Nilai banyak masalah harus diselesaikan, Dedi Mulyadi: nama Jawa Barat sudah tak relevan

- Redaksi

Jumat, 24 Mei 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Politikus Partai Golkar Dedi Mulyadi. l Istimewa

Politikus Partai Golkar Dedi Mulyadi. l Istimewa

sukabumiheadline.com – Mantan Bupati Purwakarta yang digadang-gadang bakal maju dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat 2024, Dedi Mulyadi, menilai bahwa nama Jawa Barat di saat ini sudah tidak relevan digunakan.

Dedi Mulyadi mengungkap hal itu saat berbincang-bincang dengan Faizal Akbar, dikutip sukabumiheadline.com dari kanal YouTube Faizal Akbar Uncensored, Jumat (24/5/2024).

Ia beralasan, penamaan Jawa Barat hanya relevan ketika Banten yang berada di wilayah paling barat Pulau Jawa masih masuk Provinsi Jawa Barat. Padahal, saat ini Banten sudah menjadi provinsi sendiri, terpisah dari Jawa Barat. Baca lengkap: Mengingat Kembali Alasan Provinsi Banten Memilih Pisah dari Jawa Barat

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sekarang kan Banten sudah jadi provinsi sendiri. Jadi, Jawa Barat sudah tidak lagi paling barat. Tapi sepertiga barat. Tapi ini bercanda ya, bercanda,” lanjut Dedi sambil tertawa.

Baca Juga:

Bandung sudah tak nyaman

Masih dalam perbincangannya dengan Akbar Faizal, Dedi Mulyadi juga menyinggung mengenai kondisi Kota Bandung yang saat ini sudah tidak nyaman untuk dikunjungi.

Menurut mantan suami Anne Ratna Mustika itu, kondisi jalanan di Kota Bandung saat ini cenderung macet. Ia menilai kondisi tersebut disebabkan masalah infrastruktur jalan dan mass transportaion.

Baca Juga:

Karenanya, kehadiran jalan tol yang bisa mempercepat akses perjalanan antardaerah tidak serta merta diikuti oleh pemerintah daerah dengan pembangunan infrastruktur pendukung di kota tersebut.

Di sisi lain, ketiadaan pembangunan jalan yang memadai, membuat arus lalu lintas di Kota Bandung menjadi kian padat. Padahal, dengan kehadiran jalan tol, jalan provinsi, jalan kota, jalan kecamatan atau bahkan jalan desa pun mengalami perbaikan, baik dari lebar maupun panjang jalan.

Hal itu, menurut Dedi Mulyadi, karena pembangunan jalan saat ini kurang menjadi perhatian karena bukan merupakan proyek mercusuar bagi kepala daerah.

“Kalau kepala daerah membangun jalan, usai menjabat, dia tidak akan diingat oleh masyarakat. Tapi kalau membangun proyek mercusuar, seperti membangun Monas, stadion senayan dan lainnya, orang bakal ingat. Makanya, pembangunan jalan suka kurang diperhatikan,” jelas Dedi.

Dedi menilai, pembangunan di Kota Bandung kurang signifikan dan minim terobosan. “Ya dari dulu, ya maaf ya, transportasi massa di kota bandung dari dulu ya itu itu saja, belum ada terobosan baru,” kata dia.

Berita Terkait

Aksi copot foto Wapres Gibran, dari Kota Sukabumi merembet ke DPRD DI Yogyakarta
Gundar Kolyubi dan Asep Japar pimpin Partai Golkar Kota dan Kabupaten Sukabumi
Poltracking: Survei elektabilitas 19 parpol, PSI 2,9% meski Jokowi turun gunung
Musda DPD Golkar Kabupaten Sukabumi, Agus: Akan ada deklarasi dukung Asep Japar
SMRC: Survei elektabilitas Prabowo makin anjlok di bawah 10%
Pria asal Sukabumi dan tiga anaknya terlantar di Medan
Kepala Bakom RI ajak Anies Baswedan gabung Kabinet Prabowo, Syahganda: Jangan malu-malu
Eksekutor pecah kaca dan gembos ban beromzet Rp4,1 miliar diringkus di Sukabumi

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 15:09 WIB

Aksi copot foto Wapres Gibran, dari Kota Sukabumi merembet ke DPRD DI Yogyakarta

Senin, 26 Oktober 2026 - 03:00 WIB

Gundar Kolyubi dan Asep Japar pimpin Partai Golkar Kota dan Kabupaten Sukabumi

Senin, 19 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Poltracking: Survei elektabilitas 19 parpol, PSI 2,9% meski Jokowi turun gunung

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 19:00 WIB

Musda DPD Golkar Kabupaten Sukabumi, Agus: Akan ada deklarasi dukung Asep Japar

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 17:00 WIB

SMRC: Survei elektabilitas Prabowo makin anjlok di bawah 10%

Berita Terbaru