sukabumiheadline.com – Iduladha tak hanya bermakna ibadah kurban, tetapi juga menjadi momen di mana berbagai daerah di Indonesia menghidupkan tradisi dan budaya lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
Rangkaian hari raya selalu dibuka dengan khusyuk melalui pelaksanaan Salat Iduladha berjemaah di berbagai masjid besar hingga di lapangan terbuka, dilanjutkan dengan mendengarkan khotbah tentang keikhlasan dan berkurban.
Seetelah itu, di sejumlah daerah juga kerap digelar tradisi yang memadukan nuansa religius dengan perayaan budaya yang unik dan menarik, bahkan berpotensi besar menjadi daya tarik wisata budaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di Sukabumi, Jawa Barat, setelah pembagian daging kurban, masyarakat, santri, hingga warga kampung akan berkumpul di ruang terbuka atau gang-gang pemukiman untuk membakar sate secara massal. Tradisi ini diwarnai dengan canda tawa dan aroma asap sate yang khas di seluruh penjuru kota.
Sejalan dengan esensi Iduladha, masyarakat Sunda di Sukabumi mengedepankan nilai someah (ramah) dengan saling bertukar hantaran olahan daging kurban kepada tetangga, kerabat, hingga kaum dhuafa.
Tradisi Iduladha di Sukabumi sangat lekat dengan nuansa gotong royong dan kreativitas keagamaan, seperti tradisi Festival Qurban yang menampilkan lomba menghias hingga fashion show domba kurban di Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath.
Selain itu, kemeriahan membakar sate massal ribuan tusuk yang biasanya diselenggarakan di di berbagai lokasi, baik di perkotaan hingga pelosok kampung.
Berikut daftar tradisi setiap Iduladha di berbagai daerah, dirangkum sukabumiheadline.com dari berbagai sumber, Rabu (27/5/2026).
1. Festival dan Fashion Show Domba Kurban – Sukabumi
Menjelang hari penyembelihan, sejumlah daerah dan pesantren mengadakan festival unik untuk mengapresiasi hewan kurban. Domba-domba akan dihias sedemikian rupa dengan ornamen budaya Sunda, dicat, dan berlenggak-lenggok bak model diiringi tabuhan musik tradisional.
Pada fashion show domba tahun ini, digelar Selasa (26/5/2026), diikuti 6 ekor domba dirias menyesuaikan tema masing-masing kelompok. Tema yang ditampilkan cukup unik, seperti perjalanan santri hingga bisa ke luar negeri, hingga Milangkala Tatar Sunda.
2. Tradisi Apitan – Semarang
Tradisi Apitan berasal dari adanya bulan yang diapit dua bulan lainnya, yakni Syawal dan Zulhijjah. Dengan demikian, tradisi ini berawal dari pemahaman dua bulan yang ‘mengapit’ momen Iduladha. Kegiatan ini biasanya diawali dengan pertunjukan kesenian kuda lumping untuk menambah semarak suasana.
Tradisi ini merupakan wujud syukur atas hasil bumi yang didapat masyarakat. Salah satu momen menarik dari tradisi ini adalah arak-arakan hasil panen yang kemudian diperebutkan oleh warga. Apitan dipercaya membawa berkah dan keberuntungan bagi siapa saja yang berhasil mendapatkannya. Selain nilai spiritual, tradisi ini menjadi hiburan rakyat yang menghidupkan kearifan lokal.
2. Tradisi Gamelan Sekaten – Surakarta
Gamelan Sekaten memiliki akar sejarah kuat dari masa Kerajaan Mataram, khususnya di masa pemerintahan Sultan Agung pada tahun 1644 M. Dua perangkat gamelan utama, yaitu Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari, ditabuh dalam momen-momen besar Islam seperti Idul Fitri, Maulid Nabi, dan tentu saja Iduladha.
Tradisi ini dilaksanakan usai salat Iduladha, dan menjadi daya tarik tersendiri karena pengunjung tidak hanya menikmati alunan musik gamelan, tetapi juga turut mengunyah kinang, tradisi yang diyakini membawa umur panjang.
3. Tradisi Grebeg Gunungan – Yogyakarta
Keraton Yogyakarta rutin menyelenggarakan Grebeg Besar sebagai bagian dari perayaan Iduladha. Tradisi ini berupa kirab tujuh gunungan hasil bumi yang dibawa dari keraton ke beberapa tempat seperti Masjid Gede Kauman, Pendopo Pengulon, dan Puro Pakualaman.
Gunungan-gunungan tersebut akan diperebutkan oleh masyarakat yang hadir, karena dipercaya membawa keberkahan dan rezeki. Grebeg Gunungan tak hanya menjadi atraksi visual yang menarik, tetapi juga menunjukkan sinergi antara agama, budaya, dan daya tarik wisata.
5. Manten Sapi – Pasuruan
Pasuruan, Jawa Timur, memiliki tradisi unik menyambut Iduladha dengan prosesi Manten Sapi. Sapi-sapi kurban akan dimandikan, diberi kalung bunga tujuh rupa, dibalut kain kafan, hingga dihias dengan sorban dan sajadah.
Setelah dirias, sapi-sapi ini diarak menuju masjid dengan iring-iringan warga. Masyarakat melaksanakan tradisi ini sebagai bentuk penghormatan terhadap hewan kurban. Prosesi ini menjadi tontonan yang menarik, penuh nilai simbolis, sekaligus menonjolkan kearifan lokal masyarakat Pasuruan.
6. Mepe Kasur – Banyuwangi

Berikut adalah tradisi khas Iduladha di yang unik. Salah satunya, tradisi mepe kasur di Banyuwangi, Jawa Timur. Dikutip dari banyuwangikab.go.id, tradisi ini populer di kalangan Suku Osing.
Masyarakat suku Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi, memiliki tradisi Mepe Kasur atau menjemur kasur menjelang Iduladha. Tradisi ini berlangsung dari pagi hingga siang, dengan semua kasur berwarna merah dan hitam yang dijemur serempak di depan rumah.
Warna merah melambangkan keberanian, sementara hitam melambangkan keabadian atau kelanggengan. Tradisi ini dipercaya sebagai upaya menolak bala serta menjaga keharmonisan rumah tangga.
Keunikan warna dan kekompakan warga menjadikan Mepe Kasur sebagai peristiwa budaya yang sangat fotogenik dan menarik perhatian wisatawan.
Tradisi-tradisi ini menunjukkan betapa kaya dan beragamnya budaya Indonesia dalam menyambut hari besar keagamaan. Perpaduan antara nilai spiritual, seni, dan kebersamaan menjadikan momen Iduladha tak hanya sakral, tetapi juga sangat potensial sebagai daya tarik wisata budaya yang memikat, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.









