sukabumiheadline.com – Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu sentra utama penghasil ubi kayu (singkong) di Jawa Barat, dengan kontribusi lahan mencapai 8.000 hektar, tersebar antara lain di Kecamatan Jampang Tengah, Ciambar, Gegerbitung, Warungkiara, hingga Cicantayan. Baca selengkapnya: 20 kecamatan penghasil ubi kayu terbesar di Sukabumi, bukan sekadar teman ngopi
Ubi kayu dari Sukabumi tidak hanya untuk konsumsi warga lokal, seperti untuk teman minum kopi hingga industri kecil produsen keripik singkong, tetapi juga dikirim ke industri besar di Bogor, hingga ekspor ke sejumlah negara di Asia dan Afrika.
Sebagai sentra produksi singkong, Sukabumi menjadi daerah andalan penyumbang 10% produksi ubi kayu di Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Ubi kayu dan produk olahannya dari Kabupaten Sukabumi, telah menembus beberapa pasar internasional. Adapun negara-negara tujuan ekspor ubi kayu dari Sukabumi meliputi:
Baca Juga: 27 kecamatan penghasil ubi jalar di Sukabumi, kenali gizi, mineral dan manfaatnya bagi tubuh
China
Gaplek (singkong kering) dari Sukabumi menembus pasar China. Gaplek Sukabumi merupakan olahan ubi kayu yang dipanggang di salah satu industri rumahan pengolahan singkong, Jampang Tengah.
Dalam sehari, industri rumahan setempat mampu memproduksi gaplek singkong hingga lima ton dengan harga jual Rp3500 – Rp4000 per kilogram serta diekspor ke negara China.
Brunei Darussalam dan Afrika

Camilan singkong (opak/keripik) hasil UMKM Sukabumi telah diekspor ke Brunei, salah satunya diproduksi oleh Yammy Babeh milik Ade Soelistyowati.
Bisnis wanita yang biasa dipanggil Bunda Elis ini berawal dari April 2016 di Jl. Sukajaya Ex Kav Alam Raya RT 007/003, Desa Sukajaya, Kecamatan/Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Baca selengkapnya: Kisah Bunda Elis asal Sukabumi: Dari terlilit utang hingga ekspor keripik singkong ke 5 negara
Keripik singkong Yammy Babeh khas Sukabumi juga berhasil tembus pasar ekspor ke negara-negara Afrika.
Baca Juga: Menjanjikan Fulus dan Bisa Menghambat HIV/Aids, Begini Cara Bikin Keripik Paria yang Kriuk
Singapura
Ubi Jepang (ubi manis) dari Sukabumi (terutama dari wilayah Kadudampit) diekspor ke Singapura dengan permintaan mencapai ratusan ton. Namun pada musim kemarau yang disertai fenomena iklim El Nino akan berdampak terhadap produksi ubi Jepang. Padahal, ubi ini merupakan komoditas potensial untuk ekspor.
Salah seorang petani ubi Jepang di Kampung. Lemah Duhur, Desa Sukamanis, Kecamatan Kadudampit, Edi Susianto (56), mengaku membudidayakan ubi jepang di lahan sekitar tiga hektar.
Dalam kondisi normal, kata dia, hasil panen bisa mencapai sekitar 20 ton-25
ton per hektar. Tiga hektar dalam kondisi normal, kata dia, hasil panen bisa mencapai sekitar 20 ton-25 ton per hektar. Adapun pada musim kemarau bisa menurun drastis.
“Musim kemarau paling bisa menghasilkan delapan sampai sepuluh ton arena banyak ukuran buah ubinya yang mengecil” kata Edi.
Hal itu berdampak terhadap upaya petani untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun ekspor. Untuk pasar lokal, kebutuhannya mencapai sekitar 60 ton per hari.
Baca Juga: Wajar Keripik Tempe Kahla Sukabumi ekspor ke luar negeri, ternyata binaan perusahaan besar
Uni Eropa
Selain itu, ubi kayu asal Sukabumi juga banyak diserap oleh industri keripik nasional dan berpotensi untuk pasar ekspor yang lebih luas seperti Uni Eropa.









