sukabumiheadline.com – Suak Palembang adalah sebuah desa (gampong) yang terletak di Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 3,66 kilometer persegi.
Sejak beberapa tahun lalu, gampong ini dipimpin seorang Keuchik (setingkat kepala desa) yang dikenal adil, bernama Taofik Sudrajat. Diketahui, ia merupakan seorang perantau asal Sukabumi, Jawa Barat. Taofik terpilih sebagai Keuchik pada pemilihan yang digelar 2022 lalu.
Sebagai perantau, Taofik terbilang sukses. Jauh sebelum terpilih sebagai Keuchik, ia berhasil menjadikan putrinya lulus kuliah hingga menyandang gelar dokter hewan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dikutip dari sejumlah media di Aceh, Taofik puluhan tahun lalu datang ke Nagan Raya dengan segala keterbatasan, termasuk ekonomi. Namun berkat kerja kerasnya, ia kini dipercaya warga memimpin Gampong Suak Palembang.
Sebagai Keuchik, ia berjanji akan terus melakukan perbaikan dan peningkatan dalam berbagai aspek untuk kemajuan desa, mencakup pembangunan infrastruktur, peningkatan pelayanan publik, hingga pemberdayaan masyarakat.
“Pembangunan dan Perbaikan Infrastruktur Desa membangun dan memperbaiki jalan desa, jembatan dan fasilitas umum lainnya untuk meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan warga,” katanya.
Dijelaskan Taofik, pihaknya akan terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan, dari mulai menyediakan ruang pelayanan yang nyaman, sistem administrasi yang lebih efisien, dan petugas yang ramah.
“Penataan Lingkungan Pemdes Suak Palembang akan terus berupays menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan desa, serta melakukan penghijauan dan penataan ruang publik.”
“Pemdes Suak Palembang akan memulai memanfaatkan sistem digital dalam pelayanan dan pengelolaan data desa, menuju pemerintahan desa yang lebih transparan dan modern,” pungkas Toafik.
Punya anak seorang dokter
Pada Sabtu (6/6/2026), momen haru mewarnai resepsi pernikahan putri sulung Taofik Sudrajat, bernama drh. Rafdhayatul Maulida. Putri pertamanya itu resmi disunting Chaerol Riezal dalam prosesi adat Aceh yang berlangsung di kediamannya.
Namun, pernikahan tersebut bukan sekadar perayaan keluarga. Di balik acara itu tersimpan kisah perjalanan hidup Taofik Sudrajat.
“Alhamdulillah acara berjalan lancar. Saya berterima kasih kepada seluruh masyarakat Suak Palembang yang sudah menerima saya seperti anak sendiri sejak pertama datang,” kata Taofik.
Puncak suasana haru terjadi saat prosesi sungkem. Di hadapan keluarga besar, tamu undangan, dan sang menantu, Taofik menyampaikan pesan penuh makna kepada putrinya yang kini memasuki kehidupan rumah tangga.
“Nak, Ayah titipkan kamu kepada suamimu. Jaga rumah tangga dengan sabar, saling menghargai, dan selalu libatkan Allah dalam setiap langkah,” pintanya.
Taofik juga mengungkapkan rasa bangganya kepada sang putri yang telah menyelesaikan pendidikan dan memasuki fase baru kehidupan. “Ayah bangga punya anak seperti kamu. Jadilah istri yang meneduhkan rumah tangga.”
Dikenal adil dan merakyat
Masyarakat Suak Palembang menilai sosok Taofik bukan lagi sebagai pendatang. Ketua Tuha Peut Gampong Suak Palembang, Sariban, mengatakan penerimaan warga terhadap Taofik lahir dari pengabdiannya selama bertahun-tahun kepada masyarakat.
“Beliau adil, merakyat, dan selalu memikirkan kepentingan gampong. Karena itu warga mempercayakan beliau menjadi keuchik. Asal daerah boleh berbeda, tetapi pengabdian beliau kepada masyarakat tidak pernah berbeda,” ujarnya.
Tak heran jika resepsi juga dihadiri sejumlah pejabat muspika dan Muspida setempat hingga pihak manajemen perusahaan swasta di daerahnya. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan dan penghormatan kepada keluarga mempelai sekaligus menunjukkan kuatnya hubungan sosial antara masyarakat lokal dan warga perantau.
Kisah hidup Taofik Sudrajat memotret integrasi sosial dapat tumbuh melalui kerja keras, pengabdian, dan kepercayaan masyarakat. Dari seorang perantau yang datang dengan segala keterbatasan, kini menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga besar Suak Palembang.
Pernikahan putri pertamanya pun menjadi simbol perjalanan panjang tersebut, bahwa perbedaan asal-usul bukanlah penghalang untuk membangun kebersamaan dan mengabdi kepada masyarakat.









