sukabumiheadline.com – Sister Ika, namanya mendadak populer di Indonesia, khususnya Jawa Barat. Padahal, ia adalah sosok biarawati yang dikenal aktif melawan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Pemilik nama lengkap Suster Ika Fransiska Imakulata, SSpS. ini seorang Biarawati (Suster) dari kongregasi SSpS (Suster-Suster Misionaris Abdi Roh Kudus).
Selama ini, Suster Ika bertindak sebagai pendamping dan jembatan penyelamatan hingga memfasilitasi proses hukum bagi para korban TPPO. Ia aktif berjuang melawan TPPO, khususnya dalam membantu perempuan yang terjebak di dunia malam di wilayah NTT.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Suster Ika, bersama dengan tim, sering kali turun langsung dalam upaya penyelamatan dan pendampingan perempuan yang menjadi korban perdagangan manusia, menjadikannya figur yang dihormati dalam perlindungan perempuan di NTT.
Namanya belakangan ramai diperbincangkan di media sosial, karena menjadi penyelamat 13 perempuan asal Jawa Barat yang menjadi korban dugaan TPPO di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sepak terjang dan profil Suster Ika
Suster Ika selama ini aktif sebagai Ketua Tim Relawan Kemanusiaan untuk Flores (TRUK-F). Ia aktif mendampingi dan menyelamatkan korban perdagangan orang di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pada Januari 2026, ia berperan penting dalam menyelamatkan 13 perempuan asal Jawa Barat yang diduga menjadi korban TPPO di Kabupaten Sikka, NTT. Pada tahun 2021, ia juga turut mengadvokasi kasus perdagangan 17 anak di Sikka bersama Mabes Polri dan Komisi III DPR RI.
Ia dikenal sosok pemberani, peduli, dan konsisten dalam memperjuangkan hak-hak korban eksploitasi.
Suster Ika menggunakan pendekatan humanis dan advokatif, bekerja sama dengan aparat hukum, lembaga negara, serta jaringan relawan. Hal ini pun menjadikannya sebagai figur penting dalam gerakan anti-perdagangan orang di Flores dan NTT.
Kronologi penyelamatan 13 wanita asal Jawa Barat

Sebanyak 13 perempuan asal Jawa Barat diduga menjadi korban tindak pida perdagangan orang (TPPO). Ketiga belas perempuan yang masih muda-muda ini berada di dalam satu tempat penyekapan di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), karena diduga akan diperdagangkan oleh oknum tertentu.
Suster Ika adalah seorang Biarawati sekaligus Ketua Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRUK-F), lembaga advokasi Gereja Katolik yang terjun melakukan penyelamatan terhadap 13 korban TPPO asal Jawa Barat itu.
Bahkan, mereka diduga mengalami kekerasan, pelecehan seksual, diancam dan dipaksa bekerja di luar kontrak di Pub Eltras yaitu tempat hiburan malam dan pusat keramaian yang cukup ikonik di Maumere, NTT.
Kini, kasus dugaan TPPO yang dialami 13 perempuan asal Jawa Barat ini telah ditangani Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Dedi Mulyadi sudah berkoordinasi dengan biarawati katolik, Suster Ika, yang menjadi sosok penyelamat di kasus TPPO tersebut.
Adapun ke-13 wanita tersebut, 5 orang berasal dari Kabupaten Bandung, satu dari Purwakarta, 6 orang dari Cianjur, dan satu orang asal Indramayu.
Awal mula terungkapnya kasus ini bermula saat para korban meminta bantuan. Salah satu korban menghubunginya melalui pesan WhatsApp (WA) melakukan pengaduan kepadanya, pada 20 Januari 2026.
“Pertama kali itu saya dapat WA dari salah satu yang ke-13 orang ini, dia WA saya minta bantuan untuk mengeluarkan dia dari Pub Eltras,” ungkap Suster Ika, dikutip sukabumiheadline.com dari tayangan di kanal YouTube Lembur Pakuan, Selasa (24/2/2026).
Kepada Suster Ika, salah satu korban itu mengadu merasa tertekan dan depresi karena tidak diizinkan keluar dari kamar di tempatnya bekerja. Bahkan, untuk datang secara langsung ke kantor TRUK-F, korban tak bisa keluar.
Karena hal itu, Biarawati dan timnya dari TRUK-F bergerak meminta bantuan Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sikka untuk terjun bersama di hari berikutnya pada 21 Januari 2026.
Saat melakukan penyelamatan itu, Suster Ika dan beberapa polisi dari Polres berbagi tugas.
Pihak petugas Polres berjaga di luar, sementara itu Suster Ika menghampiri karyawan Eltras Pub untuk meminta bertemu dengan salah satu korban yang menghubunginya.
“Saya menyampaikan, izin bertemu dengan salah satu anak ini yang kirim WA, setelah itu kami dipersilakan masuk, jadi bukan kita serta-merta datang jemput langsung tidak, jadi kita izin ke pemilik pub-nya,” ujar Suster Ika Biarawati tersebut.
Setelah mendapatkan izin tersebut, Suster Ika masuk dan korban langsung keluar dari kamarnya dengan wajah ketakutan dan badan yang gemetar.
Suster Ika pun menenangkan korban tersebut dan langsung mengambil keterangan awal.
Keesokan harinya, Suster Ika kembali mendapat pesan WA dari tiga korban dari 13 perempuan asal Jabar tersebut. Ketiganya mengirimkan sejumlah foto yang menjadi bukti bahwa mereka mengalami kekerasan.
“Mereka menyampaikan langsung kirim foto-foto mereka yang mengalami kekerasan, pernah dipukul pemilik pub, ada bekas biru (lebam) pada badan mereka,” ungkap Suster Ika.
Biarawati Ika mengatakan bahwa para korban cerdas karena menyimpan bukti-bukti tersebut. Karena lewat bukti-bukti dari korban itu, pihaknya dapat langsung berkoordinasi dengan PPA Polres Sikka.
Para korban juga memberikan daftar nama mereka yang ingin keluar dari pub tersebut. Didampingi PPA Polres Sikka, Suster Ika menjemput 13 korban tersebut. Namun, saat meminta KTP para korban tak memilikinya karena ditahan pihak Pub Eltras.
“Pada saat kami minta KTP, ternyata mereka punya identitas yang seharusnya mereka pegang sebagai pekerja itu, tidak ada satu pun yang ditangan mereka, jadi saya langsung beri tahu pak Kasatreskrim untuk memintakan KTP mereka akhirnya langsung dikasih oleh manajer pub,” papar Suster Ika.
Sempat dihalangi kuasa hukum pemilik pub
Suster Ika menceritakan saat penjemputan korban, pemilik Pub Eltras (tempat hiburan) tidak sedang di tempat melainkan sedang berada di Jakarta). Namun, saat itu dia berkomunikasi dengan manajer hingga akhirnya kuasa hukum pemilik Pub Eltras datang.
Kuasa hukum tersebut langsung menuding seolah-olah pihaknya melakukan penjemputan sembarangan.
Bersyukurnya, protes kuasa hukum itu langsung dijawab Polres Sikka dengan menunjukkan Surat Perintah Penyidikan (Spindik) yang sebelumnya sudah dibuatkan bersama PPA Polres Sikka.
Berkat hal itu, akhirnya Suster Ika berhasil membawa ke-13 korban pada 23 Januari 2026 dini hari. Para korban tinggal di rumah aman untuk para korban kekerasan perempuan dan anak yang difasilitasi TRUK-F.
Hal itu dilakukan Suster Ika sekaligus melakukan pendampingan untuk para korban. Sejak itu, para korban melaporkan secara resmi ke kepolisian menempuh jalur hukum pada tanggal 6 Februari 2026 dan bergulir hingga sekarang.
Suster Ika mengira setelah penyidikan itu proses hukum langsung berlanjut pada penetapan tersangka, namun hingga saat ini belum dilakukan.
“Itu menjadi perhatian yang serius bagi kami tim advokasi yang terlibat karena pelaku itu belum ditetapkan jadi tersangka,” ujarnya.
Menurut Suster Ika, mereka terkendala karena pihak pelaku yang mengulur waktu pemanggilan dan pemeriksaan.
Suster Ika pun menyoroti kendala teknis hukum di mana penyidik menggunakan KUHP baru, bukan Undang-Undang TPPO (Lex Specialis), yang menurutnya membatasi ruang gerak penyidik saat berhadapan dengan pengacara pelaku.
Tiga belas perempuan yang masih muda-muda ini berada di dalam satu tempat penyekapan di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), karena diduga akan diperdagangkan oleh oknum tertentu.
Kondisi yang dialami 13 korban
Kepada Dedi Mulyadi, Suster Ika juga sempat menceritakan kondisi yang dialami para terduga korban TPPO asal Jawa Barat tersebut.
Ke-13 korba merupakan perempuan dari Jawa Barat (Jabar) ini berasal dari beberapa wilayah, di antaranya Bandung, Cianjur, Karawang dan Purwakarta.
Bahkan ada di antara korban yang masih remaja di bawah umur yang mulai bekerja sejak usia 15 tahun.
Para korban dibawa ke Maumere tidak secara bersamaan.
Mereka direkrut setelah ditawari pekerjaan dijanjikan gaji Rp 8 juta hingga Rp 10 juta per bulan, mendapatkan tempat tinggal, pakaian, fasilitas salon dan kecantikan gratis. Namun, setibanya di Maumere, NTT, tawaran pekerjaan itu justru jadi mimpi buruk bagi mereka.
Mereka dipaksa bekerja di luar kontrak, diminta membayar mes, makan hanya sekali sehari dan tidak diperbolehkan keluar dari area pub (tempat hiburan). Para korban juga dipaksa bekerja dan mengalami pelecehan seksual.
Meski begitu, kini kondisi korban tinggal di rumah aman TRUK-F dan mendapat pendampingan psikologis dan pendampingan hukum. Kondisi para korban pun kini berangsur membaik.
Dijemput langsung Dedi Mulyadi
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi dijadwalkan terbang ke Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk menjemput 13 warga Jabar, korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang dipekerjakan di sebuah tempat hiburan malam.
Ketua Tim Hukum Jabar Istimewa, Jutek Bongso mengatakan, Gubernur telah berkomunikasi langsung dengan para korban untuk memberikan dukungan moral dan berjanji segera memulangkan mereka di daerah asalnya masing-masing.
“Mudah-mudahan dalam waktu dekat semuanya dapat dipulangkan oleh Pak Gubernur Jawa Barat, ya. Pak Gubernur juga berencana akan menjemput mereka secara langsung ke NTT, ya,” ujar Jutek, Kamis (19/2/2026).
Jutek mengaku tidak tahu secara pasti, kapan Dedi Mulyadi akan terbang ke Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun yang pasti, pihak dari Polda Jabar sudah berkoordinasi dengan Polda NTT dan Polres Sikka.
“Kami tidak tahu kapan akan dijemput oleh Pak Gubernur, ya. Tapi yang pasti KDM (Kang Dedi Mulyadi) akan langsung ke NTT. Kami sudah berkoordinasi dengan berbagai lintas dinas dan juga dengan teman-teman di Polda Jabar, Mabes Polri, Polda NTT dan Polres, kami sudah rapat dan kami sudah koordinasikan,” ucapnya.
Dikatakan Jutek, langkah yang diambil Gubernur bukan untuk mencampuri proses hukum yang sedang berjalan di NTT. Tapi, upaya mempercepat penyelamatan para korban yang saat ini masih berada di rumah penampungan.
“Pak Gubernur sangat concern terhadap perlindungan perempuan dan anak. Beliau tidak ingin mereka menjadi korban dua kali. Mereka sudah mengalami dugaan kekerasan seksual dan TPPO, kondisi psikis mereka trauma dan menurun,” katanya.
Jutek menyebut, kondisi para korban sudah mulai membaik setelah dihubungi langsung oleh Dedi Mulyadi melalui sambungan video call.
Rencananya, Dedi akan terbang ke NTT untuk menjemput langsung para korban dan membawa kembali ke daerahnya masing-masing.
“KDM langsung yang akan menjemput, tapi belum tahu kapan berangkatnya, tapi yang pasti akan membawa mereka pulang untuk menyelamatkan masa depan mereka dan menyelesaikan persoalan mereka,” katanya.









