Ini 5 kecamatan setor pajak perusahaan tertinggi dan terendah di Kabupaten Sukabumi

- Redaksi

Jumat, 12 Juli 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi uang Rupiah pecahan 100.000 - Istimewa

Ilustrasi uang Rupiah pecahan 100.000 - Istimewa

sukabumiheadline.com – Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan.

Baca Juga: Awet, dalam 8 tahun jumlah penduduk miskin di Kabupaten Sukabumi hanya turun 1%

Meskipun demikian, mengutip dari laman resmi Kementerian Keuangan (Kemenkeu), pajak secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rekomendasi Redaksi: Membanding naik turun harta Bupati dan warga miskin Sukabumi 5 tahun terakhir

Dalam ulasan ini, yang dimaksud dengan perusahaan hanya dibatasi untuk pemegang Izin Pengusahaan Air Tanah atau IPAT, dan NPA atau Nilai Perolehan Air Tanah.

Data disajikan dalam ulasan ini, dikutip dari laman resmi Badan Pusat Statistik atau BPS 2024.

Baca Juga:

5 kecamatan di Sukabumi setor pajak perusahaan tertinggi, 2022 dan 2023

  1. Cicurug, 2022: 29 perusahaan, Rp69.030.198.760 – 2023: 30 perusahaan, Rp57.377.655.058
  2. Parungkuda, 2022: 27 perusahaan, Rp4.223.561.898 – 2023: 25 perusahaan, Rp1.526.027.236
  3. Sukalarang, 2022: 11 perusahaan, Rp3.277.018.582 – 2023: 10 perusahaan, Rp2.564.475.206
  4. Cidahu, 2022: 6 perusahaan, Rp2.218.092.704 – 2023: 7 perusahaan, Rp1.289.084.646
  5. Cikembar, 2022: 28 perusahaan, Rp1.687.249.057 – 2023: 31 perusahaan, Rp1.350.416.049

Baca Juga:

Berdasarkan data di atas, posisi Cidahu di posisi 4 pada 2023 digeser oleh Cikembar yang tahun sebelumnya menempati posisi 5. Sedangkan posisi Parungkuda di tempat kedua pada 2022, turun satu peringkat, dikudeta oleh Sukalarang yang sebelumnya menempati posisi ketiga.

Data di atas juga menunjukkan bahwa berkurangnya dua perusahaan di Parungkuda, dari 27 perusahaan pada 2022 menjadi hanya 25 pada 2023, membuat setoran pajak dari kecamatan ini anjlok, Rp4.223.561.898 (2022) menjadi Rp1.526.027.236 (2023).

Baca Juga:

5 kecamatan di Sukabumi setor pajak perusahaan terendah

2022:

  1. Lengkong: 1 perusahaan, setoran pajak Rp5.449.341
  2. Simpenan: 2 perusahaa, setoran pajak Rp17.440.080
  3. Warungkiara 2 perusahaan, setoran pajak Rp18.031.008
  4. Cicantayan 2 perusahaan, setoran pajak Rp26.632.805
  5. Bantargadung 2 perusahaan, setoran pajak Rp31.149.647

Baca Juga:

2023:

  1. Bantargadung: 1 perusahaan, Rp4.509.232
  2. Simpenan: 2 perusahaan, Rp13.398.640
  3. Warungkiara: 2 perusahaan Rp14.179.482
  4. Palabuhanratu: 3 perusahaan, Rp18.667.376
  5. Cicantayan: 2 perusahaan, Rp29.573.392

Data menarik untuk Kecamatan Bantargadung, menempati posisi 5 pada 2022 dengan Rp31.149.647, menjadi posisi 1 pada 2023 dengan setoran pajak hanya sebesar Rp4.509.232 saja.

Baca Juga:

Pajak dari Palabuhanratu

Untuk informasi, Palabuhanratu sebagai Ibu Kota Kabupaten Sukabumi, pada 2022 terdapat 3 perusahaan dengan setoran pajak sebesar Rp34.175.152. Angka tersebut turun pada 2023 menjadi hanya Rp18.667.376 saja.

Penurunan tersebut menempatkan Pelabuhanratu di posisi 4 dari 5 kecamatan dengan setoran pajak terendah pada 2023.

Baca Juga: 

Kecamatan tanpa data setoran pajak 

Diketahui pada 2022, sejumlah kecamatan tidak ada data setoran pajak perusahaan. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah Ciemas, Ciracap, Waluran, Surade, Cibitung, Jampang Kulon, Cimanggu, Kalibunder, Tegalbuleud, Cidolog, Sagaranten, Cidadap, Curugkembar, Pabuaran, Cisolok, Cikakak, Kadudampit, Caringin, dan Kabandungan.

Kemudian pada 2023, nama-nama kecamatan berikut tidak tersedia data jumlah perusahaan dan pajak yang dibayarkan, yakni Ciemas, Ciracap, Waluran, Surade, Cibitung, Jampang Kulon, Cimanggu, Kalibunder, dan Tegalbuleud.

Selanjutnya Kecamatan Cidolog, Sagaranten, Cidadap, Curugkembar, Pabuaran, Cisolok, Cikakak, Kadudampit, Caringin, dan Kabandungan. Sementara itu, di Lengkong terdapat 1 perusahaan, namun tanpa keterangan besaran pajak yang dibayarkan.

Untuk informasi, meskipun dalam Laporan Kabupaten Sukabumi Dalam Angka 2024, data setoran pajak untuk tahun 2023, disebut masih estimasi. Sedangkan pada 2022, adalah realisasi.

Berita Terkait

Desak inspektorat Riksus, BPD Sukamulya Sukabumi ungkap fakta aset desa dikuasai swasta
Aset Desa Sukamulya dikuasai swasta, ini janji DPMD Kabupaten Sukabumi ditagih BPD dan warga
Jeblok! Membanding realisasi investasi PMDN/PMA di Sukabumi 2025/2026
5 poin Deklarasi Kawasan Daulat Pangan di Jampang Tengah Sukabumi, integrasi basis perjuangan
Sukabumi masuk Top 10 kota/kabupaten paling rawan untuk ditinggali
Ini 10 kecamatan lumbung padi di Kabupaten Sukabumi, hampir 1 juta ton
WorldoMeters: 10 kecamatan di Sukabumi tidak ideal untuk ditinggali
A-Z PLTU Pelabuhan Ratu Sukabumi: Biaya pembangunan, kapasitas, operator hingga dampak

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Desak inspektorat Riksus, BPD Sukamulya Sukabumi ungkap fakta aset desa dikuasai swasta

Jumat, 23 Oktober 2026 - 06:29 WIB

Aset Desa Sukamulya dikuasai swasta, ini janji DPMD Kabupaten Sukabumi ditagih BPD dan warga

Rabu, 21 Oktober 2026 - 02:16 WIB

Jeblok! Membanding realisasi investasi PMDN/PMA di Sukabumi 2025/2026

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:00 WIB

5 poin Deklarasi Kawasan Daulat Pangan di Jampang Tengah Sukabumi, integrasi basis perjuangan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 03:25 WIB

Sukabumi masuk Top 10 kota/kabupaten paling rawan untuk ditinggali

Berita Terbaru

Animasi Pantomimes Lumineuses karya Charles - 
19th century illustration of a praxinoscope theatre. In 1876, Reynaud, a French inventor, created the Praxinoscope, an improvement of the Zoetrope. The Praxinoscope replaced the narrow viewing slits of the Zoetrope with an inner circle of 12 mirrors (equal to the number of images), allowing a clearer and less distorted view of the moving image. Several people could watch the performance at the same time. After Reynaud licensed his invention in 1877, it sold well in a number of the large Paris department stores.This improved version included a glass viewing screen which allowed the moving image to be superimposed over a changeable background. He continued to improve the design and in 1880 created the first projection version. The Projection Praxinoscope used a lantern to project the moving images onto a small screen, allowing a larger audience to view it.

Khazanah

28 Oktober: Hari penting di Indonesia dan dunia

Rabu, 28 Okt 2026 - 00:44 WIB

Kesehatan

Bunda, jangan matikan lampu kamar mandi! Simak 5 alasannya

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:26 WIB