sukabumiheadline.com – Biaya latihan manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih total mencapai Rp45 juta per orang. Sementara itu, latihan dasar militer (latsarmil) untuk calon manajer mencapai Rp30 juta per orang. Hal itu diungkap Anggota Komisi I DPR Fraksi PDI-P Mayjen TNI (Purn) Tubagus Hasanuddin.
“Sekitar Rp30 juta digunakan untuk pelaksanaan latihan militer, sedangkan Rp15 juta untuk pembelajaran substansi koperasi,” ujarnya dalam siaran pers, Senin (29/6/2026).
Latsarmil manajer Kopdes Merah Putih saat ini sedang mendapatkan sorotan ketika lima di antaranya meninggal dunia saat mengikuti latihan dasar militer tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Politikus PDI-Perjuangan ini juga mengungkap Komisi I DPR RI yang membidangi isu pertahanan hingga intelijen, serta bermitra dengan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI yang mengurusi latsarmil untuk calon manajer kopdes.
Ia mengatakan, berdasarkan skema pelatihan selama 45 hari yang terdiri atas 30 hari latihan militer dan 15 hari pembelajaran substansi koperasi, porsi terbesar anggaran justru terserap untuk kegiatan kemiliteran yang tidak berkaitan langsung dengan tugas pengelolaan koperasi.
Karenanya, Hasanuddin menegaskan bahwa, akan jauh lebih efisien apabila komponen latihan militer dihapus, dan difokuskan sepenuhnya pada peningkatan kompetensi manajerial.
“Berdasarkan kriteria pelatihan untuk tujuh hari itu menghabiskan Rp5 juta per peserta, maka total kebutuhan anggaran selama 45 hari mencapai sekitar Rp45 juta per orang,” ungkap dia.
“Dari jumlah tersebut, sekitar Rp30 juta digunakan untuk pelaksanaan latihan militer, sedangkan Rp15 juta untuk pembelajaran substansi koperasi. Artinya, apabila latihan militer dihilangkan, negara dapat menghemat sekitar Rp30 juta atau sekitar dua pertiga dari total biaya pelatihan setiap peserta,” sambungnya.
Hasanuddin menjelaskan, apabila skema tersebut diterapkan kepada seluruh peserta secara nasional yang mencapai 35.476 peserta, potensi penghematan anggaran dapat mencapai triliuan rupiah.
Pelatihan seharusnya berorientasi ke kompetensi manajerial kopdes Hasanuddin turut menekankan bahwa tugas utama manajer Kopdes adalah mengelola organisasi dan mengembangkan usaha, sehingga materi pelatihan seharusnya berorientasi pada kompetensi profesional, bukan latihan fisik atau kemiliteran.
“Kita membutuhkan manajer koperasi yang memiliki kemampuan mengelola bisnis, memahami tata kelola keuangan, pemasaran, dan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, pelatihan harus benar-benar relevan dengan kebutuhan pekerjaan mereka,” tuturnya.
Adapun Kementerian Koperasi diusulkannya menjadi pihak yang membiayai pelatihan manajerial bagi calon pengelola Kopdes Merah Putih. Sementara itu, pelatihan manajerial bagi peserta Kampung Nelayan Merah Putih didukung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Hasanuddin berharap pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap desain pelatihan agar lebih efektif, efisien, tepat sasaran, serta mampu menghasilkan pengelola koperasi yang profesional tanpa membebani anggaran negara secara berlebihan.









