Diambil-alih HAKA tapi Waskita Tetap Garap Tol Bocimi Seksi 3-4, Kok Bisa?

- Redaksi

Sabtu, 10 Juni 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengerjaan proyek Tol Bocimi. l Istimewa

Pengerjaan proyek Tol Bocimi. l Istimewa

sukabumiheadline.com l Proyek Jalan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi atau Bocimi Seksi 3 dan 4 dikabarkan akan diambil alih oleh PT Hutama Karya (HAKA) (Persero) dari pengembang awalnya yakni PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

Menurut Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, meskipun proyek diambil alih oleh Hutama Karya, masih terbuka kemungkinan bagi Waskita untuk menjadi kontraktor.

“Bisa saja nanti Waskita yang garap, tapi uangnya di Hutama Karya. Jadi bisa saja Waskita jadi kontraktor,” kata Basuki.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lanjut Basuki, pengambil alihan proyek Tol Bocimi oleh Hutama Karya sebelumnya telah dibahas dalam rapat terbatas Penyertaan Modal Negara (PMN). “Supaya lebih cepat penanganannya, mungkin PMN-nya lewat HK,” tambah Basuki.

Baca Juga: Tol Bocimi Seksi 3 Dicoret dari Proyek Strategis Nasional

Sementara, wacana pengambilalihan Tol Bocimi sendiri hingga kini masih belum diputuskan.

Diberitakan sukabumiheadline.com sebelumnya, Kementerian BUMN mengusulkan PMN Tambahan pada tahun 2023 sebesar Rp12,5 triliun untuk Hutama Karya. Baca lengkap: Waskita Nyerah, Perusahaan Ini Disuntik Negara Rp12,5 Triliun Bereskan Tol Bocimi

Sebagai informasi, untuk proyek Jalan Tol Bocimi, total panjangnya mencapai 54 kilometer dan terbagi menjadi empat seksi. Namun, yang telah beroperasi baru Seksi 1 Ciawi-Cigombong sepanjang 15,35 kilometer.

Kemudian, Seksi 2 Cigombong-Cibadak sepanjang 11,9 kilometer sudah hampir selesai dan bahkan telah dioperasikan secara fungsional pada Lebaran 2023 lalu.

Lalu, untuk Seksi 3 Cibadak-Sukabumi Barat sepanjang 13,70 kilometer masih dalam tahap pembebasan lahan dengan progres mencapai 79,4 persen, dan Seksi 4 Sukabumi Barat-Sukabumi Timur sepanjang 13,05 kilometer dengan progres pembebasan lahan mencapai 9,9 persen.

Berita Terkait

Top 5 merek smartphone paling laris di dunia 2026, didominasi produk HP China
Suka belanja di HERO Supermarket? Ternyata pemiliknya mualaf asal Sukabumi
Di Sukabumi Wamentan Alim minta hilirisasi kopi dan kakao dikebut
Profil dan harta Eddy Kusnadi Suriaatmadja, bos SCTV dan Indosiar, paling dermawan se-Asia
Januari-September 2026 penumpang KA Pangrango dari Sukabumi naik 613.678 orang
Menaker luncurkan program Tailor Made Training Batch 2 di Sukabumi
Besok becak listrik Prabowo dibagikan gratis di Sukabumi, cek spesifikasi, fitur dan harganya
Satu di Sukabumi, 65 lokasi Kampung Nelayan Merah Putih dilengkapi cold storage

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:02 WIB

Top 5 merek smartphone paling laris di dunia 2026, didominasi produk HP China

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Suka belanja di HERO Supermarket? Ternyata pemiliknya mualaf asal Sukabumi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:30 WIB

Di Sukabumi Wamentan Alim minta hilirisasi kopi dan kakao dikebut

Rabu, 21 Oktober 2026 - 13:37 WIB

Profil dan harta Eddy Kusnadi Suriaatmadja, bos SCTV dan Indosiar, paling dermawan se-Asia

Senin, 19 Oktober 2026 - 23:30 WIB

Januari-September 2026 penumpang KA Pangrango dari Sukabumi naik 613.678 orang

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB