Hobi mendaki gunung, santri asal Parungkuda Sukabumi ini punya usaha beromzet Rp2,5 miliar

- Redaksi

Minggu, 1 September 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Momen Andri Aririn pertama kali mendaki Gunung Rinjani - Dok. Pribadi

Momen Andri Aririn pertama kali mendaki Gunung Rinjani - Dok. Pribadi

sukabumiheadline.com – Sosok pria berusia 26 tahun ini mungkin belum banyak dikenal, termasuk di kecamatan di mana ia tinggal sekalipun, Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Namun siapa sangka, Andri Aririn yang menghabiskan 8 tahun masa remajanya di pondok pesantren (ponpes) ini memiliki usaha skala kecil, namun beromzet miliaran Rupiah per bulan.

Rekomendasi Redaksi: Siti Navisyah, Selebgram Cantik Asal Sukabumi Penakluk Gunung

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Padahal, saat remaja Andri tergolong hobi mendaki gunung. Terlebih saat masih mondok di Ponpes Al Fatah, Desa Temboro, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, hampir semua gunung di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara pernah ia daki.

“Pertama kali mendaki ke Gunung Rinjani, Nusa Tenggara,” aku Andri kepada sukabumiheadline.com, Sabtu (31/8/2024) malam di Sukakopi Kedai 24 Jam Parungkuda.

Kedai Sukakopi l 24 Jam, 100 meter dari exit toll Bocimi Seksi 2. l Istimewa
Kedai Sukakopi l 24 Jam, 100 meter dari exit toll Bocimi Seksi 2 – Istimewa

Baca Juga:

“Kalau di Pulau Jawa yang pernah itu ke Gunung Merbabu, Slamet, Sumbing, Lawu, sampai Gunung Salak dan Gede Pangrango,” imbuh ayah satu anak itu.

“Kalau sekarang waktunya habis untuk usaha, bisnis. Jadi udah lama juga gak mendaki gunung,” kata Andri.

Baca Juga:

Pendaki gunung
Andri Aririn ketika mendaki Gunung Merbabu, Jawa Tengah – Dok. Pribadi

Merintis usaha minyak goreng kemasan 

Meskipun pernah menimba ilmu agama di ponpes, namun bakat bisnis Andri yang diwarisi dari orangtuanya sangat memengaruhi perjalanan hidupnya saat ini. Sejak kecil hidup bersama orangtuanya yang membuka usaha produksi tempe, ia kemudian tertarik terjun ke dunia bisnis.

Kini, suami dari Sakinah Qurrota A’yun itu pun sudah dua tahun jalan menggeluti bisnis minyak goreng kemasan.

Baca Juga:

Dibantu dua pekerja, Andri terus berupaya mengembangkan bisnisnya itu. Dari modal awal hanya sekira Rp18 juta, kini usaha yang dirintisnya sejak 2022 itu pun sudah beromzet miliaran Rupiah.

“Awalnya modal saya kecil, karena baru merintis, sekira 18 juta Rupiah,” kenang Andri.

Diakui Andri, banyak kendala dan tantangan ia hadapi. Namun, ia yakin bisnisnya tersebut akan semakin berkembang. Terlebih, minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang selalu dibutuhkan masyarakat.

Baca Juga: 

Andri Aririn terjun langsung mengelola usaha minyak goreng kemasan - Dok. Pribadi
Andri Aririn terjun langsung mengelola usaha minyak goreng kemasan – Dok. Pribadi

“Kalau kendala sih yang paling utama itu persaingan dengan pemilik modal besar. Jadi sekarang murah itu sudah bukan lagi pilihan, karena kalau pemodal besar berani kasih pembayaran dengan tempo,” paparnya.

“Banyak grosir lebih menyukai pembayaran dengan tempo dari pada harga lebih murah,” kata dia.

Baca Juga:

Namun, berkat kegigihannya menjalankan usahanya itu, ia tetap mampu bersaing. Buktinya, permintaan terhadap minyak goreng terus meningkat. Bahkan, Andri kemudian kembali menyuntik modal usahanya menjadi total Rp150 juta.

“Karena terus berkembang dan permintaan meningkat, lalu saya tambahin modalnya jadi total 150 juta Rupiah,” ungkap warga Kampung Leuwiorok RT 012/005, Desa Sundawenang, Kecamatan Parungkuda itu.

Dengan tambahan modal sebesar itu, dalam sebulan Andri sanggup menjual hingga 14 ribu karton –setiap karton berisi 12 botol atau standing pouchred –. Dengan demikian, dalam satu bulan ia berhasil memasarkan sekira 168 ribu botol.

“Nilainya memang lumayan besar, omzetnya sekira 2,5 miliar per bulan. Namun, kalau jualan sembako itu kan gak kayak bisnis lain yang bisa ngambil untung besar,” kata Andri.

Baca Juga:

Diakui pria yang juga imam salah satu masjid jami itu, ia hanya mengambil keuntungan bersih sebesar satu persen saja. Dengan demikian, dalam sebulan ia bisa mengantongi untung sekira Rp20 juta hingga Rp25 juta.

“Saya hanya ngambil untung sekira satu persen aja. Omzet juga kan gak stabil, ada turun naik juga, tergantung musim,” papar Andri.

“Kalau keuntungan kotor sekira 40 jutaan, tapi saya juga dibantu yang kerja dua orang. Kalau barang saya selalu nyetok di gudang,” tambah dia.

Rencana ke depan

Lebih jauh, Andri mengaku masih ingin mengembangkan sayap bisnisnya. Namun, saat ini ia tengah menimbang usaha lain yang memiliki potensi lebih besar.

“Saya merencanakan membuka usaha lain, tapi inginnya sih gak jauh dari sembako juga. Biar satu arah lah gitu. Jadi masih menimbang-nimbang mana yang paling potensial lebih menguntungkan,” pungkas pria yang juga hobi trading saham itu.

Berita Terkait

Tren penurunan kredit UMKM Sukabumi di bank umum 3 tahun terakhir
Jerit perajin tempe di Sukabumi dipicu Rupiah jeblok
5 dampak positif jika KRL Jakarta-Sukabumi sudah beroperasi
Rupiah jeblok ke Rp18.000 per Dolar hari ini
Dirut PT KAI bocorkan rencana lain di balik proyek KRL Bogor-Sukabumi
Soal KRL Sukabumi, Ketum DPP Ikatan Keluarga Minang: Investasi jangka panjang
Batik hingga bumerang, ini 13 produk UMKM Sukabumi dikenal di mancanegara
Produksi daging dan populasi kambing di Sukabumi, ini kandungan gizi ternak para Nabi

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 20:08 WIB

Tren penurunan kredit UMKM Sukabumi di bank umum 3 tahun terakhir

Kamis, 4 Juni 2026 - 23:55 WIB

Jerit perajin tempe di Sukabumi dipicu Rupiah jeblok

Kamis, 4 Juni 2026 - 13:43 WIB

5 dampak positif jika KRL Jakarta-Sukabumi sudah beroperasi

Kamis, 4 Juni 2026 - 10:42 WIB

Rupiah jeblok ke Rp18.000 per Dolar hari ini

Kamis, 4 Juni 2026 - 02:58 WIB

Dirut PT KAI bocorkan rencana lain di balik proyek KRL Bogor-Sukabumi

Berita Terbaru