sukabumiheadline.com – Saham dengan kode BREN lagi anjlok pada perdagangan 23 September 2024, sebesar -19,83% atau auto reject bawah (ARB) hingga menyentuh angka Rp7.075 saja.
Namun, ternyata saham BREN masih laris karen harga Rp7.075 merupakan level terendah dalam tiga bulan terakhir. Diketahui, BREN juga diborong asing yang mencatatkan net buy Rp6,49 miliar, Senin (23/9/2024).
Bukti laris lainnya saham BREN atau PT Barito Renewables Energy Tbk, adalah dengan aktivitas perdagangan yang tinggi, yakni 12,59 juta lembar saham ditransaksikan dengan frekuensi 6.449 kali, senilai Rp89,08 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut catatan broker saham Mirae Asset Sekuritas, net buy BREN senilai Rp13,3 miliar. Sementara menurut Stockbit Sekuritas, net buy BREN Rp10,1 miliar, dan menurut catatan BCA Sekuritas, net buy perusahaan milik Prajogo Pangestu tersebut sebesar Rp10 miliar.
Rekomendasi Redaksi: Jadi orang terkaya ke-5 di Asia, ini profil 2 perusahaan Prajogo Pangestu di Sukabumi
Lini bisnis BREN di Sukabumi
Untuk diketahui, PT Barito Renewables Energy Tbk merupakan perusahaan induk sekaligus bagian dari Grup Barito Pacific. Perusahaan ini berfokus pada strategi jangka panjang untuk menyediakan energi yang lebih bersih dan emisi yang lebih rendah.
Perusahaan ini memulai operasinya melalui anak perusahaannya, Star Energy Geothermal Group (SEGS), sebuah produsen energi panas bumi. Perusahaan kini memiliki tiga aset panas bumi di Jawa Barat dengan kapasitas 886 MW, yang merupakan 38% pangsa pasar energi panas bumi di Indonesia.
Perusahaan yang berkantor di Wisma Barito Pacific II, 23rd Floor, Jl. Let. Jend. S. Parman Kav. 60 Slipi, Palmerah, Jakarta Barat, ini memiliki dua pembangkit listrik di Kabupaten Sukabumi yang bernilai triliunan Rupiah.
PLTP Salak

Perusahaan energi baru terbarukan (EBT) pertama yang dimiliki Prajogo Pangestu, adalah Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Salak berdiri megah di atas gunung yang terkenal paling angker di Indonesia itu. Namun, keberadaan PLTP ini telah menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit, ribuan miliar Rupiah, terhitung sejak beroperasi pada 1994 silam.
Rekomendasi Redaksi: Berharap panas geothermal Gunung Salak di lumbung kemiskinan Sukabumi
Setiap tahun, tidak kurang dari Rp60 miliar hingga Rp80 miliar mengalir ke kas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi, melalui Dana Bagi Hasil (DBH) dan Bonus Produksi (BP).
Angka tersebut tentunya belum termasuk nominal yang diterima Pemkab Bogor, mengingat lokasi PLTP terbesar di Indonesia tersebut berada di antara dua kabupaten di Jawa Barat itu.
Pembangkit listrik yang disebut sebagai terbesar di dunia ini dimiliki Star Energy Geothermal Salak (SEGS), anak usaha BREN, setelah merampungkan akuisisi dengan Chevron Geothermal Salak. Baca sejarah PLTP Salak: Sejarah PLTP Gunung Salak, Setor Puluhan Miliar Rupiah per Tahun ke Kas Pemkab Sukabumi
Baca Juga:
Namun sayangnya, kehadiran BREN dan SEGS tidak berdampak signifikan terhadap kesejahteraan warga di sekitar lokasi usaha, Kecamatan Kabandungan. Baca selengkapnya: Berharta Rp1.000 triliun, Prajogo Pangestu bertetangga dengan kemiskinan di Sukabumi
PLTB Sukabumi

Perusahaan EBT kedua yang dimiliki miliarder eks sopir angkot tersebut, adalah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sukabumi.
Rencana pembangunan proyek PLTB di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, hingga saat ini masih simpang siur. Bahkan, proyek kemudian dialihkan dulu ke Sulawesi Selatan.
Namun belakangan, proyek tersebut dicaplok oleh perusahaan swasta milik orang terkaya di Indonesia dan nomor 24 di dunia, Prajogo Pangestu, juga melalui BREN.
Padahal, rencana pembangunan proyek tersebut sudah dijanjikan oleh Presiden Joko Widodo. Bahkan sejak 2019 silam. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat pun sesumbar bahwa pembangunan PLTB di Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi berkapasitas 150 megawatt (MW) itu akan terlaksana dalam waktu dekat. Baca selengkapnya: Apakabar PLTB Sukabumi? Terbesar se-Asia, dipindah ke Sidrap, dicaplok BREN