Dosen Teknik Sipil Universitas Nusa Putra Sukabumi: Hapuskan Sekat-sekat Gender

- Redaksi

Selasa, 23 November 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Utamy Sukmayu Saputri. l Dok. Pribad

Utamy Sukmayu Saputri. l Dok. Pribad

SUKABUMIHEADLINE.com I CISAAT – Wanita memiliki wawasan luas berarti tahu betul bagaimana cara berkompetisi yang fair dalam urusan karier atau lainnya. Terlebih, seiring berkembangnya pendidikan tinggi di Indonesia, kini banyak wanita tidak lagi memilih jurusan yang identik dengan kaum Hawa.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak perempuan memilih jurusan teknik, kemudian menduduki posisi strategis, mulai dari perencanaan, perancangan, monitoring hingga evaluasi.

Bentuk keterlibatan perempuan dalam pembangunan infrastruktur, misalnya, dapat dilibatkan di level kebijakan, seperti dalam proses perumusan kebijakan agar pembangunan di bidang infrastruktur bersifat inklusif dan dan ramah gender.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Utamy Sukmayu Saputri, salah seorang dosen perempuan di Universitas Nusa Putra Sukabumi, memberikan pandangan seputar bidangnya, teknik sipil, yang selama puluhan tahun identik dengan kaum Adam.

Kepada sukabumiheadline.com, Selasa (23/11/2021), Utamy menjelaskan alasannya mempelajari teknik sipil hingga kemudian menjadi pendidik.

“Berbagi ilmu karena ilmu itu tidak akan expired. Itu salah satu alasan saya tertarik menjadi dosen. Selain itu, ada kebahagian tersendiri jika kemudian melihat mahasiswa sukses, mendorong saya untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri,” jelas ibu satu anak itu.

Hapuskan Sekat-sekat Gender

Wanita yang hobi membaca ini berpendapat, ketimpangan gender yang terjadi saat ini sudah terkonstruksi sejak berabad-abad silam, dan tanpa sadar terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sejak kecil. Sehingga, akhirnya dapat membentuk persepsi seorang anak.

Padahal, pemahaman baru mengenai gender bisa dikonstruksi asalkan masyarakat mulai menerima dan menyadari pentingnya menghapuskan sekat-sekat perbedaan antara laki-laki dan perempuan, sebab hanya menjadi hambatan dalam kehidupan.

“Laki-laki dan perempuan memiliki kemampuan sama dalam berbagai hal, sehingga terbentuknya konstruksi gender malah membuat batasan-batasan dalam berbagai ruang kehidupan. Karenanya, pemahaman masyarakat terkait laki-laki dan perempuan harus diubah agar lebih terbuka karena gender bukan sesuatu yang permanen dan tidak universal,” jelas Utamy.

Dalam hal skill, Utamy sendiri merupakan salah seorang wanita Sukabumi yang langka di bidang nya. Tidak mengherankan jika ia pernah menjadi narasumber dalam pelatihan rencana anggaran biaya (RAB) dan gambar teknik, serta menjadi ahli K3 dalam proyek pembangunan gedung Pemerintah Kabupaten Sukabumi.

“Itu capaian yang saya dapatkan dari hasil kerja keras selama menjadi dosen. Bukan saya berpuas diri, tapi harus terdorong untuk lebih berprestasi lagi,” harap wanita kelahiran Sukabumi pada 22 Oktober 1988 lalu ini.

Wanita untuk Sukabumi Lebih Baik

Menurut penyuka warna hitam, biru dan abu-abu ini, tingkat partisipasi perempuan dalam pembangunan saat ini masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki. Sayangnya, kata Utamy, konstruksi tersebut dibangun banyak kalangan hanya berdasarkan gender.

“Saya akui memang betul masih banyak yang berpikir, perempuan itu hanya bisa berpartisipasi dalam bentuk menyampaikan kritikan. Banyak wanita dianggap hanya boleh bekerja di balik meja. Masih juga banyak yang menilai tabu apabila seorang wanita bekerja di lapangan,” sesalnya.

Padahal, menurutnya, perempuan bisa menjadi aktor strategis di dalam pembangunan agar dapat mengubah kehidupan masyarakat, khususnya di Sukabumi agar lebih baik dan sejahtera.

Karenanya, Utamy berharap agar wanita Sukabumi yang memiliki skill sesuai bidangnya agar diberi kesempatan sama.

“Kepada para wanita yang memang memiliki skill dalam memajukan daerah, harus diberi kesempatan yang sama. Hilangkan istilah kesetaraan gender yang nantinya akan membuat kami (wanita) selalu dipandang sebelah mata,” pintanya.

“Seiring berkembangnya zaman, menurutnya, maka peran perempuan saat ini sudah harus setara dengan pria. Dengan skill yang dimilikinya, tidak sedikit perempuan terjun langsung ke lapangan, membantu mencari nafkah untuk menunjang kesejahteraan keluarganya,” ungkapnya.

Menyertakan perempuan dalam proses pembangunan, khususnya di Sukabumi, tidak berarti hanya sebagai sebuah sikap humanisme laki-laki belaka. Namun, peran perempuan dalam bidang pembangunan harus menjadi upaya bersama mengangkat harkat serta kualitas perempuan.

“Melibatkan perempuan dalam pembangunan merupakan kehormatan yang diberikan kepada kami, karena walau bagaimanapun kami telah diberi kesempatan berperan serta dalam pembangunan. Namun begitu, perempuan harus tetap menomorsatukan keluarga. Saya selalu mendisiplinkan diri sendiri agar pekerjaan tidak dibawa ke rumah, karena di rumah adalah waktu saya bersama keluarga” pungkas dia.

Berita Terkait

5 mitos terpopuler di Sukabumi, pedoman moral sekaligus identitas budaya
2 Oktober Hari Batik Nasional: Mengenal 7 sanggar batik di Sukabumi
5 foto hijab anggun Vanty Veronica, wanita Sukabumi di panggung film, model dan masterchef
Berapa lama simpan sisa makanan dalam kulkas tetap sehat dikonsumsi?
8 tren fesyen 2027: Genderless, sustainable fashion naik level hingga AI
Prabowo matangkan rencana pendidikan gratis dari PAUD/TK hingga kuliah
LPEM FEB UI: Mahasiswa sains, teknologi, teknik dan matematika kian sulit cari kerja
Innalillahi, Aries Budiman, artis dan drummer band Garasi asal Sukabumi meninggal dunia

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 06:44 WIB

5 mitos terpopuler di Sukabumi, pedoman moral sekaligus identitas budaya

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:47 WIB

2 Oktober Hari Batik Nasional: Mengenal 7 sanggar batik di Sukabumi

Selasa, 29 September 2026 - 03:07 WIB

5 foto hijab anggun Vanty Veronica, wanita Sukabumi di panggung film, model dan masterchef

Minggu, 27 September 2026 - 23:00 WIB

Berapa lama simpan sisa makanan dalam kulkas tetap sehat dikonsumsi?

Sabtu, 26 September 2026 - 10:00 WIB

8 tren fesyen 2027: Genderless, sustainable fashion naik level hingga AI

Berita Terbaru

Ilustrasi musim kemarau ekstrem - sukabumiheadline.com

Sains

Masa peralihan dan puncak musim hujan di Sukabumi

Sabtu, 3 Okt 2026 - 17:52 WIB

Ilustrasi pelaku UMKM sedang menjahit pakaian - sukabumiheadline.com

Jawa Barat

Sukabumi masuk Top 10 IID versi BSKDN

Sabtu, 3 Okt 2026 - 14:00 WIB