sukabumiheadline.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri berpotensi naik apabila konflik di Timur Tengah terus berlanjut.
Menurut Airlangga, potensi kenaikan harga BBM ini dipicu harga minyak dunia melonjak 10% usai Iran menutup Selat Hormuz. Sehingga, akan berdampak langsung pada rantai pasok minyak dunia. Harga minyak mentah sudah menyentuh level US$ 80 per barel.
Melihat kondisi itu, ia tidak menampik mengenai potensi harga BBM yang naik. Ia menyebut situasi ini mirip kondisi saat perang Rusia dengan Ukraina pecah beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Otomatis akan naik, sama seperti saat perang Ukraina kan naik,” ujar Airlangga, dikutip Selasa (3/3/2026).
Seperti diketahui, Amerika Serikat (AS) dan Israel sejak Sabtu kemarin melakukan serangan ke Iran. Hal itu bagaikan memercik perang baru di kawasan setelah Iran ikut membalas serangan-serangan tersebut.
Iran pun menutup Selat Hormuz di tengah panasnya kondisi Timur Tengah. Hal itu membuat pasokan energi minyak dan gas ke seluruh dunia terhambat.
Di tengah perang yang semakin memanas, Airlangga menyebut AS dan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) juga meningkatkan kapasitas produksinya.
Diberitakan Reuters, Ahad (1/3/2026), sumber mengatakan OPEC+ akan membahas peningkatan produksi 411.000 barel per hari atau lebih. Jumlah itu lebih besar dari perkiraan awal sebesar 137.000 barel per hari.
“Tetapi kan kali ini supply dari Amerika juga akan meningkat dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya,” kata eks Ketua Umum Partai Golkar itu.
Airlangga menegaskan pemerintah tetap akan memantau durasi konflik tersebut sebelum mengambil langkah selanjutnya. “Nanti kita monitor dulu,” kata dia.









