Mei kelabu, Sukhoi Superjet 100 tabrak Gunung Salak di Sukabumi-Bogor 45 tewas

- Redaksi

Selasa, 12 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pesawat Sukhoi Superjet 100 - Sukhoi

Pesawat Sukhoi Superjet 100 - Sukhoi

sukabumiheadline.com – Kecelakaan Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak terjadi pada 9 Mei 2012 ketika sebuah pesawat Sukhoi Superjet 100 menghilang dalam penerbangan demonstrasi yang berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Indonesia.

Pada 10 Mei 2012, reruntuhan Superjet Sukhoi terlihat di tebing di Gunung Salak, sebuah gunung berapi di perbatasan Kabupaten Sukabumi dan Bogor, Jawa Barat.

Karena bidang yang luas di mana puing-puing pesawat menabrak gunung, penyelamat menyimpulkan bahwa pesawat langsung menabrak sisi berbatu gunung dan bahwa “tidak ada peluang untuk hidup.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Alhasil, sebanyak 45 orang tewas pada peristiwa Mei kelabu tersebut, terdiri dari 37 penumpang dan 8 awak pesawat SSJ-100-95 dengan Nomor Registrasi RA-97004, msn 95004 itu.

Mengenang Mei kelabu, Sukhoi Superjet 100 jatuh di Gunung Salak Sukabumi, 45 orang tewas - Istimewa
Serpihan Sukhoi Superjet 100 jatuh di Gunung Salak Sukabumi, 45 orang tewas – Ist

Untuk informasi, Superjet 100 adalah pesawat penumpang produksi pertama yang diproduksi di Rusia sejak runtuhnya Uni Soviet.

Informasi dihimpun sukabumiheadline.com, pesawat mengudara dari Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Pesawat ini diproduksi pada tahun 2009 dan telah mengumpulkan lebih dari 800 jam terbang pada saat hilang.

Pesawat yang jatuh telah melakukan perjalanan demonstrasi dijuluki “Welcome Asia!” di seluruh Asia Tengah dan Asia Tenggara, setelah sebelumnya mengunjungi Kazakhstan, Pakistan, dan Myanmar; pesawat ini juga akan melanjutkan perjalanan ke Laos dan Vietnam.

Pada saat kecelakaan ini terjaadi, Sukhoi telah menerima 42 pesanan untuk jenis ini dari Indonesia, 170 secara keseluruhan, dan berencana untuk memproduksi hingga 1.000 pesawat. Namun, Kartika Airlines, sebuah maskapai penerbangan Indonesia, akhirnya menunda pengiriman 30 Sukhoi Superjet 100 setelah kecelakaan pesawat ini.

Joy flight

Mengenang Mei kelabu, Sukhoi Superjet 100 jatuh di Gunung Salak Sukabumi, 45 orang tewas - Istimewa
Kru pesawat Sukhoi Superjet 100 berpose sebelum jatuh di Gunung Salak Sukabumi, 45 orang tewas – Ist

Kedatangan pesawat tersebut adalah melalukan demo flight untuk memperkenalkan produk pesawat baru itu ke Indonesia. PT Tri Marga Rekatama adalah perwakilan atau agen Sukhoi Company di Indonesia.

Dalam demo penerbangan untuk kepentingan promosi itu pihaknya menyebar 100 undangan untuk mengikuti joy flight di Bandara Halim Perdanakusuma.

Yang diundang di antaranya pebisnis Indonesia yang bergerak di bidang penerbangan, wartawan, dan pihak-pihak lainnya. Joy flight dibagi dalam beberapa kloter dengan tujuan Bandara Halim Perdanakusumah-Pelabuhan Ratu-Bandara Halim Perdanakusuma.

Kloter pertama berlangsung lancar dan selamat. Setelah melakukan penerbangan sekitar 30-35 menit, pesawat mendarat sempurna di Bandara Halim Perdanakusuma.

Mengenang Mei kelabu, Sukhoi Superjet 100 jatuh di Gunung Salak Sukabumi, 45 orang tewas - Istimewa
Lokasi Sukhoi Superjet 100 jatuh di Gunung Salak Sukabumi, 45 orang tewas – Ist

Pada saat giliran kloter kedua take off, kloter kedua Superjet 100 diisi 50 orang. Sebanyak 42 orang merupakan para undangan, sedangkan delapan orang lainnya adalah awak pesawat yang di antaranya merupakan warga negara Rusia. Penerbangan kedua inilah yang bermasalah.

Tragedi Sukhoi Superjet 100 menabrak Gunung Salak terjadi pada 9 Mei 2012 saat penerbangan demonstrasi, menewaskan seluruh 45 orang di dalamnya.

Lokasi jatuhnya pesawat kini dikenal sebagai ‘Lembah Sukhoi’.

Berita Terkait

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia
27 Oktober: 3 hari penting diperingati, HLN, HPN hingga World Day for Audiovisual Heritage
24 Oktober: HDN, Harlah IDI dan PBB, Black Thursday hingga Perdamaian Westfalen
23 Oktober: Telekomunikasi pertama di Indonesia hingga pembalap MotoGP tewas
HSN 22 Oktober: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, ada apa di Sukabumi?
Kapolri minta MUI haramkan vape
18 Oktober: Hari Menopause Sedunia, kenali gejala, penyebab, obat dan pencegahan
17 Oktober: Jumlah penduduk miskin Sukabumi di Hari Pemberantasan Kemiskinan

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 00:44 WIB

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Selasa, 27 Oktober 2026 - 05:58 WIB

27 Oktober: 3 hari penting diperingati, HLN, HPN hingga World Day for Audiovisual Heritage

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 03:57 WIB

24 Oktober: HDN, Harlah IDI dan PBB, Black Thursday hingga Perdamaian Westfalen

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:29 WIB

23 Oktober: Telekomunikasi pertama di Indonesia hingga pembalap MotoGP tewas

Kamis, 22 Oktober 2026 - 02:23 WIB

HSN 22 Oktober: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, ada apa di Sukabumi?

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB