rodensia (hewan pengerat) dan amfibi bergeser akibat perubahan lingkungan, ular cenderung mengikuti distribusi mangsanya.
Waspada kobra hingga sanca
Dijelaskan Prof Mirza, fenomena pergeseran habitat ular sangat mungkin terjadi di Indonesia. Kenaikan suhu dan perubahan pola hujan diperkirakan akan memengaruhi distribusi sejumlah spesies ular, terutama yang hidup di kawasan pertanian dan pinggiran permukiman.
“Ular yang sering ditemukan di lanskap pertanian dan pinggiran permukiman seperti ular kobra, ular welang, dan weling yang makanannya rodensia berpotensi bergeser ke permukiman dan meningkatkan potensi gangguan terhadap manusia,” jelasnya.
Ia menambahkan, alih fungsi lahan dan fragmentasi habitat justru sering menjadi faktor yang lebih langsung dibandingkan perubahan iklim dalam meningkatkan interaksi manusia dan ular. Hilangnya habitat alami memaksa ular mencari tempat berlindung, pasangan, maupun sumber makanan di area yang dekat dengan manusia.

Untuk mengurangi risiko konflik dan gigitan ular, Prof Mirza mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, menutup celah bangunan, serta menghindari upaya menangkap atau membunuh ular tanpa pelatihan.
“Strategi mitigasi yang ideal bukanlah menghilangkan ular dari lingkungan, melainkan mengurangi risiko interaksi berbahaya sambil mempertahankan fungsi ekologisnya,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa ular merupakan predator penting yang membantu mengendalikan populasi tikus dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Pemerintah juga perlu memperkuat sistem respons konflik satwa, meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam penanganan gigitan ular, serta mendorong penelitian dan pengembangan antivenom dan Venom Detection Kits (VDK) untuk membantu identifikasi jenis bisa ular dan meningkatkan efektivitas penanganan kasus gigitan.
Selain itu, habitat dan koridor ekologis perlu dilindungi untuk mengurangi perpindahan satwa ke kawasan permukiman.









