sukabumiheadline.com – Presiden Prabowo Subianto mendorong penggunaan genteng sebagai atap rumah di seluruh Indonesia. Ia menolak pemakaian atap seng yang dinilai mudah panas serta berkarat. Kebijakan tersebut akan dijalankan melalui gerakan proyek gentengisasi melibatkan pemerintah pusat dan daerah.
“Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Gerakannya adalah gerakan proyek gentengisasi,” kata Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center, Bogor, Senin (2/2).
Niat Prabowo tersebut tentunya menjadi peluang baik bagi industri genteng tradisional dan semi modern di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Baca selengkapnya: Proyek gentengisasi Prabowo, tantangan bagi industri genteng di Sukabumi
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, jika selama ini kita kenal tanah lempung sebagai bahan baku pembuatan genteng, ternyata tidak. Bahkan, belakangan pasir juga menjadi pilihan produsen genteng.
Selain itu, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa semen juga bisa diproduksi dengan bahan baku alternatif, dari mulai sabut kelapa, sampah plastik, ijuk, hingga graphene.
Baca Juga: Bye-bye seng, KDM siapkan aturan penggunaan ijuk, sirap, genteng

Berikut adalah 8 bahan baku genteng selain lempung, dirangkum sukabumiheadline.com dari sejumlah riset, Sabtu (7/2/2026).
8 bahan baku genteng selain lempung
Inovasi bahan baku genteng saat ini berfokus pada keberlanjutan (ramah lingkungan), pengurangan limbah, peningkatan daya tahan, dan efisiensi energi. Tren inovasi ini mencakup penggunaan material komposit, limbah daur ulang, serta teknologi pintar.
Berikut adalah beberapa inovasi bahan baku genteng terbaru:
1. Genteng Komposit dari Sampah Plastik dan Kaca: Kombinasi limbah plastik (seperti PET atau PP) dan kaca bekas digunakan untuk membuat genteng komposit yang kuat, ringan, dan tahan lama. Inovasi ini membantu mengurangi limbah plastik di lingkungan.
Bahan baku ini sudah diuji berdasarkan hasil riset mahasiswa Universitas Islam Indonesia, Abdul Rahman Jalil, dalam karyanya yang berjudul Inovasi Genteng Komposit dengan Menggunakan Plastik dan Kaca Bekas (Innovation of Composite Roof Using Used Plastic and Glass).
2. Genteng Beton dengan Limbah Styrofoam & Sabut Kelapa:
Bahan ini dikutip dari hasil riset berjudul Pemanfaatan Limbah Styrofoam Dan Serat Sabut Kelapa Sebagai Bahan Tambah Genteng Beton, karya Edy Hermanto, Kamaluddin Lubis, Fauziah Dwi Astuti, Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Medan Area.
Pemanfaatan limbah styrofoam sebagai campuran bahan semen untuk mengurangi berat genteng beton, serta serat sabut kelapa sebagai bahan tambah untuk meningkatkan daya tahan dan kelenturan.
3. Genteng Serat Alam (Pelepah Pisang & Ijuk): Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengembangkan genteng dari limbah pelepah pisang. Selain itu, serat ijuk juga digunakan sebagai komposit serat alam yang ramah lingkungan dan mampu terdegradasi secara alami.
Ketiga mahasiswa UNNES tersebut, Elok Ana Nuraini, Leni Sintawati dan Luthfi Hanum Saputri, merupakan satu tim pada kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), membuat hasil karya penelitian dengan memanfaatkan limbah pertanian serat pelepah pisang sebagai bahan campuran pembuatan genteng elastis dengan teknik cetak tekan, dalam tulisan berjudul Pemanfaatan Limbah Pertanian Serat Pelepah Pisang Sebagai Bahan Campuran Pembuatan Genteng Elastis Teknik Cetak Tekan.
4. Genteng Komposit Abu Boiler Kelapa Sawit (ABKS): Menggunakan campuran limbah abu boiler kelapa sawit, serat ban bekas, dan as-pal sebagai bahan baku genteng komposit polimer, sebagaimana dikutip dari hasil penelitian berjudul Pembuatan Komposit Polimer Berpenguat Serat Sintetik untuk Bahan Baku Genteng, karya Nuning Aisah’, Hanedi Darmasetiawan’, Sudirman’ dan Aloma Karo Karo, mahasiswa IPB University, Jurusan Fisika FMIPA.
5. Genteng Metal Berpasir (Zincalume): Inovasi metal pasir, seperti dilansir di laman resmi Bumi Lancang Kuning Pusaka, menggunakan baja lapis zincalume. Ini menawarkan daya tahan tinggi terhadap karat, korosi, dan perubahan cuaca, serta memiliki lapisan pasir yang berfungsi meredam kebisingan.

Sementara itu, tiga bahan baku lainnya dikutip dari cobexair.com didalam artikel bahasa Inggris berjudul 5 Innovative Roofing Materials for Modern Homes, yakni:
5+1. Genteng UPVC (Unplasticized Polyvinyl Chloride): Material ini ramah lingkungan karena dapat didaur ulang. Genteng UPVC memiliki lapisan anti-UV yang membuatnya tahan terhadap cuaca ekstrim dan panas matahari, sehingga ruangan di bawahnya lebih sejuk.
5+2. Genteng Surya (Solar Tiles): Genteng inovatif yang mengintegrasikan panel surya fotovoltaik ke dalam material atap. Ini memberikan fungsi ganda: perlindungan rumah dan pembangkit energi bersih.
5+3. Atap Graphene: Penggunaan material grafena (graphene) untuk melapisi genteng, yang meningkatkan kekuatan struktural dan ketahanan terhadap cuaca, menjadikannya sangat awet.
Inovasi bentuk dan metode
Selain bahan, inovasi juga terjadi pada bentuk, seperti “triple roof tile” dari beton yang menggabungkan tiga genteng menjadi satu unit interlock, mempercepat pemasangan dan meningkatkan efisiensi.
Di Indonesia, terdapat juga dorongan penggunaan kembali genteng tanah liat dengan teknologi press modern (program gentengisasi).









