sukabumiheadline.com – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, berencana membuka rekrutmen besar-besaran untuk lulusan sekolah dasar atau SD untuk menjadi tenaga teknis lapangan.
Menurutnya saat ini para tukang di lapangan tak lagi digunakan karena pemerintah lebih terpaku ada standar pendidikan. Padahal, kata Dedi Mulyadi, para tukang pengelola irigasi, misalnya, bisa diandalkan untuk bekerja meskipun hanya berijazah SD.
Di sisi lain, tenaga kerja yang banyak direkrut terpaku pada stratifikasi pendidikan seperti lulusan SMA hingga S1, tapi kinerjanya hanya berupa laporan foto ke atasan tanpa terjun langsung ke lapangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gubernur yang akrab dipanggil KDM itu blak-blakan menyatakan bahwa pemerintah terlalu terjebak pada stratifikasi pendidikan (S1-S3) sehingga mengabaikan urusan teknis di lapangan.
“Kita memiliki banyak doktor di kantor, tapi tidak ada yang bisa memperbaiki lampu jalan (PJU),” ujar Dedi Mulyadi.
Karenanya, KDM bakal membentuk Divisi Kebersihan dan Infrastruktur yang tidak mensyaratkan ijazah sekolah, bahkan bagi mereka yang tidak lulus SD sekalipun, selama memiliki keterampilan dan kemauan untuk bekerja nyata seperti menyapu jalan atau mengelas bakal direkrut.

Nantinya para tenaga teknis lapangan ini dijanjikan gaji yang layak, yakni sekitar Rp4,2 juta per bulan, demi menjamin kesejahteraan mereka.
“Jadi saya ingin rekrutmen 2026-2027 dengan jumlah besar, tapi inginnya tenaga yang dibutuhkan di lapangan untuk efisiensi,” ujar Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi mengungkap kebijakan tersebut nantinya akan berdampak pada manajemen kinerja di Pemprov Jabar. Ia ingin tenaga substansi sedikit dan tenaga teknis lapangan yang diperbanyak.
“Jadi nanti di manajemen itu harus sedikit yang nyuruh banyak yang kerja,” ujarnya.
Dedi pun mencontohkan terkait pemeliharaan jalan yang selama ini ditangani kontraktor yang cenderung lebih panjang prosesnya. Ia mengusulkan agar pemeliharaan jalan rutin pun dapat ditangani tenaga teknis lapangan.








