Karya Yan Asmi Dihargai Rp35 Ribu, 5 Fakta Seniman asal Sukabumi

- Redaksi

Minggu, 2 Oktober 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yan Asmi, seniman asal Sukabumi. l Istimewa

Yan Asmi, seniman asal Sukabumi. l Istimewa

SUKABUMIHEADLINE.com l Warga Sukabumi yang lahir era 60 hingga 80an tentunya cukup banyak yang mengenal sosok seniman asal Sukabumi, Yan Asmi.

Yan Asmi dikenal sebagai salah seorang komedian Sunda yang besar bersama grup D’Bodor, trio pelawak bersama dua rekannya, yakni Abah Us US dan Kusye.

Berikut adalah 5 fakta Yan Asmi, seniman yang kebesarannya mulai dilupakan. Bahkan, saat ini, salah satu karyanya hanya dihargai Rp35 ribu saja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tulisan dirangkum sukabumiheadline.com dari berbagai sumber.

1. Nama Yan Asmi

Yan Asmi lahir di Sukabumi pada 15 Juli 1959, dan meninggal dunia pada 29 Maret 2010.

Yan Asmi adalah nama panggung dari Uyan Suryana (Yan). Sedangkan nama “Asmi” merupakan akronim dari “Asli atau Asal Sukabumi”.

2. Yan Asmi dan Keluarga

Pria yang juga akrab dipanggil Kang Uyan ini menikah dengan Elly Yulia. Sebagai seniman Sunda, ia menamai semua anak-anaknya dengan huruf awal “P”, meskipun untuk nama yang sama lazim menggunakan huruf awal “F” atau “V”.

Seperti diketahui, etnis non-Sunda mengenal orang Sunda sebagai etnis yang kerap melafalkan huruf P, V, dan F dengan lafal sama.

Dari pernikahan dengan Elly Yulia, ia dikaruniai tiga putra dan dua putri, yakni Puri Pertiwi, Satria Pura Nagara, Para Adhi Dharma, Pera Mutiara dan Pero Reformawan.

Bersama keluarganya, Yan Asmi tinggal di Komplek Bumi Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Baca juga: Kabar Terkini Puri Pertiwi, Wanita Sukabumi Pewaris Darah Seni Uyan Asmi

Sebelum dikenal sebagai komedian, artis peran dan penyanyi, Yan Asmi bekerja sebagai tenaga honorer di Dinas Pendapatan (Dispenda) Kota Sukabumi, hingga kemudian bakatnya dalam menghibur mengantarnya ke dunia entertainment.

3. Yan Asmi dan D’Bodor

Di dunia hiburan, seniman yang lahir dari pasangan Dodo Sukardi dan Piot ini dikenal sebagai komedian, artis peran dan penyanyi.

Yan Asmi dikenal sebagai anggota grup lawak D’Bodor bersama Us Us dan Kusye. Di dunia hiburan, bersama D’Bodor, ia aktif sejak 1983 hingga 2010.

Dalam dunia tarik suara, Yan Asmi pernah merilis salah satu lagunya yang cukup populer ketika itu dan sering dinyanyikan berjudul Ojek Ongkos Ngajegang.

Sedangkan dalam dunia peran, ia pernah membintangi film Memburu Makelar Mayat, Jual Tampang.

4. Yan Asmi Berkarya hingga Akhir Hayat

Sebagai seniman, ia berkarya hingga akhir hayatnya. Terbukti, Yan Asmi berencana mengeluarkan album Star Stir Stor yang penggarapannya pun hampir selesai.

Namun sayangnya, ajal keburu menjemput. Selain itu, Yan Asmi akan mengeluarkan album emas D`Bodor bersama dua rekan satu grupnya.

Menurut anak pertamanya, Puri Pertiwi, sebelum meninggal dunia, ayahnya sempat dilarikan ke rumah sakit, pada Senin (29/3/2010) dinihari.

Diketahui, almarhum sempat sakit selama lima bulan karena stroke dan liver. Ia sempat menjalani perawatan di rumah sakit selama satu bulan. Ia sempat dinyatakan pulih dan menjalani perawatan jalan.

Bahkan, sebelum dilarikan ke rumah sakit, ia sempat melakukan shooting di beberapa TV swasta.

Meninggalnya Yan Asmi membuat dunia hiburan Tanah Air begitu kehilangan, terutama personil D`Bodor lain, Abah Us Us dan Kusye.

Jenazah Yan Asmi dimakamkan Senin (29/3) sore pukul 16.30 WIB, di Tempat Pemakaman Umum Nyangkoyek, tak jauh dari rumahnya.

5. Karyanya Dihargai Rp35 Ribu

IMG 20221002 225948
Salah satu album karya Yan Asmi. l Istimewa

Meskipun cukup terkenal pada masanya, namun mirisnya karyanya tidak dihargai sepadan saat ini. Dari penelusuran sukabumiheadline.com, salah satu kaset pita hitam album lagu Yan Asmi hanya dihargai Rp35 ribu saja.

Penelusuran tersebut dilihat di salah satu lapak di platform market place Tokopedia.com.

Berita Terkait

Desak inspektorat Riksus, BPD Sukamulya Sukabumi ungkap fakta aset desa dikuasai swasta
Aset Desa Sukamulya dikuasai swasta, ini janji DPMD Kabupaten Sukabumi ditagih BPD dan warga
Jeblok! Membanding realisasi investasi PMDN/PMA di Sukabumi 2025/2026
5 poin Deklarasi Kawasan Daulat Pangan di Jampang Tengah Sukabumi, integrasi basis perjuangan
Sukabumi masuk Top 10 kota/kabupaten paling rawan untuk ditinggali
Ini 10 kecamatan lumbung padi di Kabupaten Sukabumi, hampir 1 juta ton
WorldoMeters: 10 kecamatan di Sukabumi tidak ideal untuk ditinggali
A-Z PLTU Pelabuhan Ratu Sukabumi: Biaya pembangunan, kapasitas, operator hingga dampak

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Desak inspektorat Riksus, BPD Sukamulya Sukabumi ungkap fakta aset desa dikuasai swasta

Jumat, 23 Oktober 2026 - 06:29 WIB

Aset Desa Sukamulya dikuasai swasta, ini janji DPMD Kabupaten Sukabumi ditagih BPD dan warga

Rabu, 21 Oktober 2026 - 02:16 WIB

Jeblok! Membanding realisasi investasi PMDN/PMA di Sukabumi 2025/2026

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:00 WIB

5 poin Deklarasi Kawasan Daulat Pangan di Jampang Tengah Sukabumi, integrasi basis perjuangan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 03:25 WIB

Sukabumi masuk Top 10 kota/kabupaten paling rawan untuk ditinggali

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB