Kisah Menteri Kesehatan asal Sukabumi bikin kebijakan subsidi pengobatan kusta

- Redaksi

Sabtu, 6 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lie Kiat Teng mengganti nama menjadi Mohammad Ali - Ilustrasi sukabumiheadline.com

Lie Kiat Teng mengganti nama menjadi Mohammad Ali - Ilustrasi sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Kisah Menteri Kesehatan (Menkes) ke-5 (ke-7 termasuk penjabat) RI Dr Mohammad Ali membuat kebijakan yang membahagiakan bagi para penderita kusta, mungkin tidak banyak yang mengetahui. Bahkan bisa jadi, warga Sukabumi, Jawa Barat, sendiri tidak mengetahuinya.

Padahal, dokter yang memiliki nama lahir Lie Kiat Teng ini merupakan salah satu pejabat nasional yang lahir di Sukabumi.

Berita Terkait: Mengenang Lie Kiat Teng, Mualaf dari Sukabumi Jadi Menteri Kesehatan dan Politikus PSII

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari catatan sukabumiheadline.com, Mohammad Ali lahir pada 18 Agustus 1912. Ia meninggal dunia saat usia 70 tahun, yakni pada Juli 1983 di Jakarta. Lie Kiat Teng sendiri merupakan mualaf dan mengganti namanya menjadi Mohammad Ali.

Mohammad Ali lulusan Nederlandsch Indische Artsen School atau Sekolah Dokter Hindia Belanda di Surabaya, atau dikenal dengan singkatannya NIAS yang didirikan pada 1913 untuk penduduk pribumi. Saat ini NIAS telah berubah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.

Berita Terkait: Profil Mohammad Ali, Menteri Kesehatan RI ke-5 asal Sukabumi dan daftar Menkes era 1945-2026

Setelah lulus ia bekerja sebagai dokter pemerintah di Curup dan Bengkulu, kemudian pindah ke perusahaan tambang di Rejang Lebong. Selanjutnya, ia bekerja sebagai direktur di sebuah rumah sakit di Waringin Tiga.

Pada masa pendudukan Jepang Mohammad Ali menjabat kepala divisi kesehatan pemerintah. Kemudian pada masa pascakemerdekaan, ia ditunjuk menjadi dokter keresidenan di Palembang, Sumatera Selatan. Namun, beberapa tahun kemudian, ia mengundurkan diri dan membuka praktik sendiri.

Berita Terkait: Kisah 5 tokoh Sukabumi mualaf dan sukses jadi pengusaha, menteri, hingga istri pangeran

Lie Kiat Teng mengganti nama menjadi Mohammad Ali. l Istimewa
Lie Kiat Teng mengganti nama menjadi Mohamad Ali – Ist

Mohammad Ali menjabat menjadi Menteri Kesehatan pada era Presiden Sukarno dengan Kabinet Ali Sastroamidjojo (Perdana Menteri ke-8) dengan masa jabatan 9 Oktober 1953 hingg 12 Agustus 1955. Meskipun menjabat hanya sekira dua tahun, namun kiprahnya untuk kemerdekaan Indonesia cukup banyak.

Mohammad Ali tercatat sebagai pencetus pembangunan sejumlah fakultas kedokteran untuk pemenuhan kebutuhan lokal dan nasional tenaga kesehatan atau medis. Ide tersebut diungkapkan pada Kongres Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada 1953 di Surabaya.

Selain itu, ia juga membuat perjanjian dengan Mr. Van Valenberg bahwa pengobatan penyakit kusta disubsidi pemerintah mulai 27 November 1954.

Tak hanya itu, ia bahkan menghibahkan tanah miliknya untuk pembangunan Rumah Sakit dr. Moh. Hoesin di Palembang.

Untuk mengenang jasa-jasanya, Mohammad Ali diabadikan menjadi nama jalan di kawasan rumah sakit tersebut. Selain itu, ia juga dinilai sebagai salah seorang penentu nasib bangsa di awal kemerdekaan.

Berita Terkait

Gundar Kolyubi dan Asep Japar pimpin Partai Golkar Kota dan Kabupaten Sukabumi
Dikenal tukang kritik pemerintah, kini Rocky Gerung jabat Wantimpres bersama 25 tokoh lain
Riwayat hidup dan profil bos buruh Said Iqbal, masuk Kabinet Prabowo-Gibran
Profil Dadan Hindayana: Eks Kepala BGN satu SMA Panglima TNI, dilantik Jokowi dipecat Prabowo
Profil, biodata dan harta Maulana Yusuf Erwinsyah, politikus PKB paling rajin kritik KDM
Profil dan karier Daniel Muttaqien, politisi Golkar Sukabumi: Sosok pemersatu
Kisah hidup, harta dan kontoversi Budi Arie, loyalis Jokowi dipecat Prabowo dari Menkop
Biodata dan profil Ono Surono: Politikus PDIP, teman yang kini berseberangan dengan KDM

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 03:00 WIB

Gundar Kolyubi dan Asep Japar pimpin Partai Golkar Kota dan Kabupaten Sukabumi

Jumat, 2 Oktober 2026 - 20:04 WIB

Dikenal tukang kritik pemerintah, kini Rocky Gerung jabat Wantimpres bersama 25 tokoh lain

Sabtu, 6 Juni 2026 - 03:46 WIB

Kisah Menteri Kesehatan asal Sukabumi bikin kebijakan subsidi pengobatan kusta

Jumat, 5 Juni 2026 - 04:52 WIB

Riwayat hidup dan profil bos buruh Said Iqbal, masuk Kabinet Prabowo-Gibran

Kamis, 4 Juni 2026 - 01:25 WIB

Profil Dadan Hindayana: Eks Kepala BGN satu SMA Panglima TNI, dilantik Jokowi dipecat Prabowo

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB