sukabumiheadline.com – Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Jakarta III menggencarkan layanan fisioterapi untuk menekan angka stunting di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Menurut Indah Puspita Rukmi dalam artikelnya berjudul Layanan Fisioterapi Percepat Penurunan Stunting di Sukabumi, Kolaborasi strategis antara akademisi, tenaga kesehatan, dan kader posyandu terus digalakkan di Kecamatan Sukaraja, Sukabumi, guna mendeteksi dini dan memberikan intervensi tumbuh kembang pada kelompok 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Stunting masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar bagi anak-anak di Indonesia,” kata penulis lepas yang menyukai dunia jurnalistik, parenting, dan bahasa asing tersebut dikutip sukabumiheadline.com, Selasa (11/8/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Mengutip data hasil Rakornas DPR RI, prevalensi stunting di Indonesia pada pertengahan tahun 2023 berada di angka 21,6%, sementara pemerintah mengejar target penurunan hingga 14% pada tahun 2024,” paparnya.
Menjawab tantangan tersebut, kata dia, tim pengabdi dari Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Jakarta III turun langsung ke masyarakat melalui program pengabdian bertajuk Pemberdayaan Kelompok Rumah Tangga 1000 HPK dan Kader Melalui Giat Layanan Fisioterapi Dalam Percepatan Penurunan Stunting di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi.
Tim pengabdi yang diketuai oleh Zahra Sativani, S.Tr.Ftr., M.Kes, beranggotakan Nur Achirda, Ftr., M.Fis, dan Muhammad Gilang Sugiharto, Amd. Ft., telah melaksanakan fase awal program dengan melakukan skrining mendalam di Kantor Desa Selaawi pada 8 Juni 2026.
Kegiatan penjajakan dengan Puskesmas Kecamatan Sukaraja yang dipimpin Drg. Ajeng sudah dimulai sejak 10 April 2026.
“Dari total 35 pendaftar, sebanyak 17 ibu dan balitanya (usia 0-23 bulan) hadir mengikuti pemeriksaan antropometri. Hasil identifikasi di lapangan mengungkap realitas yang perlu segera ditangani,” jelas Indah.
“Ditemukan 2 balita berusia 11 bulan berstatus gizi pendek (stunted) dan 1 balita berusia 13 bulan berstatus sangat pendek (severely stunted). Lebih memprihatinkan lagi, dari 17 anak yang diskrining menggunakan Kuesioner Praskrining Perkembangan (KPSP), 9 anak di antaranya teridentifikasi mengalami gangguan atau keterlambatan tumbuh kembang,” ungkapnya.
Ia menambahkan, masalah gizi dan kesehatan rupanya tidak hanya dialami oleh anak. Skrining pada status kesehatan ibu menunjukkan temuan mengejutkan yakni 76,9% ibu masuk dalam kategori Indeks Massa Tubuh (IMT) berlebih hingga obesitas, serta ditemukan 2 ibu hamil yang mengalami kondisi anemia ringan.
“Fakta ini menegaskan bahwa stunting adalah hasil dari proses kumulatif yang bahkan dapat terjadi sebelum kelahiran akibat asupan gizi yang tidak adekuat selama kehamilan,” kata Indah.
Selama ini, kata dia, stunting kerap dipahami sebatas masalah tinggi badan, padahal dampaknya jauh lebih luas. Proporsi tubuh anak mungkin terlihat normal namun lebih pendek untuk usianya, yang kemudian bisa merambat pada terhambatnya kemampuan fokus dan memori belajar, hingga penurunan kemampuan kognitif di masa depan.
“Di sinilah peran penting tenaga fisioterapi. Selain deteksi dini kelainan tumbuh kembang secara fisik maupun motorik, fisioterapis bertugas memberdayakan kelompok rumah tangga 1000 HPK (ibu hamil, menyusui, dan anak 0-23 bulan),” papar Indah.
“Mengingat edukasi pola asuh, pemenuhan gizi, serta stimulasi motorik dan sensorik adalah kunci utama pencegahan kegagalan fungsi kognitif anak,” imbuhnya.
Berdasarkan temuan dari asesmen yang telah dilakukan, tim pengabdi telah merumuskan tahapan intervensi lanjutan yang terukur.
“Pertama, edukasi dan pendampingan keluarga 1000 HPK untuk mempraktikkan stimulasi terapeutik dasar secara mandiri di rumah,” saran Indah.
“Kedua, pelaksanaan Training of Trainer (ToT) bagi para kader desa agar kompeten mendeteksi tanda bahaya (red flags) keterlambatan tumbuh kembang secara proaktif.”
“Ketiga, implementasi program pendampingan fisioterapi secara intensif, khusus untuk 9 anak yang terbukti belum mencapai batas kemampuan KPSP pada usianya,” ungkap Indah.
Melalui giat layanan yang komprehensif, Indah mengharapkan kesadaran masyarakat Sukaraja akan pentingnya masa krusial 1000 HPK semakin meningkat.
“Sehingga target Sukabumi zero stunting bisa menjadi kenyataan,” pungkasnya.









