Waspada kobra hingga sanca, pakar IPB University: Perubahan iklim potensi ular masuk rumah

- Redaksi

Selasa, 9 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi ular kobra masuk ke dalam rumah - sukabumiheadline.com

Ilustrasi ular kobra masuk ke dalam rumah - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Perubahan suhu, curah hujan, hilangnya habitat alami, serta pergeseran sumber pakan mendorong ular berpindah ke area yang lebih dekat dengan aktivitas manusia.

Kondisi tersebut, menurut dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University, Prof Mirza Dikari Kusrini, dipicu perubahan iklim dan alih fungsi lahan, sehingga berpotensi meningkatkan frekuensi pertemuan antara ular dan manusia.

Dikutip sukabumiheadline.com dari laman resmi IPB University, Dikari Kusrini menjelaskan bahwa perubahan iklim memengaruhi perilaku, distribusi, dan pola pergerakan ular.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sebagai hewan ektotermik, ular sangat bergantung pada kondisi lingkungan untuk mengatur suhu tubuhnya. Peningkatan suhu rata-rata dapat mengubah pola aktivitas harian dan musiman ular, termasuk waktu berburu, reproduksi, dan penggunaan habitat,” ujarnya dikutip Selasa (9/6/2026).

Menurut Prof Mirza, yang juga pakar ekologi satwa liar, perubahan pola curah hujan, banjir, kekeringan berkepanjangan, hingga kejadian cuaca ekstrem juga dapat menurunkan kualitas habitat alami. Akibatnya, ular mencari lokasi alternatif yang masih menyediakan perlindungan dan sumber makanan.

Salah satu alasan ular masuk ke dalam permukiman manusia atau rumah, karena umumnya tersedia tikus, ayam, kolam, saluran drainase, serta berbagai tempat berlindung. Selain itu, ketika populasi mangsa seperti rodensia (hewan pengerat) dan amfibi bergeser akibat perubahan lingkungan, ular cenderung mengikuti distribusi mangsanya.

Waspada kobra hingga sanca

Dijelaskan Prof Mirza, fenomena pergeseran habitat ular sangat mungkin terjadi di Indonesia. Kenaikan suhu dan perubahan pola hujan diperkirakan akan memengaruhi distribusi sejumlah spesies ular, terutama yang hidup di kawasan pertanian dan pinggiran permukiman.

“Ular yang sering ditemukan di lanskap pertanian dan pinggiran permukiman seperti ular kobra, ular welang, dan weling yang makanannya rodensia berpotensi bergeser ke permukiman dan meningkatkan potensi gangguan terhadap manusia,” jelasnya.

Ia menambahkan, alih fungsi lahan dan fragmentasi habitat justru sering menjadi faktor yang lebih langsung dibandingkan perubahan iklim dalam meningkatkan interaksi manusia dan ular. Hilangnya habitat alami memaksa ular mencari tempat berlindung, pasangan, maupun sumber makanan di area yang dekat dengan manusia.

Ilustrasi alih fungsi lahan oleh penambang ilegal yang memicu penggundulan hutan - sukabumiheadline.com
Ilustrasi alih fungsi lahan oleh penambang ilegal yang memicu penggundulan hutan – sukabumiheadline.com

Untuk mengurangi risiko konflik dan gigitan ular, Prof Mirza mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, menutup celah bangunan, serta menghindari upaya menangkap atau membunuh ular tanpa pelatihan.

“Strategi mitigasi yang ideal bukanlah menghilangkan ular dari lingkungan, melainkan mengurangi risiko interaksi berbahaya sambil mempertahankan fungsi ekologisnya,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa ular merupakan predator penting yang membantu mengendalikan populasi tikus dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Pemerintah juga perlu memperkuat sistem respons konflik satwa, meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam penanganan gigitan ular, serta mendorong penelitian dan pengembangan antivenom dan Venom Detection Kits (VDK) untuk membantu identifikasi jenis bisa ular dan meningkatkan efektivitas penanganan kasus gigitan.

Selain itu, habitat dan koridor ekologis perlu dilindungi untuk mengurangi perpindahan satwa ke kawasan permukiman.

Berita Terkait

5 fakta Surili, hewan endemik Gunung Halimun Salak Sukabumi
GNW: Sukabumi kehilangan 160 ha hutan primer basah dalam 4 tahun
Urus sampah dan kemiskinan, 1.555 mahasiswa Unpad ke Sukabumi, Cianjur, Garut dan Tasikmalaya
10 daerah dengan mdpl tertinggi di Jawa Barat, ada Sukabumi, Cianjur dan Garut
BRIN riset penerapan Participatory Geospartial Mapping berbasis big data di Sukabumi
Kunang-kunang sudah jarang terlihat, tanda kualitas lingkungan menurun
Mengenal sejarah HPGW Sukabumi, hutan pendidikan sekaligus tempat nongkrong
Kabupaten Sukabumi hasilkan 35.718 ton sampah per hari

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 20:16 WIB

5 fakta Surili, hewan endemik Gunung Halimun Salak Sukabumi

Minggu, 16 Agustus 2026 - 02:26 WIB

GNW: Sukabumi kehilangan 160 ha hutan primer basah dalam 4 tahun

Selasa, 7 Juli 2026 - 18:27 WIB

Urus sampah dan kemiskinan, 1.555 mahasiswa Unpad ke Sukabumi, Cianjur, Garut dan Tasikmalaya

Senin, 6 Juli 2026 - 17:51 WIB

10 daerah dengan mdpl tertinggi di Jawa Barat, ada Sukabumi, Cianjur dan Garut

Kamis, 25 Juni 2026 - 21:11 WIB

BRIN riset penerapan Participatory Geospartial Mapping berbasis big data di Sukabumi

Berita Terbaru

Ilustrasi perempuan sedang duduk di dalam bus - sukabumiheadline.com

Tak Berkategori

Armada dan rute Sukabumi – Bandara Husein Sastranegara Bandung

Minggu, 30 Agu 2026 - 04:42 WIB

WNA China diusir dari Sukabumi

Regulasi

Nikahi perempuan Sukalarang, WNA China diusir dari Sukabumi

Sabtu, 29 Agu 2026 - 16:05 WIB