Nalungtik: The Journey of Beautiful Motifs Batik Lokatmala Sukabumi

- Redaksi

Sabtu, 11 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fonna Melania dan ragam batik dengan pola hias karyanya - Batik Lokatmala

Fonna Melania dan ragam batik dengan pola hias karyanya - Batik Lokatmala

sukabumiheadline.com – Indonesia merupakan negara kesatuan yang kaya akan keberagaman, terdiri dari berbagai pulau dan suku bangsa yang
melahirkan kebudayaan yang unik. Salah satu warisan budaya yang
memiliki nilai seni tinggi dan tetap lestari hingga saat ini adalah
batik.

Batik merupakan mahakarya yang memadukan kearifan lokal dan estetika melalui pola hias yang penuh makna. Setiap helainya mencerminkan teknologi dan pengetahuan tradisional yang sudah teruji.

Di Indonesia, batik berkembang pesat di berbagai daerah, menjadi wujud kreativitas para seniman dan pengrajin yang terus menghadirkan inovasi dalam desain pola hiasnya. Pengembangan batik kontemporer berhasil melestarikan warisan budaya teraga (tangible) maupun tak teraga (intangible) dengan lebih inovatif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Selembar batik tidak sekedar menyimpan nilai-nilai estetis dari jaringan ragam nilai dari jalinan ragam hias dan paduan tata warnanya saja, akan tetapi lebih dari itu juga menyimpan sistem nilai, simbol, strategi dan adaptasi masyarakat pendukungnya.”

Nalungtik: Upaya memahami aspek filosofi, ekologis, sosial budaya, ekonomi dan estetika

Mojang dan Jajaka Kota Sukabumi mengenakan busana Sunda - Batik Lokatmala
Mojang dan Jajaka Kota Sukabumi mengenakan busana Sunda – Batik Lokatmala

Nalungtik dalam bahasa Sunda berarti meneliti, mendalami, atau mencermati dengan saksama. Istilah ini sering
digunakan untuk menggambarkan proses pengamatan atau penelitian yang dilakukan secara teliti dan mendalam, baik dalam konteks akademis, budaya, maupun kehidupan sehari-hari.

“Dalam praktiknya, Nalungtik juga mencakup upaya memahami sesuatu secara mendalam meliputi aspek filosofi, ekologis, sosial budaya, ekonomi, dan estetika,” ungkap Fonna Melania kepada sukabumiheadline.com.

“Misalnya seorang pengrajin batik yang melakukan proses Nalungtik untuk menyadarkan kembali mengenai kekuatan pengetahuan kearifan lokal yang aplikatif untuk permasalahan modern melalui proses penciptaan karya seni pola hias batik,” lanjutnya.

Konsep ‘Nalungtik’, papar Fonna, juga mencerminkan sikap kehati-hatian dan rasa hormat terhadap objek yang diteliti. Dalam tradisi Sunda, ini menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara intelektualisme dan etika, serta penghormatan terhadap budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Nalungtik dalam proses penciptaan pola hias batik, mampu menghasilkan narasi yang mendalam mengenai informasi objek yang diangkat dan sekaligus dapat menjadi refleksi identitas masyarakat pendukungnya, kemudian dikemas melalui kebaikan teknologi nenek moyang yang aplikatif dan sesuai untuk diterapkan dimasa sekarang.”

Batik Lokatmala: Wasiat sang nenek dan keabadian

Pola hias Batik Lokatmala - Ist
Batik Lokatmala – Ist

Batik Lokatmala merupakan rumah produksi, pengembangan hingga pemasaran batik yang didirikan oleh Fonna Melania pada 2010, di Jalan Kenari No. 20 Z, RT 004/004, Kelurahan Selabatu, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat.

Sosok Fonna Melania dikenal memiliki semangat tinggi menghadirkan batik yang merepresentasikan unsur kearifan lokal Kota dan Kabupaten Sukabumi.

Ketertarikan Fonna terhadap batik
bermula dari pengaruh sang nenek, yang mendorongnya untuk mendalami bidang batik, tidak hanya menciptakan pola hias
batik, tetapi juga menyematkan makna mendalam yang divisualisasikan pada setiap helai kain.

“Setiap karya batik yang dihasilkan memuat cerita yang kaya akan nilai budaya,” katanya.

Melalui dedikasi dan tekad yang kuat, Fonna mempelajari identitas kearifan lokal di Sukabumi, sehingga mampu menciptakan pola hias batik yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal Sukabumi.

Usahanya tidak hanya mampu memperkenalkan keindahan batik khas Sukabumi, tetapi juga melestarikan budaya teknologi tradisional agar terus dikenal, dihargai dan dilestarikan.

“Batik Lokatmala tidak hanya fokus pada pembuatan pola hias batik, tetapi juga menggali dan mengangkat filosofi mendalam yang melatarbelakangi setiap desainnya,” jelas wanita yang lahir pada 21 Mei 1975 itu.

“Hingga saat ini, Batik Lokatmala telah menciptakan lebih dari puluhan pola hias batik yang sarat akan nilai budaya dan keindahan artistik,” imbuhnya.

Nama Lokatmala sendiri, jelas Fonna, berasal dari bahasa Sunda yang berarti bunga Edelweis (Anaphalis javanica), bunga yang tumbuh di dataran tinggi Lembah Surya Kencana di Taman Nasional Gunung Gede yang dikenal sebagai perlambang keabadian.

Filosofi ini mencerminkan harapan besar agar karya pola hias batik Lokatmala tidak hanya dikenal, tetapi juga tetap dikenang dan dihargai oleh masyarakat Sukabumi maupun di luar daerahnya sebagai warisan budaya yang abadi.

Pola hias Batik Lokatmala

Penyu Sukabumian, pola hias Batik Lokatmala diproduksi 2017 - Batik Lokatmala
Penyu Sukabumian, pola hias Batik Lokatmala diproduksi 2017 – Batik Lokatmala

Pola hias batik Lokatmala mengangkat dan mengembangkan unsur kearifan lokal yang hadir dan berkembang di
Sukabumi. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk wujud adaptasi terhadap budaya dan nilai-nilai lokal masyarakat Sunda di Sukabumi.

Berbagai unsur kearifan lokal Sukabumi, diangkat dan diterjemahkan ke dalam karya seni batik. Di antaranya, mencakup artefak seperti peralatan rumah tangga, rumah adat, dan lainnya, serta ikon daerah dan landmark.

Sementara itu, tradisi lisan seperti cerita pantun (kitab), dongeng, legenda, puisi, peribahasa, tembang, pupuh, cerita
rakyat, wawacan, hingga istilah-istilah filosofis yang mencerminkan kehidupan masyarakat Sunda.

Keseluruhan unsur tersebut merupakan bagian dari sepuluh objek pengembangan kebudayaan menurut pasal 5 Undang Undang Nomor 5 tahun 2017 meliputi; tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni,
bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.

Dengan demikian, batik menjadi medium yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga didalamnya terkandung nilai-nilai kearifan lokal sebagai warisan budaya yang terus dilestarikan dan mampu mewakili jati diri sebagai masyarakat Sukabumi.

Dalam katalognya berjudul “Nalungtik” (The Journey of Beautiful Motifs), menampilkan viasual hasil perjalanan panjang proses kreatif pengrajin Batik Lokatmala dalam menghadirkan pola hias batik khas Sukabumi yang merepresentasikan kekayaan
kearifan lokal di Sukabumi.

“Katalog tersebut menggambarkan bagaimana pengetahuan dan teknologi tradisional warisan nenek moyang diolah dan divisualisasikan menjadi pola hias batik kontemporer, menciptakan karya yang memadukan nilai budaya dengan sentuhan modern,”urai Fonna.

Daftar pola hias Batik Lokatmala, 2010 – 2024

Masagi, pola hias Batik Lokatmala diproduksi 2010 - Batik Lokatmala
Masagi, pola hias Batik Lokatmala diproduksi 2010 – Batik Lokatmala

Pola hias pertama dari Sanggar Batik Lokatmala, bertema Masagi. Dalam bahasa Sunda, ‘Masagi’ berarti ‘persegi’, yang melambangkan kesetaraan sisi dan menjadi simbol dari keseimbangan.

Motif pada pola hias batik yang diproduksi pada 2010 ini mencakup berbagai objek, dari mulai kendi (Monumen Alun-alun Kota Sukabumi), unsur air, sayap manuk julang, biji/fuli pala, dan bunga wijayakusuma.

Setiap objek dalam pola hias batik Masagi memiliki makna yang erat kaitannya dengan harapan agar masyarakat Sukabumi menjadi insan paripurna.

“Masagi” dipilih terinspirasi dari filosofi kehidupan masyarakat di Jawa Barat tentang manusia paripurna Sunda yang seimbang, teguh, kokoh dalam berpikir, berucap dan berperilaku.

Pola hias Batik Lokatmala - Batik Lokatmala
Ragam pola hias Batik Lokatmala – Batik Lokatmala

Hingga kini, 2026, menurut Fonna Melania, Batik Lokatmala sudah memiliki 60 pola hias batik, di antaranya 45 pola Batik Lokatmala yang dibuat sejak berdiri pada 2010 hingga 2024, yakni Masagi, Rereng Gunung Parang, Mandala Bagja, Rereng Tjaiwangi, dan Leuit Salawe Jajar.

Kemudian, Garuda Ngupuk, Candramawat, Merak Kinanti, Leungli, Manuk Julang, Puyuh, Elang Jawa Situ Gunung, Rereng Lambak, Makara, Mata Air Sukabumi, Palawan, Jantung Kole, Wijayakusumah, Mozaik Kadudampit, Pakwan, Seureuh Tujuh, dan Suji Arum.

Selanjutnya, Nekamesta, Penyu Sukabumian, Ibun, Puseur Tjai, Darma Cikundul, Urat Tjai, Awi Sukabumian, Sajati, Saramo, Surawung, Kaca Piring, Warudoyong, Karst, Giri Mukti, Koleberes, hingga Durna Lokatmala.

Selain itu, Langlayangan, Kananga, Jangilus, Tahta Gilang Kencana, Parigi, Lembursitu, dan Shima.

Berita Terkait

Seniman Sukabumi gelar pameran tunggal “Road to IGO” di Yogyakarta
Baju hijau hingga hantu tanpa kepala: Lokasi 11 mitos di Sukabumi, terkenal hingga luar daerah
5+3 ratu gaib, siapa paling sakti? Ada Nyi Roro Kidul yang identik Sukabumi
5 tradisi wanita Sukabumi zaman dulu yang perlahan luntur
Jampang Creative Camp 2: Menjadikan laut selatan Sukabumi sebagai harta kreativitas dan pengetahuan
Mengenal seni pertunjukan, ritual dan tradisi khas Sukabumi
Kerajaan Salakanagara: Jauh sebelum Pajajaran, 11 raja pernah berkuasa di Tatar Sunda
16 manfaat mandi air pandan, relaksasi bukan sekadar pewangi alami

Berita Terkait

Sabtu, 11 April 2026 - 03:57 WIB

Nalungtik: The Journey of Beautiful Motifs Batik Lokatmala Sukabumi

Sabtu, 14 Maret 2026 - 23:54 WIB

Seniman Sukabumi gelar pameran tunggal “Road to IGO” di Yogyakarta

Minggu, 8 Februari 2026 - 02:15 WIB

Baju hijau hingga hantu tanpa kepala: Lokasi 11 mitos di Sukabumi, terkenal hingga luar daerah

Jumat, 30 Januari 2026 - 15:31 WIB

5+3 ratu gaib, siapa paling sakti? Ada Nyi Roro Kidul yang identik Sukabumi

Selasa, 27 Januari 2026 - 17:10 WIB

5 tradisi wanita Sukabumi zaman dulu yang perlahan luntur

Berita Terbaru