sukabumiheadline.com – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah melakukan lelang tiga Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP). Penawaran wilayah “harta karun” ini tak terlepas dari masih besarnya potensi panas bumi di Tanah Air.
Menurut Direktur Panas Bumi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Harris Yahya, pihaknya melelang setidaknya tiga WKP, yakni WKP Cisolok di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, WKP Guci di Jawa Tengah, dan WKP Bora-Pulu di Sulawesi Tengah.
“Untuk 2023 itu rencananya ada, ini baru direncanakan ya, itu ada WKP Cisolok yang di Sukabumi. Kemudian, yang di Semarang, Guci, WKP Guci sebenarnya itu sudah ada dulu dikembalikan. Kemudian, ada yang di Bora-Pulu di Sulawesi Tengah. Itu yang kita coba lelang untuk yang WKP,” ungkap Harris beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berita Terkait:
Lelang PLTP Cisolok-Sukarame dimenangkan DSSA
PT Dian Swastika Sentosa Tbk. (DSSA) telah memenangkan lelang dua blok panas bumi. DSSA menilai hal itu memiliki nilai strategis yang signifikan. Untuk diketahui, DSSA merupakan emiten dari Grup Sinar Mas.
Melalui anak perusahaan PT Daya Anugerah Sejati Utama (DASU), DSSA berhasil menjadi pemenang lelang untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Cisolok-Cisukarame di Kabupaten Sukabumi, serta WKP Nage yang berlokasi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Perusahaan memilih WKP Cisolok dan Nage karena keduanya memiliki potensi yang relevan untuk dikembangkan, terutama dalam mendukung percepatan kebutuhan listrik di masing-masing wilayah,” ujar Susan Chandra, Sekretaris Perusahaan DSSA, dikutip sukabumiheadline.com, Jumat (15/11/2024).
Rekomendasi Redaksi: Apakabar PLTB Sukabumi? Terbesar se-Asia, dipindah ke Sidrap, dicaplok BREN
Untuk memenangkan lelang Blok Cisolok, PT DASU harus bersaing dengan PT Ormat Geothermal Indonesia. DSSA unggul dalam lelang ini karena menawarkan program eksplorasi dengan nilai yang lebih tinggi dibandingkan PT OGI.
Penetapan pemenang untuk DSSA dilakukan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam acara International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) pada Rabu (18/9/2024).
Baca Juga: PLTP Salak Sukabumi 1980-2024, dari Unocal hingga Star Energy
PT DASU akan menginvestasikan sekitar US$210,5 juta atau setara Rp3,22 triliun (dengan asumsi kurs Rp15.322 per dolar AS) untuk pengembangan Blok Cisolok.
Susan juga menyatakan bahwa perusahaan menargetkan agar kedua blok panas bumi ini mulai beroperasi secara komersial (COD) pada tahun 2031.
“DSSA telah menyiapkan investasi lebih dari US$400 juta, dengan target COD untuk kedua blok pada tahun 2031,” katanya.
Berita Terkait:
Meskipun telah memenangkan lelang sejak 2023 lalu, namun hingga kini belum ada aktivitas perusahaan di lokasi PLTP Cisolok-Cisukarame. Hal itu diungkap Kepala Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Okih Suryadi.
“Belum ada aktivitas, pak,” singkat Okih saat dikonfirmasi sukabumiheadline.com melalui aplikasi perpesanan.
PLTP Cisolok-Sukarame Sukabumi
Untuk diketahui, blok panas bumi Cisolok-Cisukarame memiliki luas konsesi mencapai 15.580 hektare, dengan 4.260 hektare di antaranya merupakan hutan konservasi yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, potensi panas bumi di WKP Cisolok diperkirakan mencapai 45 Mega Watt (MW).
Baca Juga: Mengintip Dana Bagi Hasil dan Bonus Produksi PLTP Salak untuk Kabupaten Sukabumi
Sedangkan, berdasarkan data Kementerian ESDM, hingga akhir 2022, kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) RI baru mencapai 2.342,6 Mega Watt (MW). Capaian ini juga masih lebih rendah dibandingkan target 2022 yang sebesar 2.344,1 MW. Baca selengkapnya: Termasuk Cikakak Sukabumi, 90% Potensi Panas Bumi RI Belum Digarap, Mau Diekspor?
Bila dibandingkan dengan total sumber daya panas bumi RI yang mencapai 23.965,5 MW, artinya panas bumi untuk sumber energi RI baru dimanfaatkan 9,8%.
Berita Terkait: Mengenal 10 PLTP terbesar di dunia, satu di Sukabumi dan Tapanuli Utara
Indonesia merupakan pemilik sumber daya panas bumi terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Hingga Desember 2020, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat sumber daya panas bumi Indonesia mencapai sebesar 23.965,5 Mega Watt (MW) atau sekitar 24 Giga Watt (GW).
Amerika Serikat menduduki peringkat pertama untuk sumber daya panas bumi yakni mencapai 30.000 MW. Selanjutnya, Indonesia 23.965,5 MW, Jepang 23.400 MW, Kenya 15.00 MW dan terakhir Islandia 5.800 MW.