sukabumiheadline.com – Kisah Menteri Kesehatan (Menkes) ke-5 (ke-7 termasuk penjabat) RI Dr Mohammad Ali membuat kebijakan yang membahagiakan bagu para penderita kusta, mungkin tidak banyak yang mengetahui. Bahkan bisa jadi, warga Sukabumi, Jawa Barat, sendiri tidak mengetahuinya.
Padahal, dokter yang memiliki nama lahir Lie Kiat Teng ini merupakan salah satu pejabat nasional yang lahir di Sukabumi.
Berita Terkait: Mengenang Lie Kiat Teng, Mualaf dari Sukabumi Jadi Menteri Kesehatan dan Politikus PSII
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari catatan sukabumiheadline.com, Mohammad Ali lahir pada 18 Agustus 1912. Ia meninggal dunia saat usia 70 tahun, yakni pada Juli 1983 di Jakarta. Lie Kiat Teng sendiri merupakan mualaf dan mengganti namanya menjadi Mohammad Ali.
Mohamad Ali lulusan Nederlandsch Indische Artsen School atau Sekolah Dokter Hindia Belanda di Surabaya, atau dikenal dengan singkatannya NIAS yang didirikan pada 1913 untuk penduduk pribumi. Saat ini NIAS telah berubah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.
Berita Terkait: Profil Mohammad Ali, Menteri Kesehatan RI ke-5 asal Sukabumi dan daftar Menkes era 1945-2026
Setelah lulus ia bekerja sebagai dokter pemerintah di Curup dan Bengkulu, kemudian pindah ke perusahaan tambang di Rejang Lebong. Selanjutnya, ia bekerja sebagai direktur di sebuah rumah sakit di Waringin Tiga.
Pada masa pendudukan Jepang Mohammad Ali menjabat kepala divisi kesehatan pemerintah. Kemudian pada masa pascakemerdekaan, ia ditunjuk menjadi dokter keresidenan di Palembang, Sumatera Selatan. Namun, beberapa tahun kemudian, ia mengundurkan diri dan membuka praktik sendiri.
Berita Terkait: Kisah 5 tokoh Sukabumi mualaf dan sukses jadi pengusaha, menteri, hingga istri pangeran

Mohammad Ali menjabat menjadi Menteri Kesehatan pada era Presiden Sukarno dengan Kabinet Ali Sastroamidjojo (Perdana Menteri ke-8) dengan masa jabatan 9 Oktober 1953 hingg 12 Agustus 1955. Meskipunenjabat hanya sekira dua tahun, namun kiprahnya untuk kemerdekaan Indonesia cukup banyak.
Mohammad Ali tercatat sebagai pencetus pembangunan sejumlah fakultas kedokteran untuk pemenuhan kebutuhan lokal dan nasional tenaga kesehatan atau medis. Ide tersebut diungkapkan pada Kongres Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada 1953 di Surabaya.
Ia kemudian membuat perjanjian dengan Mr. Van Valenberg bahwa pengobatan penyakit kusta disubsidi pemerintah mulai 27 November 1954.
Tak hanya itu, ia juga menghibahkan tanah miliknya untuk pembangunan Rumah Sakit dr. Moh. Hoesin di Palembang.
Untuk mengenang jasa-jasanya, Mohammad Ali diabadikan menjadi nama jalan di kawasan rumah sakit tersebut. Selain itu, ia juga dinilai sebagai salah seorang penentu nasib bangsa di awal kemerdekaan.









