sukabumiheadline.com – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar. Dimensi tersebut mencakup umur panjang dan sehat, pengetahuan, dan kehidupan layak.
IPM diperkenalkan oleh United Nations Development Programme (UNDP) pada tahun 1990 dan dipublikasikan secara berkala dalam laporan tahunan Humans Development Report (HDR).
IPM bermanfaat sebagai indikator penting mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia di suatu wilayah. IPM juga dapat menentukan peringkat atau level pembangunan suatu wilayah atau Negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
IPM merupakan data strategis karena selain sebagai ukuran kinerja pemerintah, IPM juga digunakan sebagai salah satu alokator penentuan Dana Alokasi Umum (DAU) yang terbentuk oleh 3 komponen dasar, yaitu Lamanya hidup, Pendidikan dan Standar Hidup Layak Manusia. Komponen Lamanya Hidup Manusia diukur dengan angka Umur Harapan Hidup manusia.
Baca Juga: Beda dengan Marwan Hamami, Cabup Sukabumi terpilih Asep Japar masuk 5 bupati termiskin

Sedangkan komponen Pendidikan diukur dengan Angka Harapan Lama Sekolah. Untuk komponen Standar Hidup Layak Manusia diukur dari pengeluaran perkapita. Indikator Indeks Pembangunan Manusia merupakan salah satu out put yang diperoleh dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik setiap tahun.
Catatan ini mengulas ranking IPM Kabupaten Sukabumi dalam dua periode masa kepemimpinan Bupati Sukabumi Marwan Hamami (2016-2025), di mana ranking IPM turun satu peringkat dibandingkan dengan tahun awal ia menjabat bupati, yakni sejak 2016.
Diketahui pada 2016, periode pertama berpasangan Wakil Bupati Sukabumi Adjo Sardjono, dan periode kedua berpasangan dengan Iyos Somantri, ranking IPM Kabupaten Sukabumi berada di peringkat 23. Namun pada akhir masa jabatan periode kedua, IPM Kabupaten Sukabumi turun satu peringkat ke posisi 24 (2023), dari 27 kota dan kabupaten yang ada di Jawa Barat.
Baca Juga:
- 30 tahun “dicengkram” PLTP, Kabandungan dan Kalapanunggal Sukabumi jadi lumbung kemiskinan
- Berharap panas geothermal Gunung Salak di lumbung kemiskinan Sukabumi
- Sejarah PLTP Gunung Salak, Setor Puluhan Miliar Rupiah per Tahun ke Kas Pemkab Sukabumi

Ranking 23 dari 27 kota/kabupaten
Mengutip data publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) RI tahun 2017, IPM Kabupaten Sukabumi mencapai 65,49%, mengalami peningkatan sebesar 0.55 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sebesar 65,13%.
Angka ini menempatkan Kabupaten Sukabumi dalam kategori pembangunan manusia berada di urutan ke 23 dari 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat. Sebagai perbandingan, angka IPM Jawa Barat berada di angka 70.69%.
Adapun, angka Umur Harapan Hidup di Kabupaten Sukabumi pada 2017 mencapai 70.26 tahun, atau meningkat 0.17% dibandingkan 2016 sebesar 70,14 tahun. Namun, masih lebih rendah di bandingkan Umur Harapan Hidup Jawa Barat sebesar 72,47 tahun.
Berdasarkan data BPS Kabupaten Sukabumi, pada 2016 tingkat pendidikan penduduk mencapai 50,22% tamat SD, 16,86% tamat SMP, kemudian 14,16% tamat SMA dan 4,85% tamat Akademi/Perguruan Tinggi. Sedangkan, Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Kabupaten Sukabumi pada 2016 tercatat 6,74 tahun. Ini artinya RLS warga Kabupaten Sukabumi hanya sampai kelas 7 SMP saja.
Komponen terakhir dari penghitungan IPM adalah pengeluaran perkapita yang di tentukan dari nilai pengeluaran per kapita dan paritas daya beli. Data yang di kumpulkan secara rutin setiap tahun dari data SUSENAS.
Ada dua jenis kegiatan SUSENAS yaitu semesteran dan tahunan yang bertujuan untuk mengetahui Indikator Pendidikan, Kesehatan, Pendapatan dan Pengeluaran Rumah Tangga.
Mengutip data hasil SUSENAS 2017, nilai pengeluaran perkapita Kabupaten Sukabumi pada 2017 sebesar Rp8,263 juta per tahun, artinya dalam sebulan rata-rata pengeluaran penduduk Kabupaten Sukabumi hanya Rp688,58 ribu.
Namun, nilai ini mengalami kenaikan dibandingkan 2016 yang sebesar Rp8,077 juta, hal ini menunjukkan daya beli masyarakat Kabupaten Sukabumi mengalami peningkatan.
Berita Terkait: Menurut data BPS biaya hidup di Sukabumi cuma Rp1,2 juta, ini rinciannya
Sedangkan pada 2023, pengeluaran perkapita penduduk Kabupaten Sukabumi mengalami peningkatan menjadi Rp1,2 juta per bulan atau Rp14,4 juta per tahun.
Meskipun demikian, peningkatan tersebut tidak mampu mendongkrak ranking IPM Kabupaten Sukabumi dari posisi bawah dengan kategori Sedang.
Baca Juga:
- Awet, dalam 8 tahun jumlah penduduk miskin di Kabupaten Sukabumi hanya turun 1%
- Miris, pelajar di Sukabumi setiap hari harus lewati jembatan miring untuk ke sekolah
Turun satu peringkat
Untuk informasi, klasifikasi IPM menurut BPS, adalah sebagai berikut:
- IPM < 60 (Rendah)
- IPM 60 ≤ dan <70 (Sedang)
- IPM 70 ≤ (Tinggi)
- IPM < 80 dan ≥ 80 (Sangat Tinggi)

Baca Juga:
- Musim gugur pabrik di Sukabumi, terbaru ada 4 bangkrut, satu di Parungkuda
- Rp4,2 triliun, kemana larinya APBD Kabupaten Sukabumi?
- Arab Saudi, Taiwan dan Malaysia favorit, dalam 5 tahun jumlah TKW asal Sukabumi meningkat
Berikut adalah ranking IPM kota dan kabupaten di Jawa Barat, dikutip sukabumiheadline.com dari data BPS 2024, Senin (24/2/2025). Baca selengkapnya: Kualitas hidup warga kota dan kabupaten di Jawa Barat, Sukabumi ranking ke-4 dari bawah, Cianjur jeblok
- Kota Bandung: 83,29 (2023) – sangat tinggi
- Kota Bekasi: 83,06 (2023) – sangat tinggi
- Kota Depok: 82,53 (2023) – sangat tinggi
- Kota Cimahi: 79,69 (2023) – tinggi
- Kota Bogor: 78,36 (2023) – tinggi
- Kota Cirebon: 77,45 (2023) – tinggi
- Kota Sukabumi: 77,16 (2023) – tinggi
- Kabupaten Bekasi: 76,13 (2023) – tinggi
- Kota Tasikmalaya: 75,47 (2023) – tinggi
- Kota Banjar: 74,45 (2023) – tinggi
- Kabupaten Bandung: 74,03 (2023) – tinggi
- Kabupaten Sumedang: 74,02 (2023) – tinggi
- Kabupaten Purwakarta: 73,43 (2023) – tinggi
- Kabupaten Karawang: 73,25 (2023) – tinggi
- Kabupaten Ciamis: 73,12 (2023) – tinggi
- Kabupaten Bogor: 73,02 (2023) – tinggi
- Kabupaten Cirebon: 71,81 (2023) tinggi
- Kabupaten Subang: 71,42 (2023) tinggi
- Kabupaten Kuningan: 70,99 (2023) – tinggi
- Kabupaten Majalengka: 70,76 (2023) – tinggi
- Kabupaten Pangandaran: 70,57 (2023) – tinggi
- Kabupaten Bandung Barat: 70,33 (2023) – tinggi
- Kabupaten Indramayu: 70,19 (2023) – tinggi
- Kabupaten Sukabumi: 69,71 (2023) – sedang
- Kabupaten Tasikmalaya: 69,38 (2023) – sedang
- Kabupaten Garut: 69,22 (2023) – sedang
- Kabupaten Cianjur: 68,18 (2023) – sedang

Berita Terkait:
- Kisah Jembatan Lapuk Tetangga Star Energy Geotermal Salak Sukabumi Telan Korban Jiwa
- Nostalgia Baenuri, Pemburu Kumbang di Sukabumi Kehilangan Penghasilan Sebab PLTP Salak
- Ruas Jalan Kabandungan Sukabumi, Hancur dan Tak Ada PJU
Untuk informasi, IPM Provinsi Jawa Barat tergolong “tinggi”, yakni 72,09 (2020), 72,45 (2021), 73,63 (2022) dan 74,24 (2023).