sukabumiheadline.com – Gula semut adalah olahan gula merah (sering disebut gula kristal) berbentuk bubuk atau butiran halus yang menyerupai sarang semut di tanah. Umumnya terbuat dari nira pohon kelapa, aren (enau), atau siwalan.
Soal peluang bisnis, jenis gula ini sangat menjanjikan di pasaran. Selain dinilai lebih higienis, gula ini juga memiliki sejumlah kelebihan yang diulas redaksi pada bagian akhir artikel ini.
Baca Juga: Potensi hilirisasi kelapa RI Rp4.800 triliun, dari Sukabumi berapa?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Farid Zul Azis, salah seorang pengusaha muda asal Desa/Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kini sudah memiliki omzet Rp3 miliar per bulan, hanya dari bisnis gula semut.
Pria 42 tahun itu mengungkap bahwa ia merintis usahanya tersebut sejak 2018. Dan kini, ia berhasil menembus pasar nasional dengan menjadi supplier gula semut untuk sejumlah perusahaan ternama di Indonesia.
“Mulai bisnis ini sejak tahun 2018. Hanya saja waktu itu masih pakai nama perorangan,” kata Farid kepada sukabumiheadline.com, Rabu (1/6/2026).
“Untuk buyer, sementara masih lokal, seperti Kopi Kenangan, PT Haldin, PT Big Tree Family Farm, dan beberapa retail lainnya,” imbuhnya.
Dalam kurun delapan tahun sejak merintis usahanya tersebut, kini Farid berhasil meraup omzet hingga Rp3 miliar per bulan.
“Untuk omzet per bulan rata-rata sekira 3 miliar Rupiah. Untuk kapasitas produksi, antara 100 sampai 120 ton per bulan,” jelas Farid.
Baca Juga: Sepatu hingga sabut kelapa, nilai dan negara tujuan ekspor 16 komoditi non migas Sukabumi

Selama menjalankan bisnisnya tersebut, Farid kini sudah bisa mempekerjakan 56 pegawai yang setiap hari memproduksi gula dari hulu hingga hilir.
Produksi gula semut milik Farid tersebut melalui dua tahapan proses produksi. Untuk pengolahan hingga menjadi gula, dilakukan di Kecamatan Surade. Sedangkan, pabriknya yang di Cicurug mengolah menjadi gula semut yang siap dikirim ke buyer.
Di pabriknya yang berlokasi di Jl. Leuwinanggung, Kampung Warung Ceuri, Desa Nyangkowek, Kecamatan Cicurug, gula diolah menjadi gula semut, kemudian dikemas dalam kemasan besar. “Karena ini B to B (business to business), jadi dikemas karung 20 kilogram.”
Lebih jauh, Farid juga berencana memproduksi gula cair. Namun, saat ini mesin produksinya masih dalam tahap pembuatan.
“Ya, untuk gula cair masih dalam proses pembuatan mesin-mesinnya. Inshaallah gak lama lagi,” kata dia.
Berita Terkait: Merinci volume produksi hasil perkebunan di Sukabumi, kelapa juara
Selain fulus, selama menjalankan bisnisnya tersebut, Farid mengaku mendapatkan banyak ilmu dari pengalaman selama delapan tahun terakhir.
“Banyak bertemu dan berkunjung ke daerah-daerah terpencil. Setelah beberapa kali kunjungan ke daerah, ada beberapa peluang bisnis lain yang saya lihat, di antaranya coconut milk, VCO (virgin coconut oil), dan turunan produk kelapa lainnya,” ungkap Farid. Baca selengkapnya: 10 kecamatan dengan kebun kelapa terluas di Sukabumi, peluang ekspor ke China untuk coconut milk
Kenapa disebut gula semut?
Gula ini dinamai “semut” karena bentuk fisiknya yang berupa butiran-butiran kecil atau serbuk menyerupai sarang semut yang bersarang di dalam tanah. Dalam bahasa asing, produk ini lebih dikenal dengan istilah palm sugar atau palm zuiker karena berasal dari keluarga tanaman palmae.
Gula semut dikenal memiliki karakteristik dan sejumlah keunggulan yang khas. Berbeda dengan gula merah cetak padat, bentuknya yang berupa bubuk kering membuatnya lebih mudah dan cepat larut.
Gula semut juga memiliki aroma karamel yang khas serta rasa manis yang lebih lembut. Gula jenis ini dapat disimpan hingga dua tahun jika dikeringkan dengan tepat (kadar air rendah) dan dikemas dengan rapat.
Kegunaan gula semut
Gula semut sangat populer sebagai pemanis alami untuk berbagai sajian makanan dan minuman. Sering digunakan sebagai campuran minuman hangat (kopi, teh, wedang jahe), bahan pembuat kue, roti, serta berbagai macam kuliner tradisional maupun modern.
Manfaat kesehatan
Gula semut sering dianggap lebih sehat dibandingkan gula pasir. Beberapa kelebihannya antara lain:Diolah secara organik tanpa menggunakan bahan pengawet kimia.
Memiliki indeks glikemik yang lebih rendah, sehingga diklaim lebih aman untuk penderita diabetes jika dikonsumsi dalam batas wajar. Gula ini juga kaya akan kandungan mineral seperti kalium, fosfor, zat besi, serta mengandung antioksidan.









