Perjuangan Lansia di Parungkuda Sukabumi Biayai 3 Anak Sekolah dari Hasil Memulung

- Redaksi

Jumat, 3 Juni 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Engkos Kosim, pemulung asal Parungkuda. l sukabumiheadline.com

Engkos Kosim, pemulung asal Parungkuda. l sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com l PARUNGKUDA – Siapa tak ingin hidup serba berkecukupan, serba mudah mendapatkan apapun yang diinginkan. Tetapi Tuhan selalu memiliki caraNya sendiri untuk menyeimbangkan kehidupan. Terkadang hidup terasa serba mudah, tapi ada kalanya terasa sempit sehingga seakan hanya kitalah satu-satunya yang menderita.

Demikian dengan Engkos Kosim, seorang lansia asal Kampung Leuwiorok, Desa Sundawenang, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Hingga usianya menginjak 71 tahun, ia setia menjalani hidup sebagai pemulung barang bekas.

Jika siang, suami dari Eja (67), itu memulung barang bekas ke arah Cicurug. Sedangkan, setiap malam hari, ia menyusuri jalanan mencari sampah plastik dan kardus bekas ke arah Cibadak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Wajahnya terlihat keras, dengan keriput tampak terlihat di sebuah bagian tubuhnya. Dari mulai wajah, hingga jari jemari tangannya. Namun, dari caranya bertutur, jelas bahwa sosok ayah enam anak ini seorang yang lembut.

Menurut Kosim, setiap siang hari, ia menjalani aktivitasnya memulung mulai jam 10.00 atau 12.00 WIB. Sedangkan, malam hari ia keluar rumah untuk memulung dimulai pukul 22.00 WIB.

Jumat (3/6/2022) dinihari pukul 00.20 WIB, Kosim terlihat sedang mengaduk-aduk tumpukan sampah sisa katering. Satu per satu boks nasi kotak dan air minum dalam kemasan ia rapikan di dalam karung besar yang ia siapkan.

Membiayai Anak Sekolah dari Hasil Memulung

Menurut Kosim, tiga dari enam anaknya sudah berumah tangga. Sedangkan tiga lainnya masih duduk di bangku sekolah tingkat dasar.

Baca Juga :  Wirananta tipu ratusan juta, pria asal Sukabumi ngaku polisi, BC hingga anggota BIN

“Saya masih punya tiga anak yang masih sekolah,” jawab Kosim ketika mendapatkan pertanyaan sukabumiheadline.com, kenapa setua itu masih memulung hingga larut malam.

Menurutnya, dua dari tiga anaknya yang masih sekolah, itu masih duduk di bangku SD. Sedangkan, satu lagi duduk di kelas 9. “Hoyong lebet SMA, tapi duka. Kumaha engkin we (ingin masuk SMA, tapi liat nanti saja),” ujar dia.

Sudah 23 Tahun Menjadi Pemulung

Diakuinya, ia memilih menjadi pemulung sejak tahun 1995. Menurut dia, dulu relatif sedikit pesaing dalam memulung barang bekas.

“Dulu mah alhamdulillah, mungkin karena masih sedikit pemulung, jadi hasilnya juga suka banyak. Sekarang sampah semakin banyak, tapi pemulungnya juga banyak,” tutur Kosim.

“Dulu, kalau sekali jalan ke arah Pasar Cibadak, alhamdulillah. Selalu banyak hasilnya,” tambah dia.

Kalah Bersaing dengan Sesama Pemulung

Tak hanya itu, sejak awal berdiri Pasar Parungkuda, ia mengaku selalu ketiban rezeki lumayan besar. Meskipun kemudian, ia kerap kali meminjam uang ke pengelola toilet umum di pasar untuk modal membeli kardus bekas di toko-toko yang ada di pasar.

Namun, saat ini, ia mengaku sudah tidak bisa lagi bersaing karena harga beli barang bekas yang melambung.

“Sekarang mah, sejak pasarnya direnovasi, sudah tak sanggup lagi beli barang bekasnya. Harga belinya naik jauh, sementara harga jual susah naiknya,” tuturnya.

Pendapatan Sebulan dari Memulung

Ketika mendapat pertanyaan terkait penghasilannya dalam satu hari, Kosim mengaku antara Rp50 ribu sampai Rp60 ribu. “Ya sehari dari siang sampai subuh, dapat 50 ribu sampai 60 ribu Rupiah,” kata dia.

Baca Juga :  Mie Ayam Bah Amat di Nagrak Sukabumi, Cuma Rp7.000 Perut Kenyang

Menurutnya, sampah cup plastik bekas air minum misalnya, meskipun terlihat banyak, tapi harga jual per kilogramnya hanya Rp5 ribu.

“Keliatannya sih memang banyak, tapi harga jualnya cuma lima ribu Rupiah per kilogram. Jadi kalau seminggu dapat satu karung, isinya cuma lima kilogram,” kata Kosim dengan senyum berat seraya menghela nafasnya yang tersengal karena terlalu lama membungkukkan badan.

Ditambahkannya, ia biasa menjual barang bekasnya sebulan sekali. Dari hasil menjual barang bekas selama sebulan itu, Kosim meraup hasil sekira Rp1,2 juta hingga Rp1,5 juta.

“Suka nunggu sebulan, nunggu dapat satu mobil touring (ukuran Carry pickup), baru saya jual,” ujar dia.

Ketika ditanya caranya memenej keuangan keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dari mulai makan hingga biaya sekolah anak-anaknya, Kosim menjawab bahwa ia biasa nyetok kebutuhan makan untuk satu bulan ke depan.

“Jadi seperti beras, saya biasa membeli untuk satu bulan ke depan. Dulu sih cukup kebantu karena mendapat PKH (Program Keluarga Harapan), tapi sekarang sudah enggak dapat. Enggak tahu kenapa, mungkin sudah bukan rezeki,” jawab dia.

Setelah tidak lagi mendapatkan PKH, ia mengaku dipaksa keadaan untuk menikmati pekerjaannya tersebut. Meskipun diakuinya, memang sulit mencari pilihan pekerjaan selain menjadi pemulung.

“Yang penting bisa makan dan menyekolahkan anak-anak. Mudah-mudahan anak anak saya bisa bernasib lebih baik,” pungkas dia.

Berita Terkait

Pria pemilik senapan angin di Sukabumi diamankan polisi
Pasien melahirkan di Jampang Tengah Sukabumi harus ditandu, bayi keburu meninggal dunia
DPRD Kabupaten Sukabumi minta pemkab serius urus ekonomi, kesehatan, sampah, infrastruktur
Kecamatan MDPL tertinggi di Sukabumi, bukan Parakansalak, Kabandungan, Kadudampit
Ribuan orang dijebloskan ke sel Polres Sukabumi Kota? Dipicu pengangguran?
Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi minta agroindustri dan pariwisata bersinergi
Terlilit utang, sopir pickup di Sukabumi berpura-pura dibegal
Lereng Gunung Salak di Cidahu Sukabumi dirusak, eks menteri ini ngamuk

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 04:12 WIB

Pasien melahirkan di Jampang Tengah Sukabumi harus ditandu, bayi keburu meninggal dunia

Selasa, 3 Februari 2026 - 16:54 WIB

DPRD Kabupaten Sukabumi minta pemkab serius urus ekonomi, kesehatan, sampah, infrastruktur

Selasa, 3 Februari 2026 - 15:24 WIB

Kecamatan MDPL tertinggi di Sukabumi, bukan Parakansalak, Kabandungan, Kadudampit

Senin, 2 Februari 2026 - 00:01 WIB

Ribuan orang dijebloskan ke sel Polres Sukabumi Kota? Dipicu pengangguran?

Minggu, 1 Februari 2026 - 02:28 WIB

Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi minta agroindustri dan pariwisata bersinergi

Berita Terbaru


Notice: Fungsi WP_Styles::add ditulis secara tidak benar. The style with the handle "thickbox" was enqueued with dependencies that are not registered: dashicons. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.9.1.) in /home/sukaheadline/htdocs/sukabumiheadline.com/wp-includes/functions.php on line 6131