sukabumiheadline.com – Saat ini sedang hangat diperbincangkan publik bahwa Airlangga Hartarto dipaksa turun atau mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar.
Seperti diketahui, Airlangga telah menyatakan mundur dari kursi Ketum Golkar per Sabtu 10 Agustus 2024 lalu. Selanjutnya, Agus Gumiwang Kartasasmita diangkat menjadi pelaksana tugas atau Plt Ketum Partai Golkar dalam rapat pleno DPP partai berlambang pohon beringin itu.
Baca Juga:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Airlangga Hartarto, cucu pejuang kemerdekaan asal Sukabumi
Tidak banyak yang mengetahui jika Ketua Umum (Ketum) DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto memiliki darah Sukabumi dari sang ibu.
Airlangga Hartarto lahir di Surabaya, pada 1 Oktober 1962 dari pasangan Hartarto Sastrosoenarto-R. Hartini Soekardi.
Meskipun lahir di Surabaya, tapi ia meneruskan sekolah menengahnya di SMA Kolese Kanisius Jakarta. Dia juga dikenal sebagai pribadi yang aktif. Saat di SMA, dia menjadi ketua OSIS.
Airlangga dikenal sukses pada bidang pendidikan, dunia usaha, dan politik. Dia juga merupakan salah satu cucu dari tokoh pejuang kemerdekaan asal Sukabumi, Jawa Barat, R.H. Didi Sukardi.
Seperti diketahui, nama kakek Airlangga tersebut saat ini diabadikan sebagai nama jalan di Kota Sukabumi. Baca selengkapnya: Airlangga Hartarto, Menteri dan Politikus Berdarah Sukabumi
Sebelum mengemban amanah Ketum Golkar, Airlangga yang saat ini menjabat Menko Perekonomian, dan Ketua KPC-PEN, itu pernah menjabat anggota DPR RI dua periode. Setelah itu, pada periode pertama Presiden Jokowi, dia dipercaya sebagai Menteri Perindustrian.
Lantas, benarkah Airlangga di jatuhkan dari Ketum Partai Golkar?
Airlangga dijatuhkan dari Partai Golkar
Pendapat Airlangga Hartarto dijatuhkan tidak hanya dikemukakan pengamat politik Rocky Gerung, tapi juga oleh mantan Menko Polhukam, Mahfud MD.
Mahfud menyebut Airlangga telah dijatuhkan dari posisinya sebagai Ketum Partai Golkar meskipun telah berhasil mendongkrak suara partai beringin itu di Pemilu 2024.
Mahfud menyebut Menko Perekonomian tersebut bahkan dipaksa lengser sebelum masa jabatannya habis. Airlangga semestinya masih menjabat ketum Golkar hingga Desember 2024.
“Satu periode yang sekarang aja enggak habis udah dijatuhkan,” kata Mahfud saat mengisi kuliah umum di UGM, Rabu (14/8/2024).
Menurut Mahfud, tak ada yang pernah menyangka Airlangga bakal mendadak mengundurkan diri dari pucuk kepemimpinan Golkar.
“Airlangga hebat. Golkar dibawa dia naik, presiden di bawah dukungan Airlangga naik, Golkarnya kursinya naik, hebat, dikasih tiga periode. Baru ngomong-ngomong gitu, ini calon menteri utama unggulan, partainya besar, pemilunya sukses, malamnya jatuh. Ada apa?” ujarnya.
Namun demikian, untuk memastikan pendapatnya tersebut, bakal terjawab setelah gelaran musyawarah nasional yang mengagendakan memilih Ketum Golkar definitif pada 20 Agustus mendatang.
Tetapi Mahfud meyakini bahwa momen lengsernya Airlangga ini adalah bukti perpolitikan itu bersifat dinamis, bukan statis. Segala sesuatunya bisa berubah 180 derajat dalam waktu singkat sekalipun.
“Saya tidak tahu, apakah itu intervensi dari Pak Jokowi, atau itu sebenarnya ada orang-orang nakal mengatasnamakan Pak Jokowi, atau memang ada konflik internal, karena politik itu kepentingan, nah itu semua akan terjawab dari tiga alternatif itu, akan terjawab nanti sesudah munaslub atau munas yang dipercepat, yang konon di akhir Agustus,” ujarnya.
Sementara, Presiden Jokowi sebelumnya juga membantah tudingan sejumlah pihak yang menyebut dirinya cawe-cawe atau ikut campur dalam pengunduran diri Airlangga itu.
“Urusan pak Airlangga itu urusan internal partai. Jadi partai itu ada proses, ada mekanisme, silakan ditanyakan kepada Golkar, kepada pak Airlangga,” ujarnya.