Mengintip Kehidupan Desa Kenara di Papua, Semua Wanita Berjilbab

- Redaksi

Kamis, 15 Juni 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kaum perempuan di Desa Kenara, semuanya berjilbab. l Hidayatullah

Kaum perempuan di Desa Kenara, semuanya berjilbab. l Hidayatullah

sukabumiheadline.com l Papua yang kita kenal selama ini, adalah wilayah yang berpenduduk minoritas muslim. Namun siapa sangka, di Papua ada perkampungan muslim. Bahkan kaum perempuan di sana tidak ada yang tidak berjilbab.

Kampung muslim Papua itu ada di Distrik Kamundan, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat.

Jika ingin mengunjungi daerah tersebut, maka untuk sampai ke Desa Kenara, harus menempuh perjalanan panjang dari Manokwari ke Teluk Bintuni.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selanjutnya, dari Teluk Bintuni ke Distrik Kamundan menggunakan perahu yang melintasi sungai dan laut, lalu sungai lagi dengan waktu tempuh sekira 5 jam.

Perjalanan menuju Kampung/Desa Kenara. l Istimewa
Perjalanan menuju Kampung/Desa Kenara. l Istimewa

Sesampainya di sana, Anda akan disuguhi pemandangan sebuah kampung yang tampak sangat Islami. Bahkan, dalam video yang diunggah Hidayatullah PB, jalan-jalan utama di distrik tersebut sudah dibeton, sehingga memudahkan moda transportasi darat.

Dalam video tersebut, Da’i muda dari Muhammadiyah, Wardi Nabi (25) bersama Miftahuddin berkunjung ke salah satu kampung di Kumandan, yakni Kalitami I.

Hal paling menarik di kampung ini semua Muslimah wajib mengenakan jilbab. Mereka sudah menjadi muslim sejak leluhur mereka. Wardi menceritakan, dahulu ada da’i yang dikirim Kesultanan Tidore ke kampung tersebut.

Meski sudah muslim sejak dulu, namun tak serta-merta menerapkan syariat Islam 100 persen. Geliat Muslimah mengenakan hijab berkat seorang da’i yang datang ke distrik itu pada 2006 silam.

Pembangunan mushala di Kampung Kenara. l Istimewa
Pembangunan mushala di Kampung Kenara. l Istimewa

Da’i tersebut sabar berdakwah di Kamundan selama 4 tahun. Namun, dakwah sang da’i itu membuahkan hasil. Ibu-ibu dan remaja putri sudah terbiasa mengenakan jilbab. Mereka tak terikat aturan, namun berasal dari kesadaran masing-masing.

Jilbab yang dikenakan para muslimah Kumandan membuat mereka tampak anggun. Tampak mereka mengenakan jilbab besar, ada yang sampai ke pinggang.

Mereka juga sangat ramah, senyum sumringah merekah saat berpapasan dengan Wardi Nabi dan Miftahuddin. Ucapan salam dijawab serempak diiringi sambutan hangat.

“Mayoritas muslim. Ini sudah lama. Ada seorang Da’i dari Kesultanan Tidore, berkat Da’i dari Kesultanan Tidore. Kita lihat sendiri, masyarakat di sini wajib mengenakan jilbab,” kata Wardi Nabi.

Wardi berharap, organisasi-organisasi muslim di Indonesia bisa mengirim Da’i ke distrik tersebut. Itu diperlukan untuk mendidik generasi muda. Terlebih geliat globalisasi mulai terasa di Papua. Itu bisa saja menggeser nilai-nilai Islam yang selama ini dipegang Masyarakat Kumandan.

“Saat ini belum ada Da’i yang datang dari luar. Kami di sini, khususnya Masyarakat Kamundan, inginnya ada Da’i muda yang siap berdakwah di distrik ini. Di kampung ini siap menerima Da’i. Memang, masyarakat di sini sangat membutuhkan Da’i, apalagi untuk pembinaan generasi selanjutnya,” kata Wardi Nabi.

Kebutuhan akan dakwah itu akan terasa manakala melihat kondisi masyarakat Kampung Kalitami I, Kalitami II, Kampung Kenara, Kampung Bibiram, dan Kampung Maroro. Dari semua kampung itu baru ada satu masjid.

“Masjid ada satu, namun ada satu tambahan musholla yang sedang proses,” kata Wardi.

Baca Juga: Adian Husaini: Pengiriman Dai ke Pedalaman Merupakan Langkah Strategis

Masjid itu sudah ada sejak puluhan tahun lalu. “Masjid sudah ada sebelum saya lahir,” kata Wardi. Penampakan masjid itu tidak terlalu besar. Kubah yang digunakan pun tak seperti Kubah masjid pada umumnya di Indonesia.

Menengok Kampung Muslim di Papua, Semua Wanita Terbiasa Kenakan Jilbab

Kubah masjid itu berbentuk segi empat lalu ditutup dengan seng berbentuk segitiga. Lalu ada satu tiang kecil di sudut segitiga untuk menopang tanda bulan sabit.

Masjid itu tidak terlalu luas. Meski sudah direnovasi, namun kerap masjid tersebut tidak bisa menampung seluruh jamaah. Pada saat Ramadhan misalnya. Jamaah shalat tarawih meluber sampai ke luar masjid. Apalagi kalau shalat Jumat, jamaah bisa sampai ke jalan-jalan.

“Masjid itu juga digunakan untuk shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Kami berharap ini direnovasi, dibesarkan sehingga Masyarakat bisa menampung semua jamaah,” kata Wardi.

Berita Terkait

Jejak sejarah 1 April, dari April Mop, Hari Jadi Kota Sukabumi dan Blitar hingga Okinawa
Profil dan perjalanan karier Fitria Yusuf, bos jalan tol mualaf karena ayah rajin sedekah
Jadwal jemaah haji 2026 berangkat ke Tanah Suci, di tengah kecamuk perang Timur Tengah
Hari jadi ke-60, mengenang 5 periode Setukpa Polri Sukabumi
Tahun Baru Kristen, sejarah 25 Maret Hari Kabar Gembira bagi pemeluk Kristiani
Membaca pesan di Prasasti Sukabumi 25 Maret 804, kenapa ada di Kediri?
Rasulullah SAW anjurkan perempuan haid sekalipun tetap hadir shalat Id di lapangan
Muhammadiyah sudah tentukan 1 Syawal 1447 H

Berita Terkait

Rabu, 1 April 2026 - 19:29 WIB

Jejak sejarah 1 April, dari April Mop, Hari Jadi Kota Sukabumi dan Blitar hingga Okinawa

Selasa, 31 Maret 2026 - 09:00 WIB

Profil dan perjalanan karier Fitria Yusuf, bos jalan tol mualaf karena ayah rajin sedekah

Selasa, 31 Maret 2026 - 02:40 WIB

Jadwal jemaah haji 2026 berangkat ke Tanah Suci, di tengah kecamuk perang Timur Tengah

Minggu, 29 Maret 2026 - 20:00 WIB

Hari jadi ke-60, mengenang 5 periode Setukpa Polri Sukabumi

Rabu, 25 Maret 2026 - 21:47 WIB

Tahun Baru Kristen, sejarah 25 Maret Hari Kabar Gembira bagi pemeluk Kristiani

Berita Terbaru