Warga Sukabumi, Ini Alasan Jawa Barat Tak Miliki Candi Seperti di Jawa Tengah dan Timur

- Redaksi

Jumat, 1 September 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Situs megalitikum Gunung Padang, Kabupaten Cianjur. l Istimewa

Situs megalitikum Gunung Padang, Kabupaten Cianjur. l Istimewa

sukabumiheadline.com l Bagi warga Sukabumi, Jawa Barat yang hobi membaca cerita sejarah, mungkin pernah bertanya dalam hati, mengapa di Tatar Pasundan nyaris tidak ditemukan bangunan candi seperti halnya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Meskipun demikian, tidak pula tepat jika di Tatar Sunda disebut sama sekali tidak memiliki bangunan berupa candi. Hal itu terbukti dengan keberadaan Candi Cangkuang di Kabupaten Garut.

Padahal, sejumlah catatan sejarah menyebut jika peradaban Sunda sudah jauh lebih maju dibandingkan wilayah lainnya di Nusantara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keberadaan Situs Calobak di Kampung Calobak, Desa Tamansari, Kabupaten Bogor terdapat tiga situs, yakni Situs Eyang Esih, Eyang Tolok dan Eyang Raksabumi menunjukkan bahwa peradaban Sunda sudah ada sejak zaman megalitikum.

Ketiga situs tersebut diketahui sudah lebih dulu ada sebelum era Hindu, Budha dan Islam masuk ke tatar Sunda.

Adapun, terdapat kemiripan dari ketiga situs tersebut, yakni bentuknya yang relatif sederhana, di mana hanya berupa undakan dengan batu-batu yang disusun. Pun demikian dengan situs megalitikum Gunung Padang di Kabupaten Cianjur.

Lantas, mengapa di daerah Jawa Barat bangunan candi tidak begitu populer?

Sejarawan sekaligus Budayawan Sunda, Saleh Danasasmita menyebut hal itu dipengaruhi oleh kebudayaan dan cara bercocok tanam masyarakat Sunda yang berbeda dengan masyarakat Jawa.

Menurut Saleh, masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menanam padi di sawah. Sedangkan, masyarakat Sunda menggunakan sistem huma atau masyarakat berladang.

“Masyarakatnya berbeda sama sekali. Yang satu masyarakat ladang, yang satu masyarakat sawah,” tulis Saleh dalam buku Melacak Sejarah Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwangi.

Dalam buku diterbitkan Kiblat tersebut, Saleh memaparkan bahwa di Jateng dan Jatim masyarakat terkonsentrasi di suatu desa karena kebutuhan menggarap sawah. Sementara dalam sistem huma, masyarakat tinggal terpencar di ladang-ladang mereka yang letaknya agak berjauhan.

Selain itu, masyarakat Sunda juga menggunakan sistem ladang berpindah yang tidak membutuhkan bangunan besar dan megah.

Hal itu berbeda dengan masyarakat dengan budaya sawah, di mana petani bekerja sampai siang hari. Sementara di masyarakat huma, petani bekerja seharian dan baru pulang menjelang senja.

Karenanya, dalam masyarakat sawah, di mana warganya terkonsentrasi di suatu wilayah, memungkinkan para raja mengerahkan tenaga manusia untuk membangun candi-candi besar. Sebaliknya di tengah masyarakat huma yang tersebar, pengerahan manusia sulit dilakukan.

Orang Sunda Tidak Mengenal Pemujaan Makam Tapi Memiliki Banyak Kabuyutan

Masih dalam buku yang sama, Saleh menyebut bahwa masyarakat Sunda tidak mengenal pemujaan makam. Itu pula yang menyebabkan keberadaan makam-makam raja Pakuan Pajajaran pun tidak dibuat tanda-tanda khusus. Bahkan, sebagian besar tidak diketahui lokasi pastinya.

Terkait hal itu, Saleh mengambil contoh kebiasaan masyarakat Sunda Baduy yang mayoritas berada di Provinsi Banten.

Dalam budaya masyarakat Baduy, makam yang baru hanya ditandai dengan pohon hanjuang selama 40 hari. Setelah lewat masa itu, tanah tempat pemakaman sudah dianggap tanah biasa.

Namun menariknya, di Tatar Sunda berdiri banyak kabuyutan yang lebih tua dari pada bangunan candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Untuk informasi, istilah kabuyutan berasal dari kata ‘tabu’ atau terlarang. Artinya adalah tempat sakral yang hanya boleh dikunjungi oleh kepala kampung, resi, raja, atau orang-orang tertentu karena berkaitan dengan kegiatan religi pada masanya.

Menurut Profesor Jakob Sumardjo dalam buku Struktur Filosofis Artefak Sunda, kabuyutan dapat dikatakan bangunan megalitikum karena memang tersusun dari batu-batu besar.

Menurut Jakob, kabuyutan sudah ada semenjak pra-Hindu dan Budha atau lebih tua dari Kerajaan Tarumanagara atau Pakuan Pajajaran.

Karenanya, sangat mungkin ketiadaan bangunan candi di wilayah Jawa Barat karena budaya masyarakatnya sejak dulu lebih suka meniru kebiasaan para leluhurnya, yakni menyusun batu-batu seperti halnya di lokasi-lokasi kabuyutan ketimbang membangun candi.

Berita Terkait

Daftar Muslimah perawat korban perang, public health nurse dan social worker era Nabi SAW
Menelusuri silsilah KH Ahmad Sanusi: Dari Sukabumi ke Sunan Giri hingga Nabi SAW
Suami dipenjara, tiga madzhab melarang istri gugat cerai
Daftar prangko bertema Sukabumi, dari Geopark Ciletuh hingga KH Ahmad Sanusi
Masjid Al Munawaroh Kadudampit, mengintip detail bangunan bersejarah di Sukabumi
Kisah Umar bin Khattab pecat panglima perang Khalid bin Walid karena tak pernah salah
Tinjauan fiqih memungut uang untuk peringatan HUT RI setiap 17 Agustus
Mengenal penguasa Kesultanan Cirebon keturunan Prabu Siliwangi

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:15 WIB

Menelusuri silsilah KH Ahmad Sanusi: Dari Sukabumi ke Sunan Giri hingga Nabi SAW

Selasa, 18 Agustus 2026 - 00:38 WIB

Suami dipenjara, tiga madzhab melarang istri gugat cerai

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:52 WIB

Daftar prangko bertema Sukabumi, dari Geopark Ciletuh hingga KH Ahmad Sanusi

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Masjid Al Munawaroh Kadudampit, mengintip detail bangunan bersejarah di Sukabumi

Jumat, 14 Agustus 2026 - 01:35 WIB

Kisah Umar bin Khattab pecat panglima perang Khalid bin Walid karena tak pernah salah

Berita Terbaru

Skuad Persib Bandung 2026/2027 - Bandung Football

Olahraga

Ini 32 pemain Persib musim 2026/2027, Ramon Tanque dipinjamkan

Selasa, 25 Agu 2026 - 18:39 WIB

Tabrakan maut di Sukabumi - Ist

Sukabumi

Tabrakan maut Sukabumi: Imran Nasrullah tewas di tempat

Selasa, 25 Agu 2026 - 16:23 WIB

Suzuki e Sky - Suzuki

Otomotif

Suzuki e Sky: Si mungil irit dan efisien, cek harganya

Selasa, 25 Agu 2026 - 15:43 WIB