sukabumiheadline.com – Indomaret dan Alfamart serta minimarket lainnya tidak lama lagi nampaknya bakal ikut berjualan daging ayam. Hal itu karena saat ini pemerintah mulai menyiapkan langkah memperluas pasar daging ayam ras, di tengah keluhan peternak broiler yang menanggung kerugian akibat anjloknya harga ayam hidup (live bird).
Menurut Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso, pihaknya berencana langsung menghubungi Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin, guna mendorong penjualan daging ayam di jaringan ritel modern, termasuk minimarket.
Dijelaskan Budi, langkah tersebut sebagai respons atas aspirasi peternak ayam broiler yang meminta pemerintah memperluas saluran distribusi dan penjualan produk unggas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Adapun, salah satu usulan yang disampaikan peternak adalah memperbanyak penjualan daging ayam di jaringan minimarket dan supermarket nasional, untuk membantu menyerap produksi yang melimpah.
Budi mengatakan, pada dasarnya tidak ada larangan bagi ritel modern untuk menjual daging ayam.
“Memang boleh kan daging ayam, nggak ada larangan,” kata Budi, Rabu (10/6/2026).
Namun, saat ini baru sebagian minimarket menjual daging ayam. Untuk itu, Budi memastikan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Aprindo.
“Nanti kita koordinasi dengan Aprindo ya supaya bisa masuk ritel modern,” ujarnya.
Menurut Budi, perluasan penjualan daging ayam di ritel modern dapat menjadi salah satu instrumen untuk membantu menyerap pasokan ketika harga daging ayam di tingkat peternak mengalami tekanan.
Namun, pemerintah juga menyiapkan skema penyerapan melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selama ini, program tersebut banyak dikaitkan dengan penyerapan telur. Ke depan, daging ayam juga akan menjadi bagian dari skema penyerapan ketika harga jatuh.
Selain melalui MBG, Kemendag juga akan meminta ritel modern meningkatkan penyerapan produk ayam ketika harga sedang melemah.
Ia menilai hubungan antara peternak dan pelaku perdagangan perlu diperkuat melalui pola kemitraan, agar tercipta keseimbangan antara pasokan dan penyerapan pasar.
“Ya kita kan sebenarnya namanya polanya kemitraan, jadi kita harus saling bersinergi antara produsen dan juga pedagang,” terang dia.
Menurut dia, sebenarnya sudah ada surat edaran terkait penjualan produk pangan tersebut di ritel modern. Namun, koordinasi lebih lanjut tetap akan dilakukan dengan asosiasi ritel.
“Kan edarannya sudah ya, tapi nanti akan kami telepon habis ini ketemu Pak Solihin, ketua Aprindo-nya ya, kita selalu koordinasi,” lanjutnya.
Untuk informasi, sebelumnya, peternak ayam broiler rakyat mengeluhkan kondisi usaha yang semakin tertekan akibat anjloknya harga ayam hidup di tingkat peternak.
Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) Kusnan mengatakan, harga ayam hidup (live bird) di wilayah Jabodetabek dan Banten saat ini hanya berada di kisaran Rp15.000-Rp16.000 per kilogram (kg), jauh di bawah harga pokok produksi (HPP) yang diperkirakan telah mencapai Rp21.000-Rp22.000 per kg.
Kondisi tersebut membuat peternak menanggung kerugian sekira Rp5.000-Rp7.000 per kg live bird atau setara Rp10.000-Rp14.000 per ekor ayam berbobot panen 2 kg.









