Tradisi yang kian memudar dan undak usuk bukan budaya Sunda

- Redaksi

Minggu, 19 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi permainan tradisional Sunda - sukabumiheadline.com

Ilustrasi permainan tradisional Sunda - sukabumiheadline.com

sukabumiheadline.com – Tradisi warga Indonesia, dan Sukabumi, Jawa Barat, khususnya, mulai memudar akibat globalisasi, modernisasi, dan kurangnya minat generasi muda meliputi permainan tradisional hingga gotong royong dalam menyelesaikan berbagai persoalan warga.

Kini permainan tradisional seperti congklak, egrang, hingga gobak sodor,  dan nyorog, ucing sumput, sondah, serta berbagai kesenian tradisional, posisinya mulai digeser pengaruh gadget dan sikap individualisme menjadi faktor utama.

Selain itu, permainan bola bekel, lompat tali, dan gatrik kini sudah nyaris tak lagi dimainkan, kalah oleh beragam games yang tersedia dalam gadget.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ilustrasi anak di bawah 16 tahun sedang scroll smartphone - sukabumiheadline.com
Ilustrasi anak di bawah 16 tahun sedang scroll smartphone – sukabumiheadline.com

Sementara kesenian tradisional seperti wayang golek dan degung masih bisa disaksikan dalam momen resepsi pernikahan, meskipun pada momen yang sama seni musik modern seperti organ tunggal hingga band lebih mudah ditemui.

Undak-usuk bukan budaya Sunda

Sejumlah kalangan juga menyoal mulai hilangnya kebiasaan menggunakan bahasa Sunda halus. Secara rinci, undak usuk membagi bahasa Sunda menjadi tiga tingkatan. Bahasa lemes (halus) digunakan untuk menghormati lawan bicara. Bahasa sedeng (menengah) digunakan dalam situasi wajar atau santai, dan bahasa kasar digunakan dalam kondisi tertentu atau tidak formal.

Namun, sejumlah budayawan Sunda menyebut sejatinya undak-isuk basa atau tingkatan bahasa tidak dikenal dalam bahasa Sunda.

Ilustrasi perempuan Sunda sedang menyapa orang tua. dengan ramah atau someah - sukabumiheadline.com
Ilustrasi perempuan Sunda sedang menyapa orang tua. dengan ramah atau someah – sukabumiheadline.com

Pada 2023 lalu, viral kata maneh (kamu) pasca Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (Emil) menandai komentar Muhammad Sabil Fadilah (34) memicu polemik. Buka hanya soal Sabil yang kemudian dipecat setelah mengkritisi Emil, tetapi juga soal kata maneh yang dinilai Emil kasar dan tidak sopan.

Terkait hal tersebut, Dedi Muyadi (sekarang Gubernur Jawa Barat), berkesempatan menemui langsung Sabil di Cirebon, Jawa Barat. Pertemuan keduanya terekam dan diunggah Kang Dedi lewat akun instagramnya @dedimulyadi71 pada Ahad (19/3/2023).

Dalam kesempatan tersebut, Dedi Mulyadi bersama Sabil mengulas soal kata maneh yang dinilai Emil tak sopan.

“Jadi saya boleh panggil maneh ke akang?,” tanya Sabil.

“Boleh dong,” balas Dedi Mulyadi disambut tawa Sabil.

Dijelaskan Dedi Mulyadi, dirinya bukan seseorang yang tersinggung apabila dipanggil maneh, sebab dirinya menganut ideologi Sunda Asli.

“Jadi gini, saya ini orang yang termasuk penganut bahwa di Sunda yang asli itu tidak dikenal undak usuk,” ungkapnya.

“Jadi kalau saya itu Sunda itu (Asli), satu Sunda itu adalah Sunda awal, yaitu Banten, ke bawah itu sebagian Sukabumi, sebagian Bogor, itu kan ke sananya ke arah Pakuan Pajajaran,” jelasnya.

Pakuan Pajajaran diketahui merupakan ibu kota dari Kerajaan Sunda yang pernah berdiri pada tahun 1030-1579 M di Tatar Pasundan, wilayah barat pulau Jawa.

Mengacu pada tulisan Moriyama, 2005, berpendapat bahwa 30 persen strata lemes dalam bahasa Sunda modern berasal dari bahasa Jawa. Hal ini rasanya tidak lagi mengejutkan jika melihat sejarah panjang kekuasaan Kerajaan Mataram khususnya abad ke-17 Masehi.

Kala itu, di bawah pimpinan Sultan Agung, Mataram pernah membantu Kesultanan Cirebon dan Banten menaklukkan kerajaan Pajajaran. Sehingga, kehadiran pasukan Mataram memengaruhi bahasa Sunda.

Padahal, cikal bakal bahasa Sunda Kuno yang dapat dilihat di naskah Sunda hingga akhir abad ke-16, yang cenderung egaliter atau setara.

Namun, kondisi serupa juga terjadi di berbagai daerah lain di Tanah Air. Dikutip dari jurnal di laman Universitas Islam Negeri Madura, tradisi ter-ater di Madura, yakni kegiatan mengantarkan makanan ke rumah tetangga atau saudara juga mulai jarang dilakukan. Demikian dengan upacara adat tertentu, seperti Adu Bagong di Jawa Timur, juga sudah semakin jarang ditemukan.

Faktor penyebab pudarnya tradisi

Ilustrasi warga gotong royong membersihkan jalan - sukabumiheadline.com
Ilustrasi warga gotong royong membersihkan jalan – sukabumiheadline.com

Globalisasi dan modernisasi dengan masuknya budaya asing, dituding telah membuat budaya lokal kurang diminati. Ditambah lagi rendahnya minat generasi muda untuk mempelajari dan melestarikan budaya sendiri rendah.

Kemudian, sikap individualisme dan pergeseran gaya hidup ke arah individualistis mengurangi kegiatan komunal atau gotong royong. Kondisi tersebut diperparah dengan kurangnya pengenalan budaya sejak dini dari orang tua kepada anak.

Berita Terkait

5 mitos terpopuler di Sukabumi, pedoman moral sekaligus identitas budaya
2 Oktober Hari Batik Nasional: Mengenal 7 sanggar batik di Sukabumi
5 tradisi zaman dulu yang perlahan ditinggalkan wanita Sukabumi
Menelusuri cerita Gatotkaca singgah di Purabaya Sukabumi
Kala penyair legendaris Taufiq Ismail baca puisi di Sukabumi
3 di Sukabumi, September ada puluhan event wisata dan budaya Jawa Barat
Dua mojang Sukabumi catatkan prestasi, daftar lengkap pemenang Moka Jawa Barat 2026
5 fakta Jipeng Sukabumi: Seni tradisional Jawa Barat diciptakan era pra kemerdekaan

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 06:44 WIB

5 mitos terpopuler di Sukabumi, pedoman moral sekaligus identitas budaya

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:47 WIB

2 Oktober Hari Batik Nasional: Mengenal 7 sanggar batik di Sukabumi

Jumat, 18 September 2026 - 19:42 WIB

5 tradisi zaman dulu yang perlahan ditinggalkan wanita Sukabumi

Kamis, 17 September 2026 - 15:53 WIB

Menelusuri cerita Gatotkaca singgah di Purabaya Sukabumi

Minggu, 13 September 2026 - 21:42 WIB

Kala penyair legendaris Taufiq Ismail baca puisi di Sukabumi

Berita Terbaru