sukabumiheadline.com – Lapuk, kumuh dan rawan ambruk. Begitu kesan melihat penampakan Jembatan Cipamatutan. Kayu alas jalan jembatan tampak lapuk pada bagian ujung kanan dan kirinya. Bahkan, kolong jembatan pun ditumbuhi tanaman liar, hingga sampah plastik dan karung pun menambah kesan kumuh.

Untuk informasi, Jembatan Cipamatutan tersebut merupakan akses utama menuju Kecamatan Kalapanunggal dan Kabandungan, berada di perbatasan tiga desa dan dua kecamatan, Bojonggenteng dan Parungkuda.
Jembatan Cipamatutan berada di perbatasan Kampung Pamatutan Peuntas, Desa Cibodas, Kecamatan Bojonggenteng, dan Desa Sundawenang, Kecamatan Parungkuda, dengan Kampung Pamatutan, Desa/Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Kini, jembatan yang dibangun pertama kali sejak zaman Belanda tersebut, kondisinya mengkhawatirkan, selain pada bagian jalannya sudah retak dan bolong, pondasipun belah.
Selama puluhan tahun jembatan tersebut tidak pernah direkonstruksi. Namun demikian, perbaikan minor pernah dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi.

“Ngeri memang, kita kan gak tahu kapan musibah datang. Saya bukan warga sini, ke sini hanya untuk mancing dan lumayan sering,” kata Ajis Bagir (25), warga Bojongpari, Kecamatan Cidahu, kepada sukabumiheadline.com, Ahad (20/9/2026).
“Jembatan ini merupakan akses utama dari Kecamatan Kabandungan dan Kalapanunggal menuju Parungkuda, tapi puluhan tahun gak pernah dibangun ulang, hanya perbaikan-perbaikan kecil,” imbuh dia.

Menurut Ajis, setiap hari jembatan tersebut dilintasi ribuan orang, terutama buruh pabrik dan pelajar. Ia mengaku heran perbaikan jembatan tersebut tidak menjadi prioritas perbaikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi.

“Setiap hari ribuan orang yang kerja dan sekolah melintasi jembatan ini. Saya kalau lagi mancing dan duduk di bawah jembatan ini, ngeri juga denger getarannya. Coba lihat itu, dari dulu alas jalan masih pakai kayu, harusnya dicor beton. Wajar kalau aspal cepat rusak, karena getaran. Kayunya juga sudah mulai lapuk dan hancur,” sesal Ajis.

“Jembatannya udah bobrok. Jalannya banyak bolong dan retak di semua bagian, kalau ada lewat kendaraan roda empat saja sudah goyang, akibat pondasi bawah jembatan sudah tidak memadai,” pungkasnya.









