sukabumiheadline.com – Yayasan Riyadlul Jannah, Cikundul, Kota Sukabumi, Jawa Barat, didirikan oleh almarhum KH Cucu Komarudin. Hingga saat ini, yayasan aktif berjuang di sektor pendidikan baik formal maupun nonformal.
Sejak yayasan yang berarti “Taman Surga” ini didirikan, KH Cucu Komarudin telah membuat divisi atau pembagian pengelolaan yayasan yang bergerak di bidang pendidikan ini antara lain; Pengelolaan Pondok Pesantren, Kegiatan Majlis Taklim, Madrasah Ibtidaiyah, dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Adapun, masing-masing divisi dikelola oleh pihak keluarga, pondok pesantren dan PKBM dikelola langsung oleh KH Cucu Komarudin. Kegiatan Majelis Taklim (MT) dikelola oleh Samsul Puad sedangkan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dikelola oleh H. Abdullah Amin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
KH Cucu Komarudin sebagai salah seorang tokoh ulama sekaligus Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Sukabumi telah menempuh langkah-langkah akomodatif dengan mendahulukan sikap al-mashalah al-ammah (kebaikan untuk semua) di dalam mengelola yayasan tersebut, antara lain dengan melibatkan orang-orang luar untuk bersama-sama mengembangkan yayasan ke arah kemajuan.
Di awal tahun 1980, MI didirikan, sekaligus merupakan sejarah baru bagi lembaga ini, bahwa latar belakang dan motivasi pembangunan karakter religious bagi masyarakat menjadi modal dari kegiatan lembaga ini. Pendidikan Luar Sekolah (PLS) untuk tingkat SMP dan SMA di Kota Sukabumi berjalan tidak semeriah sekolah-sekolah formal.

Pada 2010, Yayasan Riyadlul Jannah memokuskan kegiatan pendidikan pada sektor formal. Hamzah, salah seorang putra KH Cuci Komarudin mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Riyadlul Jannah.
Di awal pendiriannya, sebanyak 34 siswa menjadi peserta didik di MTs Riyadlul Jannah. Mayoritas dari mereka adalah anak-anak lulusan MI dan SD Negeri Cikundul. Hingga kini, sekira 83 siswa mengisi ruang-ruang kelas baru dari kelas I sampai kelas III.
Wasiat ulama tentang pentingnya pendidikan
Peran KH Cucu Komarudin tersebut tidak terlepas dengan adanya koneksi yang dilatarbelakangi oleh hubungan dekat antara dirinya dengan keluarga besar Pondok Pesantren Al-Mashturiyah, Cisaat. Baca lengkap: Profil KH. Masthuro dan Catatan Perjalanan Satu Abad Lebih Ponpes Al-Masthuriyah Sukabumi
Pandangannya terhadap pentingnya mengembangkan pendidikan – salah satunya – dipengaruhi oleh wasiat KH Muhammad Masthuro, “Ulah pagirang-girang dina ngamajukeun pasantren” (Jangan berebut jabatan di dalam memajukan pondok pesantren).
Enam Wasiat (Washaya Sittah) KH Muhammad Masthuro secara khusus telah dibahas secara lengkap oleh Abdul Jawad di dalam tesisnya “Washaya Sittah KH Muhammad Masthuro (1901-1968) dalam Pembentukan Islam Lokal di Sukabumi Jawa Barat”. Baca lengkap: Memahami 6 Wasiat KH. Masthuro Sukabumi, Relevan dengan Kondisi Indonesia Saat Ini
KH Cucu Komarudian menyadari benar pentingnya mengejawantahkan wasiat tersebut sebab secara personal, istri beliau Hj Oom Hasanah merupakan cucu dari KH Muhammad Masthuro, sudah tentu wasiat-wasiat yang disampaikan oleh kakek mertua sekaligus sebagai gurunya wajib dilaksanakan.
Abdul Jawad (2017:164) menyebutkan Tarekat Abah sebagaimana yang tercantum dalam butir keenam dari Washaya Sittah KH Muhammad Masthuro merupakan jalan hidup yang telah ditempuh oleh para kiai.
Baca Juga:
- 5 Pondok Pesantren Tertua di Sukabumi
- Kisah Ulama Kharismatik Sukabumi, KH Muhammad Kholilullah Berjuang dengan Pena dan Golok
- Dari Rahim Al-Falah Lahir Banyak Ulama Besar, Ponpes Tertua di Sukabumi Berdiri Sejak 1908
Profil KH Cucu Komarudin
Aplikasi nyata darinya adalah penerapan akhlak al-kariimah seperti; saling menyayangi, mencintai, tidak dengki, dan menutupi kelemahan serta kekurangan orang lain.
Ketika masih hidup, menurut penuturan Hamzah, salah seorang putera KH Cucu Komarudin, beliau selalu memperlihatkan raut muka soméah (berseri-seri), sering ingin membahagiakan orang lain meskipun hanya melalui raut wajah.
Sebagai salah seorang kiai di Sukabumi, KH Cucu Komarudin biasa menjadi pemateri dan pendakwah dalam berbagai pengajian baik di lingkungan masyarakat juga pemerintahan.

Suatu hari, seseorang menyapa beliau, meskipun, tapi KH Cucu Komarudin tidak keluar pertanyaan; “Siapa ini, saya lupa?” karena khawatir akan melukai hati penanya.
Sebagai salah seorang sesepuh NU, KH Cucu Komarudin memahami dengan benar persoalan kaidah-kaidah kemaslahatan bagi umat. Salah satu jasa beliau di bidang kemasyarakatan yaitu terwujudnya Jalan Merdeka saat Kota Sukabumi dipimpinan oleh Wali Kota H. Udin Koswara.
Masyarakat diajak duduk bersama, memusyawarahkan pelebaran jalan, sebab pelebaran jalan oleh pemerintah itu pada akhirnya berdampak baik juga bagi kemajuan masyarakat Cikundul.
KH Cucu Komarudin merupakan tipikal kyai atau ajengan yang memusatkan perhatiannya kepada keluarga terutama kepada istrinya, Hj. Oom Hasanah. Pemerintah memberikan penghargaan kepada ia dan istrinya sebagai keluarga sakinah teladan.
Kecintaan kepada keluarga telah dibuktikannya, beberapa tahun sebelum meninggal dunia, beliau telah menyampaikan wasiat agar pendidikan dan melayani umat dilanjutkan oleh keluarga.
Setelah mengabdikan diri untuk kemajuan pendidikan dan kemasyarakatan di Kota Sukabumi dan kampung halamannya, KH Cucu Komarudin wafat pada tahun 2013.
Tokoh-tokoh yang hadir bukan hanya dari kalangan ulama dan kiai, para tokoh dari lintas agama seperti; Kristen, Katholik, dan Buddha juga mengikuti prosesi pemakaman beliau.
Prosesi pemakamannya ada kalimat yang keluar dari beberapa tokoh agama, jika diibaratkan, KH Cucu Komarudin sangat layak mendapatkan julukan “Gus Dur”-nya Sukabumi.

Islam berkembang di Sukabumi
Jika melihat kepada perkembangan Islam di Kota Sukabumi, didapati benang merah, kakek buyut hingga kepada ayahanda KH Cucu Komarudin yang merupakan tokoh-tokoh berjasa di dalam menyebarkan dan mengembangkan Islam di daerah ini.
Diketahui, penyebaran Islam di Sukabumi tentu berbanding lurus dengan semakin kokohnya Kekuasaan Kerajaan Islam di Banten, Sundakelapa dan Cirebon.