Berharta Rp1.000 triliun, Prajogo Pangestu bertetangga dengan kemiskinan di Sukabumi

- Redaksi

Senin, 13 Mei 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prajogo Pangestu - Twitter @julkiflimarbun

Prajogo Pangestu - Twitter @julkiflimarbun

sukabumiheadline.com – Kekayaan pemilik PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), Prajogo Pangestu, terus melesat dengan harta kekayaan menembus US$63 miliar atau setara Rp1.013 triliun (kurs Rp16.094 per dolar AS).

Mengutip Forbes Real Time Billionaires, Prajogo Pangestu menjadi orang terkaya di Indonesia dan ke-25 di dunia. Forbes mengestimasikan kekayaan bersihnya mencapai US$63 miliar atau setara Rp1.013 triliun. Baca lengkap: Sumbangan terbesar dari asetnya di Sukabumi, harta Prajogo Pangestu tembus Rp1.013 T

Untuk informasi, Prajogo Pangestu memiliki aset bernilai triliunan Rupiah di Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, yakni Star Energy Geotermal Salak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kepemilikan Prajogo Pangestu di Star Energy Geothermal Salak melalui PT Barito Pacifik Tbk (BRPT) yang merupakan anak usaha PT Barito Renewable Energy (BREN). Baca lengkap: Miliki Aset di Kabandungan Sukabumi, Prajogo Pangestu Jadi Orang Terkaya ke-24 di Dunia

Bertetangga dengan kemiskinan di Sukabumi

Namun, dengan nilai kekayaannya yang fantastis, siapa sangka ternyata Prajogo Pangestu bertetangga dengan kawasan yang menjadi salah satu lumbung kemiskinan di Kabupaten Sukabumi.

Tidak percaya? Mari berkunjung ke Kecamatan Kabandungan dan Kalapanunggal Sukabumi Jawa Barat.

Ada dua hal menarik di dua kecamatan ini.

Pertama, Kecamatan Kabandungan dan Kalapanunggal itu berada di sekitar lokasi wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak, dan menjadi PLTP terbesar di Jawab Barat.

Penelusuran sukabumiheadline.com, kepala desa (kades) dan warga yang ditemui di dua kecamatan itu hanya mengetahui sumber anggaran yang bisa berdampak kepada masyarakat di sekitar perusahaan PLTP Gunung Salak adalah dana Corporate Social Responsibillity (CSR).

Baca Juga :  Kabandungan Sukabumi masih lumbung kemiskinan, BREN: Proyek panas bumi Salak Binary melebihi ekspektasi

Ahmad Sukandi mengaku upahnya sebagai buruh perkebunan hanya Rp33 ribu per hari. Tak ayal, warga Pondok Beureum Kabandungan ini hanya mampu memberi pendidikan anaknya hingga SMP. Kondisi itu tidak hanya di alami oleh keluarganya, tetapi juga buruh perkebunan lainnya.

“Ya bagaimana kami bisa menyekolahkan anak, uang sebesar itu memang untuk makan saja pas-pasan. Jadi disyukuri saja,” kata Ahmad.

Mereka juga harus tinggal di rumah yang rawan ambruk. Rumah bedeng itu memang dalam kondisi lapuk dan rusak sebagian.

Ahmad Sukandi menyebut selama Star Energy Geothermal Salak (SEGS) beroperasi, warga tidak pernah tersentuh program CSR. Kondisi tersebut, menurutnya, berbeda dengan ketika Chevron Geothermal Salak, Ltd. beroperasi.

Enggak ada, enggak pernah. Kalaupun ada pembagian zakat fitrah atau hewan kurban, itu biasanya dari Serikat Pekerja PT Indonesia Power,” ungkapnya.

“Bahkan, jalan ini saja, itu di-hotmix saat masih Chevron, kalau enggak salah sekitar tujuh tahun lalu. Kalau Star Energy enggak pernah,” pungkasnya seraya menunjuk jalan lingkungan selebar tiga meter yang terlihat masih beraspal mulus.

Berita Terkait: Nostalgia Baenuri, Pemburu Kumbang di Sukabumi Kehilangan Penghasilan Sebab PLTP Salak

Dihubungi terpisah Kades Kabandungan, Bedi yang mengamini keluhan warganya.

“Ya begitulah kondisinya. Saya sih gak terlalu berharap ke Star Energy, makanya saya akan menggandeng IPB. Dalam hal ini IPB memiliki Program Desa Sejahtera Astra – IPB untuk melakukan penanaman pepaya California sebagai upaya kami untuk meningkatkan kesejahteraan warga,” ungkap Bedi di Desa Kabandungan.

Menurut Bedi program CSR menurun secara kualitas dan anggaran. Padahal sebelumnya, saat masih Chevron, program CSR disusun matang sejak masih tahap perencanaan, hingga eksekusi semua direncanakan dan diawasi cukup ketat.

Baca Juga :  Intip bisnis BREN di Sukabumi bernilai triliunan Rupiah, sahamnya diburu investor

Beralih ke Kampung Batu Gajah, Desa Walangsari, Kecamatan Kalapanunggal yang berbatasan langsung dengan Kampung Lio, Desa Tugubandung, Kecamatan Kabandungan, sebuah jembatan gantung yang sudah terlihat lapuk dengan alas papan bolong akibat patah di banyak bagian, membentang sepanjang 30 meter di atas Sungai Citarik dengan disangga sling baja yang terlihat sudah berkarat.

Jembatan Gantung Muara Lio tersebut tergolong vital karena setiap hari dilintasi untuk menyeberangi sungai oleh sekira 100 KK warga Walagsari dan 45 KK warga Tugubandung. Baca lengkap: Kisah Jembatan Lapuk Tetangga Star Energy Geotermal Salak Sukabumi Telan Korban Jiwa

Menurut tokoh masyarakat setempat, Ade Rahmat, air sungai kerap tiba-tiba meluap dan nyaris rata dengan daratan. Sedangkan, jembatan lapuk tersebut setiap hari juga digunakan oleh pengendara sepeda motor dan pejalan kaki untuk menyeberang.

“Ya wajar lapuk, karena seingat Abah sih memang sudah sepuluh tahun lebih tidak diperbaiki,” kata pria 61 tahun yang biasa dipanggil Abah Ade itu.

Abah Ade menambahkan, sudah ada dua warga yang menjadi korban setelah terjatuh dari Jembatan Gantung Muara Lio ke aliran Sungai Citarik yang sedang meluap. Bahkan, salah seorang di antaranya langsung meninggal dunia sebab langsung terseret arus sungai. Baca lengkap: Satu Tewas, 2 Korban Jembatan Gantung Lapuk Penghubung Kalapanunggal-Kabandungan Sukabumi

Sebagai informasi, menurut UU Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT), Pasal 74, meskipun SEGS telah mentransfer DBH dan BP Panas Bumi ke Pemkab Sukabumi, namun hal itu tidak menghilangkan kewajiban mereka dalam melaksanakan program CSR, demikian berlaku sebaliknya. Baca selengkapnya: Berharap panas geothermal Gunung Salak di lumbung kemiskinan Sukabumi

Berita Terkait

Kapan terakhir Gede Pangrango meletus? Sudah 50 kali, abu vulkanik hingga Sukabumi dan Jakarta
Spot wisata kuliner di Kota Sukabumi bertambah signifikan, bukti kondisi ekonomi membaik?
Kecamatan dengan nilai transaksi dan jumlah pelanggan Perumda AMTJM Kabupaten Sukabumi terbanyak
Hari ini, 111 tahun silam Kota Sukabumi didirikan untuk tempat tinggal warga Belanda
Nirkabel! Tak lama lagi Palabuhanratu dan Cikole Sukabumi bebas kabel listrik dan telepon
Sejarah, tugas dan daftar Jaksa Agung RI dari masa ke masa, pertama tokoh antikorupsi asal Sukabumi
Penduduk miskin Kota Sukabumi naik, ranking berapa se-Jawa Barat?
Bak kamar mayat, angka kematian di Kota Sukabumi 3 kali lipat dari kelahiran

Berita Terkait

Jumat, 4 April 2025 - 04:18 WIB

Kapan terakhir Gede Pangrango meletus? Sudah 50 kali, abu vulkanik hingga Sukabumi dan Jakarta

Kamis, 3 April 2025 - 10:00 WIB

Spot wisata kuliner di Kota Sukabumi bertambah signifikan, bukti kondisi ekonomi membaik?

Rabu, 2 April 2025 - 03:32 WIB

Kecamatan dengan nilai transaksi dan jumlah pelanggan Perumda AMTJM Kabupaten Sukabumi terbanyak

Selasa, 1 April 2025 - 00:01 WIB

Hari ini, 111 tahun silam Kota Sukabumi didirikan untuk tempat tinggal warga Belanda

Senin, 31 Maret 2025 - 13:00 WIB

Nirkabel! Tak lama lagi Palabuhanratu dan Cikole Sukabumi bebas kabel listrik dan telepon

Berita Terbaru

Bojan Hodak dan Gustavo Franca merayakan gol - Persib

Olahraga

3 laga penentuan! Catat jadwal Persib Bandung April 2025

Jumat, 4 Apr 2025 - 10:00 WIB