sukabumiheadline.com – Pasar rumah non-subsidi di Indonesia saat ini menunjukkan pertumbuhan yang moderat namun diwarnai oleh tantangan daya beli dan suku bunga yang ketat. Kondisi tersebut juga diamini developer perumahan di Sukabumi, Jawa Barat.
“Penjualan cenderung melambat dibandingkan tahun sebelumnya,” jelas Arifin Hidayat, Manager Estate PT Hadeco kepada sukabuniheadline.com, Jumat (15/5/2026).
Untuk menarik minat pembeli, pengembang saat ini banyak mengadopsi teknologi smart home yang terintegrasi dengan Internet of Things (IoT) pada unit hunian menengah dan atas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Rumah non-subsidi umumnya berlokasi strategis di pusat kota dengan akses mudah ke fasilitas umum, di mana harga sangat ditentukan oleh kondisi pasar, luas bangunan, dan lokasi,” jelas Arifin.
“Karena kalau dari sisi ketersediaan lahan, bukan masalah. Hanya memang harus di lokasi yang strategis,” imbuhnya.
Di sisi lain, perbankan mulai memperketat penyaluran kredit untuk menekan rasio kredit bermasalah (NPL).
Kondisi pasar properti dan KPR non-subsidi saat ini ditandai oleh beberapa faktor. Dari mulai suku bunga dan cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) non-subsidi bersifat mengambang (floating) mengikuti tren pasar dan berkisar antara 7%-12%.
Untuk meringankan beban debitur di tengah kondisi ekonomi yang menantang, pemerintah dan perbankan bahkan tengah menggodok opsi perpanjangan tenor KPR hingga 40 tahun.
Penyaluran kredit non-subsidi mencatatkan pertumbuhan moderat, misalnya KPR non-subsidi BTN tumbuh sekitar 5,4% secara tahunan (menjadi Rp 112,56 triliun).
Melemahnya daya beli masyarakat mendorong peningkatan rasio kredit macet (Non-Performing Loan/NPL) pada segmen nonsubsidi. Hal ini membuat bank lebih berhati-hati dalam melakukan penilaian profil risiko nasabah.

Rumah non subsidi
Perumahan bukan subsidi, atau sering disebut rumah komersial, adalah hunian yang dikembangkan swasta tanpa campur tangan subsidi pemerintah. Keunggulannya meliputi lokasi strategis di pusat kota, desain fleksibel, bebas renovasi, dan tanpa batasan penghasilan.
Namun, harga rumah non subsidi lebih mahal dengan bunga cicilan mengikuti pasar.
Karena tidak memerlukan verifikasi khusus dari pemerintah seperti rumah subsidi, KPR untuk perumahan non-subsidi tersedia di hampir semua bank umum dengan syarat utama WNI, berusia 21+, dan mampu melunasi cicilan.









