sukabumiheadline.com – Dalam kurun tiga tahun terakhir, 2023-2025, Outstanding of Loans in Rupiah and Foreign Currency of Commercial Bank and Rural Banks By Economic Sector in Sukabumi Regency (million rupiahs) atau Posisi Pinjaman yang diberikan Rupiah dan Valuta Asing Bank Umum dan BPR Menurut Sektor Ekonomi di Kabupaten Sukabumi (juta rupiah), terus menurun.
Meskipun demikian, untuk sejumlah sektor mengalami peningkatan. Namun, secara keseluruhan, jumlah pinjaman semua sektor mengalami penurunan.
Berita Terkait: Tren penurunan kredit UMKM Sukabumi di bank umum 3 tahun terakhir
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Melansir data Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat, sektor sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor mendapatkan pinjaman dengan nominal terbesar, namun trennya menurun.
Sedangkan pinjaman terkecil pada sektor sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang, dan trennya juga menurun dalam tiga tahun terakhir.
Berikut adalah data pinjaman bank tiga tahun terakhir di Kabupaten Sukabumi, dikutip sukabumiheadline.com, Rabu (24/6/2026).
Berita Terkait: Miris, warga Sukabumi mulai makan tabungan
Sektor dengan jumlah pinjaman meningkat

Untuk sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, dari Rp784,354 juta pada 2023, turun menjadi Rp722,235 juta (2024), lalu kembali naik menjadi Rp812,274 juta (2025).
Namun, berbeda dengan industri pengolahan, sektor ini mengalami kenaikan pinjaman bank dalam tiga tahun terakhir, yakni Rp1,637 miliar (2023), Rp1,767 miliar (2024), dan Rp1,827 miliar (2025).
Jumlah pinjaman untuk sektor konstruksi juga cenderung meningkat. Pada 2023, jumlah pinjaman sebesar Rp497,065 juta. Kemudian, naik menjadi Rp527,641 juta pada 2024, dan kembali naik menjadi Rp569,648 juta (2025).
Sedangkan untuk sektor pengadaan listrik dan gas, posisi pinjaman bank pada 2025 sebesar Rp8,451 juta. Angka tersebut lebih besar dibandingkan 2023 yang hanya Rp5,449 juta, dan 2024 sebesar Rp5.383 juta.
Selanjutnya sektor transportasi dan pergudangan, juga mengalami kenaikan. Pada 2023, besar pinjaman Rp92,289 juta. Kemudian naik menjadi Rp129,659 juta (2024), dan naik lagi pada 2025 menjadi Rp209,645 juta.
Tren sama untuk sektor real estate, dari Rp165,507 juta (2023), naik menjadi Rp223,799 juta (2024), dan naik lagi hingga Rp227,655 juta (2025).
Untuk sektor jasa pendidikan, mengalami kenaikan dibandingkan pada 2023 yang sebesar Rp55,951 juta, naik jadi Rp71,668 juta (2024), dan naik lagi menjadi Rp79,048 juta (2025).
Demikian pula sektor administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib, naik dari Rp203 juta (2023), lalu Rp114 juta (2024), dan Rp178 juta (2025).
Sektor dengan jumlah pinjaman menurun

Untuk sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang, jumlah pinjaman yang disalurkan tergolong sangat kecil dan nominal yang terus menurun, yakni Rp4,427 juga (2023), Rp4,922 juta (2024), dan Rp3,482 juta (2025).
Demikian pula sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor, jumlah pinjaman diberikan tergolong besar, namun trennya menurun. Untuk 2023, jumlah pinjaman diberikan sebesar Rp4,436 miliar. Kemudian pada 2024, turun jadi Rp3,772 miliar. Nilai pinjaman kembali turun pada 2025 menjadi hanya Rp3,431 miliar.
Kemudian untuk sektor pertambangan dan penggalian, pada 2023, jumlah pinjaman diberikan sebesar Rp379,338 juta. Kemudian, turun menjadi Rp356,547 juta (2024), dan turun lagi menjadi hanya Rp351,354 juta (2025).
Tren penurunan jumlah pinjaman juga terjadi di sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, yakni Rp200,419 juta (2023), Rp200,668 juta (2024), Rp186,510 juta (2025).
Sektor lain yang mengalami tren penurunan pinjaman, adalah informasi dan komunikasi. Pada 2023, jumlah pinjaman sebesar Rp6,267 juta, turun menjadi Rp5,560 juta (2024), dan tersisa Rp4,607 juta (2025).
Sedangkan sektor jasa keuangan dan asuransi, turun dari Rp21,332 juta (2023), Rp24,249 juta (2024), dan Rp20,227 juta (2025). Demikian pula sektor jasa perusahaan, Rp85,498 juta (2023), Rp75,724 juta (2024), dan Rp74,891 juta (2025).
Selanjutnya sektor jasa kesehatan dan kegiatan lainnya, turun dari Rp301,569 juta (2023), menjadi hanya Rp318,203 juta (2024), dan kembali anjlok menyisakan Rp285,217 juta (2025).
Setali tiga uang dengan sektor jasa lainnya. Sektor ini juga mengalami penurunan jumlah pinjaman, dari Rp333,599 juta (2023), lalu Rp326,528 juta (2024), dan tersisa Rp283,051 juta pada 2025.
Dengan demikian, total pinjaman bank untuk semua sektor adalah Rp9,007.436 miliar (2023), turun menjadi Rp8,533.250 miliar (2024), lalu turun lagi menjadi hanya Rp8,375.019 miliar pada 2025.









