sukabumiheadline.com – Jahe atau zingiber officinale, adalah rempah rimpang dengan rasa pedas dan aroma khas, sering digunakan sebagai bumbu masakan, minuman herbal (seperti wedang jahe), dan obat tradisional karena sifat anti-inflamasi dan antioksidannya.
Senyawa aktifnya, seperti gingerol, bermanfaat untuk menghangatkan tubuh, meredakan mual, nyeri haid, membantu pencernaan, mengontrol gula darah, dan menjaga kesehatan jantung. Jahe dapat diolah menjadi minuman hangat dengan tambahan rempah lain seperti serai, kayu manis, dan gula aren.
Berita Terkait: 28 kecamatan penghasil jahe di Sukabumi, 1,4 juta kg!
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Khasiat jahe

Jahe lazim digunakan sebagai bumbu masakan, dari mulai penyedap sup, kari, rendang, dan hidangan lainnya. Selain itu, juga populer sebagai bahan untuk minuman herbal, seperti wedang jahe, teh jahe, kue, permen, hingga jamu untuk menghangatkan badan.
Di dunia pengobatan tradisional, jahe diyakini mampu mengatasi mual, nyeri haid, masalah pencernaan (maag, GERD), dan meningkatkan imunitas. Hal itu karena jahe merupakan anti-inflamasi, yang bisa mengurangi peradangan dan nyeri. Baca selengkapnya: Daftar obat herbal ala Rasulullah SAW lengkap dalil, ada jahe dan cuka
Jahe juga membantu mengatasi mual, kembung, dan masalah lambung, membantu mengontrol gula darah dan kolesterol, menjaga tekanan darah dan kesehatan jantung.
Namun mengonsumsinya secara berlebihan dapat menyebabkan masalah pencernaan seperti mulas atau diare. Demikian pula dengan ibu hamil, disarankan berhati-hati dan berkonsultasi dengan dokter karena risiko efek samping pada kehamilan.
Produksi jahe Indonesia dan Jawa Barat
Sementara itu, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Produksi Tanaman Biofarmaka Menurut Provinsi dan Jenis Tanaman 2025, produksi jahe Indonesia mencapai 168,97 juta kg. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan tanaman biofarmaka lainnya.
Tidak hanya dalam skala domestik, permintaan terhadap komoditas ini juga menembus pasar ekspor dunia. Kualitas dan masa simpannya yang relatif lama sangat mendukung untuk menjadi komoditas ekspor unggulan dari Indonesia
Dalam laporan yang sama, Jawa Timur menjadi provinsi penghasil jahe terbesar di Indonesia, dengan angka produksi mencapai 41,1 juta kilogram (kg) atau sekitar 24,4% dari total produksi nasional.
Sementara Jawa Barat berada di posisi kedua dengan 37,5 juta kg, dan posisi ketiga ditempati Jawa Tengah dengan 27,4 juta kg. Secara bersamaan, ketiga provinsi teratas ini menyumbang sekitar 63% dari produksi jahe nasional.
Berita Terkait: Gegerbitung lumbung jahe, ini 17 kecamatan penghasil tanaman biofarmaka di Sukabumi
Lantas, berapa produksi jahe dari Kabupaten Sukabumi?

Memiliki banyak manfaat, tidak heran jika banyak petani di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menanam tumbuhan rempah ini. Bahkan, menurut data Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sukabumi, produksi jahe mencapai 1,4 juta ton lebih pada 2025.
Produksi Tanaman Biofarmaka Menurut Kecamatan di Kabupaten Sukabumi (kg),
2025, dikutip sukabumiheadline.com dari data Badan Pusat Statistik (BPS), Kamis (23/4/2026).
- Lengkong: 426.299 kg
- Waluran: 245.000 kg
- Ciemas: 200.000 kg
- Tegalbuleud: 106.000 kg
- Sagaranten: 100.000 kg
- Gegerbitung: 85.060 kg
- Jampang Kulon: 52.000 kg
- Cisolok: 45.900 kg
- Purabaya: 30.000 kg
- Ciracap: 25.500 kg
- Sukalarang: 20.001 kg
- Jampang Tengah: 18.000 kg
- Bantargadung: 14.000 kg
- Simpenan: 12.500 kg
- Bojonggenteng: 9.000 kg
- Palabuhanratu: 4.610 kg
- Kebonpedes: 3.750 kg
- Gunungguruh: 2.440 kg
- Cikembar: 1.585 kg
- Cikakak: 1.500 kg
- Cimanggu: 1.400 kg
- Kadudampit: 1.175 kg
- Nagrak: 854 kg
- Sukabumi: 850 kg
- Cireunghas: 700 kg
- Warungkiara: 500 kg
- Surade: 500 kg
- Cibitung: 290 kg
Dari di atas, produksi jahe dari Kabupaten Sukabumi mencapai 1.418.714 kg atau 1.418 ton lebih pada 2025. Jumlah tersebut turun 400 ton lebih dibanding produksi tahun sebelumnya yang mencapai 1.896.715 kg.









