Pria Bojonggenteng Sukabumi Produksi Roti Anget Omset Rp45 Juta per Bulan

- Redaksi

Rabu, 9 Februari 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Angga Suganda bersama karyawan dan roti produksinya. l Istimewa

Angga Suganda bersama karyawan dan roti produksinya. l Istimewa

SUKABUMIHEADLINE.com l BOJONGGENTENG – Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan semangat pembuat roti rumahan di Kampung Warungkaeung, Desa Cisarua, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi. Dalam kondisi serba sulit, mereka bisa meraup untung puluhan juta Rupiah.

Si empunya pabrik roti rumahan, Angga Suganda, warga Kampung Pasirmuncang Rt 15/05, Desa Cipanengah, Kecamatan Bojonggenteng, awalnya hanya menjual roti produksi orang lain.

Bosan menjual produk orang lain, sejak 2019 lalu Angga pun mendirikan usaha roti sendiri di Warungkawung. Dengan modal awal Rp15 juta dan dukungan keluarga, tak terasa kini usaha rotinya sudah tiga tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Modal awalnya sekira Rp15 juta. Saya mendirikan usaha roti karena ingin berbisnis sendiri,” kata Angga kepada sukabumiheadline.com, Rabu (9/2/2022).

Berkat kegigihannya memproduksi roti, bisnisnya itu terus berkembang hingga kini kemudian mempekerjakan sepuluh karyawan. “Usaha ini sudah berjalan tiga tahun. Alhamdulillah sekarang saya sudah mempekerjakan sepuluh orang karyawan,” kata pria berusia 30 tahun itu.

Bicara omset, diakuinya saat ini usaha roti anget miliknya sudah bisa meraup omset sekira Rp45 juta per bulan. “Omset sebesar Rp45 juta per bulan. Semua karyawan saya menjual roti keliling,” ungkap Angga.

Lebih jauh, ia berharap usaha roti angetnya terus berkembang dengan baik. Untuk itu, ia pun mulai memodernisasi peralatan pembuatan rotinya. “Awalnya masih pakai alat-alat seadanya. Ovennya juga masih manual dan produksi juga masih sedikit. Modalnya sih komitmen dan gak mudah goyah, apapun kondisinya,” jelasnya.

image 2022 02 09 132813
Roti anget produksi Angga Suganda. l Dok. Pribadi

“Alhamdulilah, sejauh ini semua berjalan dengan lancar dan baik meski kadang ada masa-masa sulit,” imbuh Angga.

Angga menambahkan, untuk target ke depan, ia ingin meningkatkan produksi rotinya dan memiliki cabang di tempat lain. “Mimpi saya, bisa buka usaha roti anget di tempat lain dan menjualnya dengan harga yang terjangkau,” pungkas Angga.

Berita Terkait

Top 5 merek smartphone paling laris di dunia 2026, didominasi produk HP China
Suka belanja di HERO Supermarket? Ternyata pemiliknya mualaf asal Sukabumi
Di Sukabumi Wamentan Alim minta hilirisasi kopi dan kakao dikebut
Profil dan harta Eddy Kusnadi Suriaatmadja, bos SCTV dan Indosiar, paling dermawan se-Asia
Januari-September 2026 penumpang KA Pangrango dari Sukabumi naik 613.678 orang
Menaker luncurkan program Tailor Made Training Batch 2 di Sukabumi
Besok becak listrik Prabowo dibagikan gratis di Sukabumi, cek spesifikasi, fitur dan harganya
Satu di Sukabumi, 65 lokasi Kampung Nelayan Merah Putih dilengkapi cold storage

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:02 WIB

Top 5 merek smartphone paling laris di dunia 2026, didominasi produk HP China

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Suka belanja di HERO Supermarket? Ternyata pemiliknya mualaf asal Sukabumi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:30 WIB

Di Sukabumi Wamentan Alim minta hilirisasi kopi dan kakao dikebut

Rabu, 21 Oktober 2026 - 13:37 WIB

Profil dan harta Eddy Kusnadi Suriaatmadja, bos SCTV dan Indosiar, paling dermawan se-Asia

Senin, 19 Oktober 2026 - 23:30 WIB

Januari-September 2026 penumpang KA Pangrango dari Sukabumi naik 613.678 orang

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB