Menguak asal-usul tulisan Dewa Nagari India Kuno di Kalapanunggal Sukabumi

- Redaksi

Jumat, 24 Mei 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Batu bertulis di Kampung Batu Gajah, Desa Walangsari, Kecamatan Kalapanunggal, Sukabumi - Istimewa

Batu bertulis di Kampung Batu Gajah, Desa Walangsari, Kecamatan Kalapanunggal, Sukabumi - Istimewa

sukabumiheadline.com – Temuan batu tulis di Sungai Cipalasari, Desa Panyindangan, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sempat mengundang tanda tanya banyak kalangan. Hal itu karena penemuan batu bertulis tersebut bukan di lokasi cagar budaya seperti pada umumnya.

Penemuan tersebut diungkap oleh Dida Hudaya, Ketua Yayasan Jelajah Sejarah Soekaboemi pada Kamis (13/7/2023) lalu, di Kampung Batu Gajah, Desa Walangsari, Kecamatan Kalapanunggal. Bahkan, penemuan tersebut mengundang keingintahuan dari Balai Arkeologi Jabar.

Seperti nama kampungnya, penamaan Batu Gajah karena di lokasi banyak terdapat batu-batu berukuran besar dengan diameter dua hingga 5 meter.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kampung Batu Gajah dikenal memiliki spot di mana terdapat banyak batu berukuran besar - Istimewa
Kampung Batu Gajah dikenal memiliki spot di mana terdapat banyak batu berukuran besar – Istimewa

Berita Terkait: Batu Gajah, Kampung Unik dan Instagramable di Kalapanunggal Sukabumi

Dibuat tahun 1976

Belakangan diketahui jika batu bertulis tersebut dibuat oleh seorang guru sekolah dasar, bernama Kamaludin. Pria berusia 63 tahun ini membuat tulisan pada batu saat ia mengajar di SDN V Kalapanunggal.

Informasi diperoleh sukabumiheadline.com, Kamaludin beralasan jika hal itu dilakukan untuk tujuan mengenalkan dan mengajarkan bahasa Sansekerta kepada anak didiknya.

“Tulisan itu saya buat tahun 1976, bulan Mei. Semuanya ada enam batu yang saya ukir sebagai alat praktek untuk murid-murid. Kalau untuk ke museum kan jauh dan membutuhkan biaya yang besar apalagi kami ini dulu akses kendaraan cukup sulit,” jelas dia.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa jenis tulisan pada batu yang diukirnya itu, adalah huruf Dewa Nagari atau huruf India Kuno.

“Tujuannya agar murid-murid cepat paham dengan Bahasa Sansekerta,” kata dia.

Praktik menulis di atas permukaan batu itu, dilakukan Kamaludin dengan cara mengajak jalan-jalan 10 orang anak didiknya ke sungai.

“Kebetulan banyak anak didik saya yang rumahnya dekat dengan aliran sungai, maka saya memiliki ide untuk mengenalkan sekaligus mempraktikkan Bahasa Sansekerta dengan cara mengukir di atas batu,” ungkap Kamaludin.

Lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Kota Sukabumi pada 1970 itu menilai cara tersebut sangat efektif karena dengan begitu, anak didiknya menjadi cepat paham.

“Total ada enam batu yang saya ukir dengan huruf Dewa Nagari, keenamnya ada di daerah Panyidangan, Manglad, Nangka Koneng, Batu Gajah, Gunung Malang dan Cisaah. Bahkan di Batu Gajah selain bentuk huruf juga saya juga menggambar belalai gajah dan mata sehingga batu tersebut jadi serupa Gajah,” tambah Kamaludin.

IMG 20240523 233112
Kampung Batu Gajah dikenal memiliki spot di mana terdapat banyak batu berukuran besar – Istimewa

Lantas, bagaiman teknis Kamaludin menulis di atas permukaan batu?

Pria yang telah pensiun dari mengajar itu menjelaskan, selain dirinya yang memahat juga diikuti oleh murid-muridnya. Teknis pengerjaan menulis di atas permukaan batu, dimulai dengan cara menulis menggunakan kapur.

Selanjutnya, secara bergantian muridnya mengukir tulisan tersebut sehingga menyerupai benda cagar budaya batu tulis seperti yang terdapat di Batutulis, Kabupaten Bogor.

“Saya berharap ukiran huruf Dewa Nagari itu bisa bermanfaat dan yang saya tahu batu ini juga bukan batu zaman purbakala dan jika pemerintah setempat mau menjadikannya sebagai aset pariwisata, ya silakan saja,” kata dia.

Adapun, Kamaludin menjelaskan, arti dari tulisan yang diukirnya di batu tersebut yakni: aja jiwamah (hari ini kita hidup bersama), atra raksati (disini saling menjaga), ada pacatah (agar tidak jatuh), yada dawatha tada patatha (kapan kalian hilang/lari/mati), tatra tjarathah (maka kesana kalian berjalan) dan wayajanti (disana tempat keselamatan).

Berita Terkait

5 film keluarga yang menggambarkan rumah sebagai horor yang memuakkan
Tinjauan psikologi dan politik mengapa kritik ditanggapi dengan sindiran dan ejekan
Kentring Manik Mayang Sunda: Mengenal ibu dari Raja-raja Pajajaran
Seren Taun: Merawat tradisi 447 tahun ala Kasepuhan Ciptamulya
Tiga tren dan 10 model rambut pria Agustus: Klasik modern hingga pendek low maintenance
Benarkah keberadaan Nyi Roro Kidul diulas dalam AlQuran?
5 tren wisata Gen Z di Sukabumi, dari eksplorasi niche hingga eco tourism
20 universitas swasta terbaik di RI versi Uniranks 2026, almamater tokoh asal Sukabumi

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:55 WIB

5 film keluarga yang menggambarkan rumah sebagai horor yang memuakkan

Rabu, 15 Juli 2026 - 12:09 WIB

Tinjauan psikologi dan politik mengapa kritik ditanggapi dengan sindiran dan ejekan

Selasa, 14 Juli 2026 - 05:03 WIB

Kentring Manik Mayang Sunda: Mengenal ibu dari Raja-raja Pajajaran

Minggu, 12 Juli 2026 - 21:19 WIB

Seren Taun: Merawat tradisi 447 tahun ala Kasepuhan Ciptamulya

Minggu, 12 Juli 2026 - 15:20 WIB

Tiga tren dan 10 model rambut pria Agustus: Klasik modern hingga pendek low maintenance

Berita Terbaru

Ilustrasi aksi pengeroyokan oleh massa - sukabumiheadline.com

Sukabumi

Berawal dari rekaman CCTV, pria Sukabumi ini tewas dikeroyok

Rabu, 15 Jul 2026 - 18:18 WIB

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian - Ilustrasi sukabumiheadline.com

Nasional

Program KDMK kerjasama dengan UI agar kepala desa naik kelas

Rabu, 15 Jul 2026 - 02:25 WIB