sukabumiheadline.com – Sebagian besar dari kita mungkin menganggap musim panas sama dengan musim kemarau. Jangan salah kaprah, karena keduanya berbeda sama sekali. Musim kemarau dan musim panas berbeda secara mendasar dalam definisi dan wilayah terjadinya.
Musim kemarau atau dry season ditandai dengan curah hujan rendah di wilayah tropis seperti Indonesia, sementara musim panas atau summer merujuk pada suhu tinggi yang terjadi di negara empat musim, biasanya berlangsung dari Juni hingga Agustus.
Perbedaan utama musim kemarau vs musim panas
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dikutip sukabumiheadline.com dari artikel Summer Definition, Effects & Activities di study.com, musim kemarau terjadi di wilayah Tropis (termasuk Indonesia), sedangkan musim panas terjadi di wilayah subtropis yang memiliki empat Musim.
Musim kemarau diukur dari rendahnya curah hujan (kurang dari 150 mm/bulan), sedangkan musim panas diukur dari suhu udara yang mencapai titik tertinggi dalam setahun.
Di Indonesia, kemarau biasanya terjadi sekitar Maret hingga September akibat angin muson timur. Musim panas di belahan bumi utara terjadi Juni-Agustus.
Meskipun demikian, musim kemarau sering kali terasa panas dan kering dengan matahari terik. Namun untuk musim panas, biasanya ditandai dengan siang hari yang lebih panjang dan suhu udara yang tinggi.
Ciri-ciri musim lemarau di Indonesia, ditandai dengan jarang terjadi hujan, tanah mengering, dan berpotensi retak. Selain itu, sumber air (sungai, danau) menurun atau kering, hingga kelembapan udara cenderung rendah.
Sementara itu, ciri-ciri musim panas (subtropis), adalah suhu udara terasa panas dan membuat mudah berkeringat. Kemudian, adanya peningkatan aktivitas biologis.
Meskipun berbeda, keduanya sama-sama membuat suhu terasa panas. Indonesia hanya mengalami musim kemarau dan hujan, bukan musim panas.









